Lombok Post
Headline Sportivo

Ayah Kiper Juventus Soroti Sepakbola NTB

MATARAM – Sepakbola NTB belum menunjukkan taringnya. Hingga kini, perkembangan sepakbola daerah pimpinan TGH Zainul Majdi masih stagnan.

Tak ada satupun tim yang mampu menembus hingga level nasional. Ayah kiper Juventus Emil Audero, Edi Mulyadi menilai sistem sepakbola di NTB ini masih jauh dari harapan. Ia melihat sistem sepakbola di NTB ini masih kental dengan nuansa politisnya.

a�?Sistem sepakbola di NTB ini perlu perbaikan,a�? kata Edi kepada Lombok Post, kemarin (18/9).

Menurutnya, skill dan kemampuan pemain NTB tak jauh berbeda dengan para pemain profesional di negara lain. Hanya saja, para pemain ini terkendala sistem. Baik itu dari tingkat pusat hingga daerah.

Ia menilai, sekolah sepakbola kerap dijadikan A�wadah bisnis. Bukan murni untuk pembinaan pemain.

a�?Banyak yang terjadi seperti itu. Tapi tidak perlulah diberitahukan,a�? ungkapnya.

Padahal, lanjutnya, jika pemain yang belajar di sekolah bola itu dilatih dengan baik. Tentu, kedepan NTB akan memiliki banyak pemain yang bertalenta.

Tak hanya itu, SSB di NTB ini juga tidak menanamkan disiplin kepada para pemain. Padahal hal itu yang menjadi dasar untuk menjadi pemain sepakbola.

a�?Di sini disiplin tidak diperhatikan,a�? ucapnya.

Saat ini kepengurusan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) di NTB juga masih carut-marut. Mereka saling sikut dengan anggotanya sendiri.

Beranjak dari permasalahan itu, kata dia, terlihat jelas jika politik telah menunggangi organisasi sepakbola. Mereka memiliki kepentingan untuk masuk ke dalam organisasi tersebut.

a�?Jika memang mereka memiliki jiwa untuk memajukan sepakbola, tentu hal itu tidak akan mungkin terjadi,a�? ungkapnya.

a�?Sistem itu yang seharusnya dibenahi,a�? tegas ayah Emil Audero.

Lain halnya seperti di Italia. SSB yang ada di desa dirangkul semua. Seluruh SSB yang ada ditingkat desa dipertandingkan secara berkesinambungan.

Mereka dibina dengan penuh rasa tanggung jawab. Pemain tidak hanya diajarkan cara menendang bola saja. Melainkan, juga diajarkan disiplin dalam kehidupan sehari-hari.

a�?Pelatih sangat menanamkan jiwa disiplin,a�? ungkapnya.

Anak-anak yang masuk dalam SSB itu, diajarkan cara hidup mandiri dan bertanggungjawab atas kepribadiannya.

a�?Usia tiga tahun saja mereka sudah bisa mengenakan baju sendiri, memasang sepatu sendiri, dan mandi sendiri,a�? ungkapnya.

Contohnya saja anaknya, Emil Audero Mulyadi yang saat ini menjadi kiper ketiga Juventus. Emil dimasukkan di salah satu SSB di desa Cumiana Kota Torino. Meskipun SSB dari desa, dia mampu membuktikan bisa sukses bermain bola.

Saat ini anak keduanya itu bisa menjadi kiper ketiga Juventus dan masuk dalam skuad timnas italia. A�a�?Itu bisa dijadikan sebagai contoh bagi SSB di NTB,a�? ucapnya. (arl/r10)

Berita Lainnya

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost

Pak Jokowi, Bebaskan Baiq Nuril!

Redaksi Lombok Post

Penangan Pascagempa Lamban

Redaksi LombokPost

SMPN 3 Jonggat Terapkan Pembelajaran Berbasis Siswa

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Siapkan Nikah Massal Gratis

Redaksi LombokPost