Lombok Post
Sudut Pandang

Mengefektifkan Gerakan Mahasiswa NTB

TAHUN ajaran baru yang belum lama berlangsung, telah menjadikan kampus sebagai rumah baru bagi mahasiswa baru. Tidak sedikit dari mereka (mahasiswa baru) berniat menjadi aktivis kampus, sebagai bagian dari kegiatan ekstraperkuliahan yang wajib diikutinya.

Tulisan ini dapat menjadi referensi awal bagi mahasiswa baru dan juga mahasiswa lama yang telah memilih aktivitas tambahan di luar jam kuliah, atau bagi siapa saja mahasiswa yang ingin menyalurkan aspirasi dan idealisme.

Mahasiswa adalah salah satu elemen penting bagi masa depan bangsa karena kepada merekalah masa depan bangsa ini akan diserahkan. Oleh karena itu, potret bangsa dan daerah ke depan tergambar dari karakter dan performance para aktivis mahasiswa hari ini.

Pada umumnya, karakter aksi mahasiswa di NTB tidak berbeda dengan corak pergerakan di wilayah Indonesia lainnya. Namun dalam batas-batas tertentu, performance aksi mahasiswa di NTB memiliki perbedaan dengan daerah lain. Aksi-aksi para aktivis (terutama mahasiswa) di NTB berbeda dengan mahasiswa Makassar dan Medan yang dikenal dengan aksi-aksi anarkisnya. Corak dan gerakan santun seperti ini harus dipertahankan agar dapat menjadi citra gerakan yang baik bagi mahasiswa di NTB.

Persepsi dan label seperti ini antara lain akan mempengaruhi masa depan para mahasiswa itu sendiri. Perusahan-perusahan besar di Jakarta dan pada kota besar lainnya di Indonesia sangat selektif dengan pelamar yang berasal dari alumni Perguruan Tinggi yang memiliki sejarah gerakan anarkis.

Meskipun secara nasional, citra pergerakan dan aksi para aktivis/mahasiswa NTB dinilai tidak anarkis (bila dibandingkan dengan Makassar atau Medan), namun di tingkal lokal (NTB), persepsi masyarakat terhadap aksi para mahasiswa masih belum bergeser ke titik yang lebih baik. Masih ada masyarakat NTB yang mengidentikkan mahasiswa dengan demonstrasi anarkis, mengganggu ketertiban umum.

Pandangan dan persepsi seperti ini tentu saja tidak menguntungkan bagi eksistensi pergerakan mahasiswa di NTB. Pandangan dan persepsi akan terus terkonfirmasi dengan performance yang ditampilkan oleh mahasiswa dan aktivis ke depan. Bila aksi yang dilakukan memang terus menunjukkan ke arah yang anarkis, maka akan semakin menjustifikasi tuduhan mereka. Tetapi bila para aktivis dapat memenej aksinya secara konstruktif, maka anggapan tersebut dapat terbantahkan.

Dalam konteks inilah pentingnya mereformulasi strategi dan metode gerakan agar lebih konstruktif, kontributif dan dirasakan manfaatnya bagi masyarakat (bukan malah mengganggu ketertiban umum, menghalangi akses publik, apalagi merusak fasilitas publik dan aset daerah.

Ingat bahwa suatu gerakan yang dihajatkan untuk menegakkan kebenaran tetapi bila dilakukan dengan cara (metode) yang tidak baik pasti akan dinilai negatif oleh publik. Artinya esensi pergerakan akan tereduksi oleh pilihan metode gerakan yang tidak populis.

Oleh karena itu, mereformulasi strategi gerakan menjadi keharusan, bila ingin tetap menjaga pergerakan pada jalur yang benar. Paling tidak ada tiga hal yang mesti dilakukan untuk mengisi upaya reformulasi gerakan mahasiswa.

Pertama, menjaga konten atau (isu) yang diusung. Acap kali terlihat isu dan konten aksi yang diusung mahasiswa di NTB masih didominasi oleh isu-isu nasional, sementara persoalan yang murni menjadi permasalahan lokal tidak banyak disuarakan.

