Lombok Post
Sportivo

Duh, Target Libas Terancam

wahyudinjawapos_jawa-pos
GAGAL EMAS: Dua sprinter NTB Fadlin (paling kiri) dan Iswandi (paling kanan) gagal mengamankan medali emas di nomor lari 100 meter di Stadion Pakansari Cibinong, Kabupaten Bogor, kemarin (22/9). Di nomor ini atlet Sumbar Yaspi Boby meraih medali emas.

BANDUNG – NTB tengah ketar-ketir. Target 15 medali emas (Libas) mulai terancam. Salah satu cabang olahraga (Cabor) yang jadi unggulan NTB gagal mempersembangkan medali emas.

Tiga pelari NTB yang turun di cabor atletik nomor lari 100 meter putra harus puas meraih medali perak dan perunggu. Sementara, medali emas melayang ke tangan pelari Sumatra Barat (Sumbar) Yaspi Boby.

Pada putaran final di Stadion Pakansari Cibinong, Kabupaten Bogor, kemarin (21/9), tiga sprinter NTB Iswandi, Fadlin, dan Sudirman HadiA� gagal mempersembahkan medali emas.

Ketiganya harus rela medali emas nomor lari paling bergengsi itu melingkar di leher Yaspi Boby. Atlet pelatnas itu berhak atas medali emasA� setelah menjadi yang tercepat dengan catatan waktu 10,36 detik.

NTB cuma kebagian medali perak sumbangan Fadlin dengan catatan waktu 10, 43 detik dan medali perunggu dari Iswandi yang mencatat waktu waktu 10, 46 detik.

Nasib apes menimpa atlet yang pernah tampil di Olimpiade Rio 2016 Sudirman Hadi. Atlet asal Lombok Utara itu gagal tampil di putaran final akibat cedera yang diderita pada babak penyisihan.

Peraih medali perunggu Iswandi mengaku, kondisinya di putaran final jauh berbeda saat tampil pada babak penyisihan.

a�?Saya tadi siang (kemarin) tidak bisa tidur. Jadinya saat final kurang fit,a�? sesalnya dengan mata yang berkaca-kaca kepada Lombok Post, kemarin.

Catatan waktu yang dibekukkan Iswandi pada laga final menurun. Justru, catatan waktunya lebih baik ketika tampil di babak penyisihan yang digelar kemarin pagi. Atlet asal Kabupaten Sumbawa Barat ituA�mengukuhkan waktu 10,44 detik.

Menurut Iswandi, kegagalannya mempertahankan medali emas tidak terlepas dari kurangnya pemanasan. Ia merasa kesakitan pada otot paha, ketika bertanding.

a�?Kurang pemanasan saya Mas. Otot saya seperti ada yang ketarik,a�? lanjutnya.

Karena gagal meraih medali emas, Iswandi menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat NTB. Ia merasa yang paling bertanggungjawab atas kegagalannya itu.

a�?Saya minta maaf. Saya telah gagal mempertahankan medali emas,a�? katanya.

Kegagalan NTB meraih medali emas di nomor 100 meter putra ini menjadi pertanda bahaya target 15 emas. NTB yang mematok target enam emas di cabor terukur ini kini tinggal berharap di lima nomor. Yakni, 800 meter putra, 1500 meter putra, estafet 4×100 meter putra, estafet 4×400 meter putra, dan lari gawang 400 meter putra. NTB bisa berharap ada kejutan di nomor 200 meter putra.

Atlet spesialis 200 meter putra NTB Fadlin mengatakan, tetap optimis bisa meraih medali emas. Meski penampilan Yaspi Boby mengejutkan banyak pihak. Tapi, Fadlin tetap yakin dengan kemampuannya.

a�?Target saya (emas) bukan di 100 meter, tapi di 200 meter,a�? ungkapnya kepada Lombok Post.

Fadlin mengaku, catatan waktu Yaspi Boby diluar dugaannya. Ia pun tetap mewaspadai a�?ledakana�? Yaspi di nomor 200 meter putra.

a�?Kemajuan dia (Yaspi Boby) sungguh luar biasa. Tapi saya siap membuktikan di nomor 200 meter,a�? ujar Fadlin memberikan sanjungan kepada Yaspi Boby.

