Perspektif

Mengobok-obok Air

a�?Ini lho embera��. Ini lho kerana�� Ini lho aira��. Nah baru tahu yaa��?
Diobok-obok airnya diobok-obok. Ada ikannya kecil-kecil pada mabok. Disemprot-semprot airnya disemprot-semprot. Kena mukaku aku jadi mandi lagi. Dingin-dingin dimandii, nanti masuk angina�?

***

MASIH ingat lirik lagu di atas? Judulnya Air. Dipopulerkan Joshua Suherman pada tahun 1996. Saya masih ingat, masih hafal lirik dan nada menyanyikannya. Masih lekat wajah penyanyi, peristiwa yang ditampilkan dalam video klip tersebut.

Bermain di kolam. Lari menyemprot air.A� Pada eranya lagu ini termasuk yang hits. Diputar berulang-ulang dalam acara tralala-trilili, panggung hiburan, singkatnya tayangan yang dikhususkan untuk anak-anak di stasiun televisi swasta.

Dan kini. Dua puluh tahun sudah sejak lagu itu mulai tak sering dinyanyikan. Omong-omong soal lagu, sering pula kita dengar beberapa lirik lagu daerah yang menggambarkan kondisi paceklik, kemarau, salah satunya dalam lirik lagu a�?Gugur Mayanga�?.

Ketika lagu itu dinyanyikan oleh orang-orang tua kita dulu, rasanya getir. Terbayang panas matahari, paceklik. Lagu Joshua menghibur, tapi kita tidak lari dari kondisi.

Jika pengalaman Joshua saat itu hanya dapat kita nikmati di layar kaca, dalam keseharian pada masa kanak-kanak kala itu, kami menyanyikan lagu yang sama tapi bermain di sungai, di sawah. Mengobok-obok air, lumpur, dan tak pernah takut masuk angin.

Bahkan ketika musim kemarau tiba, kami melewati masa kanak-kanak di desa, kami masih tetap bermain, gembira sesekali di siang hari terasa menyengat, dan kita perhatikan ranting-ranting pepohonan tanpa daun seolah menengadah ke langit; memohon hujan turun di bumi kami.

Sampai tiba kami meninggalkan kampung halaman untuk belajar ke daerah yang lebih a�?basaha�? di kota. Bahkan ketika teman-teman kuliah berkunjung ke rumah, mereka memberi penanda; ketika mereka mulai melihat hamparan tanah sawah yang tersenyum ramah (retak-retak karena panas) itu artinya mereka sudah tiba di wilayah selatan Lombok Tengah.

Kini setelah berpuluh tahun berlalu, di media kita masih membaca headline dan isi berita tentang krisis air bersih melanda beberapa wilayah di Pulau Lombok. Ribuan hektare lahan khususnya wilayah Lombok Selatan mengalami kekeringan.

Foto ditampilkan, memperlihatkan kondisi masyarakat yang mengangkut air berkilo meter dari tempat tinggalnya. Hampir rata-rata kita mengatakan ini musibah, ujian dari Tuhan. Saya tak ingin mendebat pendapat demikian. Tapi juga tak ingin mengabaikan pendapat dan suara lain yang mengatakan; kita sudah salah urus lingkungan.

Lima tahun lalu, pernah kami menanam pohon beringin di halaman rumah. Bukan tanpa tantangan. Setiap orang yang lewat di depan rumah, berkomentar atau sekedar bertanya: mengapa menanam beringin? Bukankah beringin identik dengan rumah jin, hantu, bakeq beraq dan berbagai nama mahluk a�?halusa�?.

Menanggapi itu semua, kami hanya tersenyum, dan menanggapi sekenanya; selain manusia membangun rumahnya, perlu juga mereka membangun rumah untuk yang lain. Bagi yang serius ingin mengetahui, kami sampaikan bahwa kami perlukan banyak pohon di rumah, termasuk beringin sebagai penyerap dan penyimpan air, sebab kami hendak membangun sumur di belakang rumah, dan banyak lagi manfaat dari adanya pohon yang kita sudah tahu semua.

Alasan berbasis kebutuhan adanya sumur itu penting, karena menunggu perpipaan dari Perusahaan Daerah Air Minum untuk memenuhi dan banyak lagi manfaat lainnya kebutuhan air bersih nampaknya masih jauh dari harapan saat ini. dan terbukti memang dari antrian pendaftar sejak tahun 2012 sampai saat ini belum ada tanda-tanda pipa akan terpasang.