Memang tidak ada yang salah dengan menjadikan isu nasional sebagai konten gerakan, apalagi isu tersebut juga terkait dengan kepentingan lokal. Namun akan lebih baik bila diimbangi (bahkan lebih bagus bila didominasi) dengan isu atau persoalan lokal yang bersentuhan langsung dengan praktek penyimpangan oleh elit lokal, atau kasus-kasus yang merugikan komunitas lokal.

Kedua, memperbaiki metode aksi.A� Idealnya, suatu gerakan atau aksi yang dilakukan harus berbasis riset/kajian/analisis/survey agar pergerakan memiliki roh sebagai inspirasi aksi. Di samping itu, setiap aksi yang berbasis kajian akan memperkuat dasar pijakan (alasan) pergerakan sehingga aksi tidak diklaim asal bunyi.

Tradisi ini tidak hanya memberi legitimasi sosial dan akademik terhadap gerakan, tetapi juga dapat dijadikan sebagai momentum bagi para aktivis untuk melakukan aktivitas ilmiah, di mana gelanggang aktivis dan pergerakan dapat diwujudkan sebagai kampus kedua bagi mahasiswa. Hal ini sekaligus akan menghilangkan kesan yang mengidentikkan dengan demonstrasi.

Masih terkait dengan metode aksi, menurut saya para aktivis harus dapat mengkombinasikan antara aksi-aksi yang bersifat fisik seperti pengarahan massa dengan cara tertib (tidak anarkis) dengan gerakan/aksi psikis atau intelektual (dialog-dialog yang berbasis data dan hasil kajian). Cara-cara pengerahan massa sebagai bentuk show of force (sepanjang tidak anarkis) dalam konteks tertentu masih diperlukan terutama untuk melawan rezim yang tidak sensitif dengan tuntutan dan nasib rakyat. Banyak kasus dan persoalan baru diselesaikan oleh penguasa ketika diberi pressure.

Jadi dua panggung aksi harus serentak dilakukan. Panggung depan (front stage) dapat dijadikan sebagai alat penekan (tanpa anarkis), dan panggung belakang (back stage) sebagai forum dialog dengan mengajukan argumentasi-argumentasi yang kuat atas hasil kajian.

Ketiga, memenej dan mengkonsolidasi gerakan yang lebih efektif. Langkah ini penting untuk memperkuat barisan pergerakan mahasiswa. Salah satu syaratnya adalah setiap kelompok dan simpul pergerakan harus solid dan koordinatif. Komunikasi harus terus dilakukan, diskusi mesti terus digalakkan.

Tidak boleh satu kelompok merasa hebat dari yang lainnya. Semua simpul gerakan harus menjadikan isu bersama sebagai basis gerakan untuk mereduksi kepentingan-kepentingan kelompok dan menghindari politisasi gerakan. Optimalisasi koordinasi dan konsolidasi gerakan juga untuk menghindari parsialisasi gerakan yang berujung pada perpecahan komunitas mahasiswa dan gagalnya target gerakan yang dilakukan.

Perpecahan gerakan mahasiswa sangat rentan dimasuki kepentingan-kepentingan yang lebih pragmatis dari penguasa, baik di internal kampus, maupun di luar kampus. Mahasiswa harus mampu melawan setiap upaya pelemahan gerakan dan perjuangannya, baik itu dilakukan oleh oknum mahasiswa (aktivis) sendiri maupun oleh pihak nonmahasiswa yang tidak ingin melihat kesolidan gerakan idealis dari calon pemimpin masa depan. (r8)

Berita Lainnya

Sudah Ikhlaskah Nonpribumi Berindonesia?

Redaksi Lombok Post

Universitas Islam Negeri (UIN) dan Spirit a�?DNAa�? Baru

Redaksi Lombok Post

Selamat Jalan Pengawal Budaya Mbojo

Redaksi Lombok post

Melawan Musuh Bangsa

Redaksi Lombok post

Media Sosial dan Ruang Publik

Redaksi Lombok post

Makna Simbolik Kunjungan Raja Salman

Redaksi Lombok post

Pendidikan Nirkekerasan

Redaksi Lombok post

Kasih Sayang yang Tidak Mengenal Hari

Redaksi Lombok post

Habib Rizieq: Antara Benci dan Rindu

Redaksi Lombok post