Lombok Post
Metropolis

Tahun Depan, Beli Beras Pakai e-Voucer

beras-2
JUAL BELI : Seorang Ibu rumah tangga, tengah membeli beras di toko sembako, beberapa waktu lalu.

MATAR AM a�� Kota Mataram salah satu dari 10 kota di luar Pulau Jawa yang terpilih menjadi pilot project konversi bantuan beras raskin ke e-Voucer. Daerah lainnya antara lain, Denpasar, Medan, Padang, Batam, Pekan Baru,Jambi, Palembang, Badar Lampung, dan Makasar.

Di Mataram sendiri diperkirakan, sebanyak 31.120 KK akan mendapat e-Voucer yang dalam setiap bulan, akan terus diisi nilai belanja Rp 110 ribu, hanya untuk beli beras.

a�?Itu hasil pertemuan saat saya diundang oleh staf Kepresidenan beberapa waktu lalu,a�? ungkap Sekda Kota Mataram, Effendi Eko Saswito.

Dengan sistem ini, distribusi bantuan pada masyarakat miskin diharapkan tepat sasaran. Serta mengurangi praktik pemotongan dan bagi rata jatah beras miskin yang sebenarnya tidak boleh dilakukan. Seperti diketahui, bukan rahasia lagi, jatah beras yang harusnya diterima masyarakat miskin, justru dibagi-bagikan pada semua masyarakat.

Selain itu, dengan e-Voucer warga kurang mampu bebas membeli jenis beras yang diinginkan. Tidak lagi, menerima beras yang telah ditentukan, seperti mekanisme konvensional yang diterapkan Bulog saat ini. Bahkan, e-Voucer itu dalam setiap bulan secara akumulatif, terus tertransfer dana belanja Rp 110 ribu.

a�?Jadi kalau ada sisa belanja dari Rp 110 ribu itu, itu bisa jadi tabungan yang akan diakumulasi dengan transfer Rp 110 ribu di bulan selanjutnya,a�? tuturnya.

Program ini akan efektif mulai dilakukan pada tahun 2017. Untuk diketahui, jumlah kabupaten/kota di Indonesia yang menjadi pilot project sebanyak 44 daerah. 34 lainnya berada di Pulau Jawa. Terpilihnya Kota Mataram sebagai pilot project kata Eko, sebab kerap sukses sebagai daerah percontohan. Selain itu, infrastruktur juga dianggap cukup memadai menujang pelaksanaan program ini.

a�?Data jumlah penerima ada peningkatan dari 28.533 kk menjadi 31.120 KK, ini karena tidak seperti dulu sistem distribuinya berdasarkan rumah tangga sasaran, tapi kali ini adalah keluarga sasaran. Sebab bisa saja dalam satu rumah tangga terdiri atas dua sampai tiga keluarga,a�? ulasnya.

Angka 31.120 KK juga ditetapkan berdasarkan, presentase 25 persen masyarakat berpenghasilan rendah di suatu daerah. Berdasarkan data milik Badan Pusat Statistik (BPS).

a�?Memang akan ada persoalan yang muncul di sana, sebab sistem presentase ini sangat pasti. Sehingga, meski selisih pendapatan satu rupiah saja, jika ternyata ia berada di atas 25 persen berada di atas masyarakat berpenghasialan rendah, maka secara otomatis tidak akan dapat e-Voucer,a�? ungkap Eko.

Karena itu pemerintah kota, meminta waktu untuk melakukan verifikasi faktual data yang ada. Untuk memastikan pembagian e-Voucer tepat sasaran. Sebab bisa saja, lanjut Eko dari 31.120 KK itu ada keluarga yang sudah pindah, meninggal dan lain sebagainya, sehingga mempengaruhi koefisien pendapatan suatu keluarga.

A�a�?Tapi keuntungan bagi daerah, sistem ini akan memangkas beban dana distribusi selama ini, kita hanya dibebankan untuk sosialisasi tentang program ini saja,a�? tandasnya.(zad/r3)

Berita Lainnya

Uang Nomor Dua, Paling Penting Lingkungan Bebas Sampah

Redaksi LombokPost

Cabikan Distorsi Mohan Bikin Geger!

Redaksi LombokPost

Setengah Hati Urusi Bisnis “Nakal”

Redaksi LombokPost

Bangunan Tua Itu Perlu Direnovasi

Redaksi Lombok Post

Gempa Lagi, Panik Lagi

Redaksi Lombok Post

Pintu Beasiswa Eropa Terbuka Lebar untuk Pelajar NTB

Redaksi Lombok Post

Gempa Lagi, Lombok Belum Stabil

Redaksi Lombok Post

Akhirnya, Revisi Perda RTRW Sah!

Redaksi Lombok Post

Dompet PNS Makin Tebal, Pemkot Siapkan Rp 363 Miliar

Redaksi Lombok Post