Mengenai kegagalan NTB mengamankan medali emas di nomor 100 meter, Fadlin mengaku sudah berusaha maksimal. Di sisi lain, ia tetap senang. Karena catatan waktu yang dibekukan kemarin menjadi yang terbaik selama berkarir di nomor 100 meter.

a�?Alhamdulillah, karena saya pribadi menargetkan medali perak di 100 meter,a�? ujarnya.

Di tempat yang sama, pelatih atletik nomor 100 meter putra Subagio melihat penampilan Iswandi di putaran final sangat kacau. Menurut Bagio, teknik berlari Iswandi tidak karuan.

a�?Saya melihat teknik berlarinya kacau balau. Itu akibat kurang pemanasan,a�? ujarnya.

Kendati demikian, Subagio mengakui perkembangan peraih medali emas Yaspi Boby sangat luar biasa. Di luar dugaan, ia mencatatkan waktu 10,36 detik.

Keberhasilan Yaspi mengamankan medali emas di nomor 100 meter putra kemarin menobatkan dia menjadi manusia tercepat di Indonesia. Dalam wawancaranya, Yaspi mengaku selama berkarir di nomor 100 meter catatan waktu yang diraih di PON Jabar menjadi yang terbaik.

Kejutan Nelly

Sementara itu, emas melayang dari nomor 100 meter datang berbarengan dari kejutan di nomor 100 meter putri. Tanpa target medali, atlet atletik Nelly Susanti justru berhasil menyumbang medali perunggu.

Turun di nomor 100 meter, yang berlangsung di Stadion Pakansari Cibinong, Kabupaten Bogor, kemarin (22/9) Nelly meraih medali pertamanya di PON.

Sementara, medali emas di nomor ini diraih atlet Jawa Timur Tri Setyo Utami, dengan catatan waktu 11, 97 detik. Sementara medali perak menjadi milik atlet Sumatera Barat Lusiana Satriani dengan waktu 11,98 detik. a�?Ini luar biasa, saya tidak menyangka,a�? ujar Nelly usai berlaga, kemarin.

Di nomor 100 meter putri, Nelly memang bukan unggulan. Ia juga tidak ditargetkan meraih medali. Tapi, penampilannya cukup mengejutkan publik, khususnya cabor atletik. A�Sejak start hingga menyentuh garis finish, ia cukup konsisten dengan terus mempertahankan posisinya. a�?Medali ini saya persembahkan buat keluarga saya dan masyarakat NTB,a�? lanjutnya bangga.

Selain turun di nomor lari 100 meter putri, Nelly akan kembali berjuang di nomor estafet 4×100 meter putri, Sabtu (24/9) mendatang. Ia akan berjuang bersama Fifit Marlena, Rostina, dan Endang. Mereka ditargetkan minimal meraih perunggu.

Berdasarkan jadwal, pertandingan atletik kembali dilanjutkan hari ini dengan mempertandingan sejumlah cabor bergengsi. Seperti babak penyisihan dan final lari gawang 400 meter putra, babak penyisihan dan final 200 meter putra, dan final 800 meter putra.

Sementara total medali yang sudah disumbangkan atletik baru satu perak dan dua perunggu. NTB masih berharap medali emas di nomor 200 meter putra, 800 meter putra, dan gawang 400 meter yang baru dipertandingkan hari ini. (zen/r10/r8)

Berita Lainnya

Selangkah Lagi Timnas U-19 Ke Piala Dunia

Redaksi Lombok Post

Huswatun Cetak Sejarah, Petinju Putri Pertama RI Raih Medali Asian Games

Redaksi Lombok Post

Zohri : Saya Nggak Percaya Bisa Juara

Prancis Fantastis! Juara Dunia setelah Tumbangkan Kroasia 4-2

Banjir Hadiah Menanti Zohri

Zohri, Sprinter Pertama Indonesia yang Menjadi Juara Dunia

AS Roma Butuh Keajaiban Kedua

Redaksi LombokPost

Chilena Ronaldo Seindah Puisi

Redaksi Lombok Post

NTB Layak Jadi Tuan Rumah PON 2024

Redaksi Lombok Post