Lombok Post
Metropolis

Ini Perbedaan Wayang Sasak, Bali dan Jawa

nasib
HL NASIB AR

Ada perbedaan mendasar antara wayang Sasak, Bali dan Jawa. Perbedaan ini lantas menjadi filosofi dan nilai yang tidak boleh diutak-atik, bahkan a�?harama�� untuk diubah oleh dalang manapun!

A�***

MALAM kian larut. Udara semakin dingin. Tetapi, suara Nasib yang serak, berat dan kadang meledak-ledak, membuat suasana makin seru.A� Sesekali, lelucon a�?nakala�� ala panakawan pewayangan meluncur tiba-tiba, mengundang gelak tawa semua yang hadir.

a�?Wayang Sasak, Bali dan Jawa itu berbeda,a�? kata Nasib.

Kekuatan wayang Sasak ada pada seni ripta dan pahatan atau tatahan wayang. Sementara, Jawa dan Bali itu ditonton dari dalam. Karena itu, kekuatan cat-cat air menjadi syarat untuk membuat tampilan menjadi menari.

a�?Kalau kita, tidak tonton cat tetapi bayangannya, jadi tidak perlu warna yang kuat,a�? imbuh dia.

Karena itulah, wayang Sasak harus punya penyinaran yang baik sehingga orang yang menonton dari balik kelir (layar) bisa melihat detail-detail dari pahatannya. Konon detail dari pahatan-pahatan yang ada pada wayang Sasak juga punya makna filosofi sendiri yang butuh tulisan tak kalah panjang untuk menjabarkannya.

a�?Itulah kekuatan wayang Sasak. Dari seni riptanya, orang sudah bisa merasakan aura dan karakter dari wayang itu sendiri,a�? ulasnya.

Tingginya nilai sastra dan filosofi yang dikandung dalam seni ripta wayang Sasak adalah bagian dari nilai-nilai yang tidak boleh diubah dan harus dipertahankan. Berbeda dengan, kreasi dalam tampilan yang boleh saja dimodifikasi selama, tidak menghilangkan esensi dari cerita yang akan dibawakan.

Perbedaan mendasar antara wayang Sasak, Bali dan Jawa juga dipertegas dengan hasil simposium menurut profesor Purbocoroko. Salah satu sastrawan dan akademisi asal Jogjakarta.

a�?Menurut beliau, wayang Jawa itu dulu adalah mainan raja-raja,A� karena itu ditonton dari dalam,a�? kutipnya.

Karena ditonton dari dalam maka, tampilan di dalam dibuat semenarik mungkin. Dalam harus dilengkapi dengan pakaian Jawa lengkap dengan kerisnya. Lalu pesinden berparas cantik yang menyenangkan hati para penonton. Termasuk para pemain gamelan yang harus berpakaian adat rapi dan sopan.

Berbeda halnya dengan wayang Sasak yang ditonton dari balik layar yang tidak terlalu mempermasalahkan penampilan dalang dan para sekahe (tim gamelan).

a�?Kita mau pakai baju oblong hingga, buka baju juga tidak masalah karena yang penting adalah cerita yang bisa dinimati para penonton dari balik layar,a�? kelakarnya.

Sementarawayang Bali, kerap dimainkan untuk upacara sakral. Terutama setelah upacara ngaben (kramasi atau pembakaran jenazah), ngeroras (penghormatan pada leluhur) baru pertunjukan wayang. Sebab kata Nasib, menurut kepercayaan Hindu, di saat itulah dalang memohonA� kepada Sang Hyang Maha Agung, mengantarkan roh yang meninggal itu ke Suarga Loka (Surga).

a�?Wayang Bali dan Jawa khas dengan cerita agama Hindu. Kisahnya pun seputar Mahabarata dan Ramayana,a�? ungkapnya.

Sementara Wayang Sasak, diawali dari runtuhnya kerajaan Majapahit. Lalu muncul berkembang kerajaan Islam. Salah satunya Kerajaan Demak. Alkisah, di Demak banyak wali-wali yang bertugas menyebarkan agama Islam.

a�?Nah salah satu wali saat itu memerintahkan muridnya untuk menyebarkan agama Islam ke Lombok, melalui seni pertunjukan wayang,a�? ulasnya.

Dari sejumlah literatur yang ada, agama Islam masuk ke Pulau Lombok diperkirakan sekitar abad ke 16. Dibawa Sunan Prapen, putra dari Sunan Giri. Sedangkan Sunan Giri dikenal sebagai penggubah wayang gedog. Dia dan Pengeran Trenggono (Sunan Kudus) lalu membuat wayang a�?Kidang Kencanaa�? pada tahun 1477. Sehingga diperkirakan dibawa Sunan Prapen ke Lombok.

Ada juga sumber lain yang menyebut, wayang Lombok, dibuat pertama kali oleh Pangeran Sangupati yaitu seorang Muballig Islam di Lombok.

a�?Jadi pesannya sang guru pada muridnya, kamu tidak usah-usah dor to dor. Cukup tancapkan kelir, gending, suling, nah disitulah ajaran Islam disebarkan,a�? jelas Nasib tentang kisah awal musal wayang kulit mulai masuk ke Lombok.

Menariknya, karena wayang Sasak adalah wayang yang membawa misi dakwah maka ceritanya, berbeda dengan Bali dan Jawa. Cerita yang dibawa pun lebih pada kisah-kisah Islami. Dikutip dari hikayat Amir Hamzah lalu disadur dalam bahasa Jawa kuno.

a�?Oleh pujangga Mataram Islam bernama Yosodipuro II ke dalam bahasa Kawi atau Jawi, Itulah yang menjadi babon atau cerita wayang Sasak yang namanya, serat menak,a�? terang Nasib. (L.M.ZAENUDIN/Lobar/r3)

Berita Lainnya

Tolong, Jangan Masuk Angin!

Redaksi LombokPost

Volume Monumen Tak Sesuai Kontrak, Rekanan Didenda Rp 1,2 Juta Perhari

Redaksi LombokPost

Baginya, yang Penting Jangan Mengemis!

Redaksi LombokPost

Ibu Kota kok Kotor?

Redaksi LombokPost

Pemkot Optimis Semua Formasi Terisi

Redaksi LombokPost

Lahan Belum Beres, Pemkot Usulkan Rusunawa Nelayan

Redaksi LombokPost

Bukan Gertak Sambal! Ormas Ancam Turun Tertibkan Tempat Maksiat

Redaksi LombokPost

Lima Spa Abal-Abal Ditertibkan

Redaksi Lombok Post

Bunuh Diri kok Hobi

Redaksi Lombok Post