Kita pernah mendengar, berpuluh tahun lalu, selain minyak bumi akan datang masa bahwa air bersih akan menjadi barang yang mahal dan langka, mengalahkan harga BBM. Kabar itu sudah lama, sama lama sejak kita menyadari di rumah sudah tersedia air kemasan bergalon-galon, berdus-dus.

Untuk acara gawe adat, roah, ketergantungan kita pada air kemasan sudah sedemikian terlihat. Untuk satu acara gawe, kelompok zikir tingkat RT, minimal tuan rumah menyediakan 2 dus air mineral kemasan. Harganya variatif berkisar di atas Rp.14.000 per dus, tergantung merek.

Bahkan tak hanya air mineral kemasan, untuk minum. Dalam kondisi musim kemarau, di beberapa wilayah dalam beberapa tahun belakangan kebutuhan air untuk menyiram tanaman, memenuhi bak-bak penampungan untuk kebutuhan rumah tangga, masyarakat kini sudah membelinya.

Sebagian lagi, merupakan bantuan yang diberikan pemerintah berupa ribuan liter air yang diangkut bertangki-tangki. Sebab kemarau adalah bencana. Apalagi setelah ada badan otoritas khusus yang menangani kebencanaan, makin terasa ada fungsi mereka bekerja.

Soal kekeringan yang terjadi di sebagian besar wilayah NTB, sudah menjadi isu nasional. Ada yang masih merasa heran, padahal beberapa minggu belakangan hujan sudah mulai turun. Tapi masih ada yang mengalami krisis air bersih?

Kekurangan air bersih, khususnya di beberapa wilayah Lombok bagian Selatan, di Desa Bilelando dan Kidang Kabupaten Lombok Tengah, pada musim hujan dan kemarau memuncak, air bersih menjadi sesuatu yang langka. Di dusun Pasung, pada musim kemarau, sumur-sumur kering. Pada musim hujan memuncak, terjadi banjir, sumur-sumur penuh tapi airnya tidak bersih.

Jadi tak perlu heran juga, meski hujan lebat turun di bagian Utara, sungai-sungai mengalirkan air bercampur sampah, maka saudara kita di Selatan mereka mengalami krisis air bersih.

Kondisinya tentu tak separah pada musim kemarau, yang jangankan untuk menyiram tanaman pertanian, untuk mencukupi kebutuhan air bersih keluarga hal ini masih sulit terpenuhi.

Pada kondisi tersebut, biasanya penggalian masalah, rancangan kegiatan program, antisipasi dampak, akan segera menjadi isu mendesak dalam agenda-agenda rutin, di meja-meja birokrasi. Merencanakan pembangunan sumur bor, rencana pembuatan bak penampungan air, mensosialisasi rancana besar pembangunan DAM, bendungan, terasa mendesak, dan harus segera terrealisasi.

Pembangunan infrastruktur ini dan itu, seolah menjadi mantra ampuh guna penyelesaian masalah. Meski pada mulanya kita bersepakat pembangunan fisik bukanlah sekedar, kun fayakun!! Atau Sim Salabim!!

Ada proses dan tahapan yang mesti dilalui. Ada harapan berpuluh ribu orang, lahan yang sering dijadikan objek, sasaran dari penerima manfaat. Maka, krisis air bersih, setiap tahun terasa berbanding lurus dengan banjir harapan setiap orang untuk memperolehnya.

Tapi apalah arti semua itu? kita tengah menyediakan wadah besar tapi isi dan kemauan untuk menjaga serta mengelola secara berkelanjutan seolah sering diabaikan. Membangun sumur bor, tak sebanding dengan membangun mental menjaga mesin pompa dan perpipaan. Membangun bendungan tak berimbang dengan upaya menanam dan merawat pepohonan.

Kita berharap berkah dari hujan yang turun dari langit, tapi belum berhasil menggali akar berkah dari apa yang sudah tersedia di bumi. Yang masih bisa diperbaharui. Jangan ragu bertanam pohon,A� apa saja, bahkan pohon yang konon dikatakan sebagai tempat tinggal jin, bukankah selain manusia, Jin juga perlu tempat tinggal agar ia tak berkeliaran mengganggu manusia? Syukur-syukur jika yang diganggu adalah para perusak hutan. (r8)

Related posts

Catatan Ramadan

Redaksi Lombok post

Rinjani

Redaksi Lombok post

Datang Bulan Budaya

Redaksi Lombok post