Lombok Post
Giri Menang

Bibit Sapi Sumbawa Belum Boleh Masuk Lobar

DEMO : Massa GMAK saat berdialog dengan Kasi Intel kejaksaan Negeri Sumbawa Erwin Indrapraja, kemarin.

GIRI MENANG – Sapi dari Pulau Sumbawa masih belum bisa masuk Lombok Barat (Lobar). Alasannya, Sumbawa belum bebas penyakit SE atau sapi ngorok sejak tahun 1980. Hal itu dikatakan Kepala Dinas Pertanian, Peternakan dan Perkebunan Lobar Chairul Bahtiar.

“Kalau bibit sapi tidak boleh, dan tidak pernah ada, lantaran kawasan Sumbawa belum bebas dari penyakit antrax,” kata Bahtiar kepada Lombok Post kemarin (18/9).

Senada dengan Bahtiar, Plh Kadis Peternakan NTB Erwin Kusbianto menegaskan kebijakan pelarangan bibit sapi masuk Lombok itu juga mengacu pada ketentuan pasal 41 A dan 41 B Undang-undang nomor 41 tahun 2014. Dikatakan, proses pembebasan satu daerah dari penyakit sangat panjang. Bahkan melalui vaksinasi masal selama tiga tahun.

Pihaknya cenderung tidak ingin mengambil risiko dengan membiarkan bibit sapi dari Sumbawa masuk Lombok.

a�?Sumbawa itu daerah yang belum bebas penyakis SE sapi ngorok sehingga sangat berisiko masuk Lombok. Larangan itu sejak lama diberlakukan mengacu pada undang-undang nomor 41 tahun 2014,a�? papar Erwin.

Dia menjelaskan penyakit itu tidak terlihat meskipun melalui test. Hanya saja, penyakit itu akan muncul begitu sapi dalam kondisi stres dan penularannya bisa cepat. Pada dasarnya, kata Erwin pengeluaran izin untuk bibit itu tidak boleh dilakukan kecuali daerah tujuan ke luar NTB.

a�?Dalam pasal 41 A tersebut jelas dinyatakan jika pemerintah daerah berwenang melakukan pencegahan terhadap masuknya hewan ternak dari daerah tertular ke daerah bebas. Tentu kami tidak ingin mengambil risiko mana melanggar undang-undang, termasuk membahayakan hewan ternak di Lombok,a�? tegas dia

Sebelumnya, sebanyak 23 bibit sapi yang diperuntukkan masyarakat Lembar dan Sekotong Lombok Barat tertahan di Bima. Seorang pengusaha H Ahmad mengatakan bibit sapi itu tidak boleh masuk Pulau Lombok meskipun sudah mengantongi surat terutama surat keterangan kesehatan hewan.

Sedianya 23 bibit sapi itu akan diserahkan kepada dua kelompok peternak di Lobar. Bahkan, sapi-sapi itu pun sudah melalui test kesehatan di Balai Karantina Pelabuhan Badas. Namun, hingga kini belum dapat masuk wilayah Lombok.

Menurut dia, salah satu kendalanya adalah belum memperoleh rekomendasi dari Dinas Peternakan NTB. Justru pihaknya mendapat jawaban menyangkut keberadaan undang-undang nomor 41 tahun 2014 tentang peternakan dan kesehatan hewan.

a�?Tapi kalau mengacu pada undang-undang tesebut mengapa pengiriman bibit sapi dari Pulau Sumbawa ke Kalimantan boleh,a�? ujar ketua DPP Lembaga Pemantau Kebijakan Publik (LPKP) itu.

Lagipula, kata Ahmad tidak sedikit modal yang dikeluarkan untuk pengadaan bibit sapi itu. Setidaknya, pihaknya sudah menghabiskan Rp145 juta baik pembelian bibit sapi maupun pengurusan izin.

a�?Ini justru merugikan masyarakat, di satu sisi pengusaha rugi begitu juga kelompok peternaknya,a�? tegas dia. (tan/r3)

Berita Lainnya

PJU di PLTU Jeranjang Segera Dibangun

Redaksi LombokPost

Pemancing Diduga Hanyut di Perairan Labuan Poh

Redaksi LombokPost

Sinyal Mutasi Makin Menguat

Redaksi LombokPost

Sekolah Terdampak Gempa Belum Diperhatikan

Redaksi LombokPost

Korban Gempa Butuh Lebih Banyak Huntara

Redaksi LombokPost

HUT SMAN 1 Gerung Meriah

Redaksi LombokPost

Pariwisata Senggigi Diyakini Pulih Lebih Cepat

Redaksi LombokPost

9.345 Orang Tertahan di Pengungsian

Redaksi LombokPost

Bupati Bela PT Tripat

Redaksi LombokPost