Lombok Post
Oase

Dewi Anjani dan Google

Zulhakim

SUATU hari di padepokan Grastina, ketegangan terjadi. Dengan sedikit emosi, kakak beradik Sugriwa dan Subali mengadu kepada sang ayah Resi Gotama. Mereka protes kenapa kakak perempuan mereka, Dewi Anjani selalu lebih pintar dalam segala hal. Padahal ketiganya belajar dari ayah yang sama.

Resi Gotama yang arif sejak lama tahu keistimewaan itu, tapi ia merasa tak pernah membedakan ilmu pada ketiga anaknya. A�Sugriwa dan Subali tak puas. Ia, masih penasaran kenapa sang kakak demikian cemerlang pengetahuannya, sampai-sampai segala ilmu yang tak pernah mereka kenal dikuasainya.

Lambat laun, tanya itu akhirnya terjawab ketika Sugriwa dan Subali melihat dari kejauhan Anjani memegang sebuah gadget. Di bawah naungan pohon dikawal Aria Sraba, Anjani nampak merenung, tertawa kadang senyum-senyum sendiri. Ia, nampak hanyut dalam khayal A�memandang pada sebuah wadah kecil bercahaya di pangkuannya.

Dalam sekejap wadah ini bisa menampilkan semua ilmu pengetahuan. Gadget itu mungkin lebih canggih dari smart phone manapun. Lebih cerdas dari gabungan Google, Yahoo dan MSN sekaligus. Cupu Manik Astagina namanya.

Konon dari cupu tersebut Anjani dapat melihat semesta dan seisinya. A�Tanpa sistem operasi rumit yang mengharuskan masuk ke mesin pencari. Cupu itu terkoneksi dengan hati dan pikiran Anjani. Apa yang dia butuh tinggal diangankan, lalu mulut cupu menampilkan semuanya.

Lebih update dari Facebook maupun Twitter, perangkat ini dapat menampilkan semua peristiwa yang terjadi di penjuru bumi maupun di seluruh galaksi. Lengkap dengan ulasan, gambar dan video yang bisa dimaju mundurkan.

Boleh jadi inilah salah satu bentuk khayal tertua manusia mengenai mesin pencari. Mesin pintar dengan layar sempitA� yang bisa menampilkan dunia seisinya. A�Walmiki dengan apik mengisahkan bab ini dalam Ramayana ribuan tahun silam.

Tapi seperti galibnya gadget dewasa ini Cupu Manik juga punya efek buruk. Semenjak akrab dengan gadget ini, Gadis Anjani jadi lebih senang menyendiri. Ia lebih sibuk sendiri dengan layar bercahaya itu meski tengah bersama keluarga besarnya. Komunikasi keluarga Resi Gotama jadi tak sehat. Terlebih Sugriwa dan Subali iri karena tak punya gadget seperti Anjani.

Kehadiran Cupu ini juga seperti duri dalam daging keluarga bagi Resi Gotama. Kemunculan gadget inilah yang kelak membuat rumah tangga Sang Resi berantakan.

Rupanya ada skandal cinta segi tiga yang lama tersimpan bersamanya. A�Konon sebelum dipersunting Gotama, Dewi Indradi adalah bidadari kayangan yang pernah menjalin hubungan dengan Betara Surya, Dewa Matahari. A�Tapi takdir menuliskan Indradi A�harus turun ke bumi sebagai pendamping Gotama.

Tapi hubungan asmara A�itu rupanya tak hilang begitu saja ketika Indradi hijrah ke dunia. Sebagai pertanda, Batara Surya menghadiahkan Cupu Manik pada Indradi. Kelak cupu itu diserahkan kepada anak tertuanya, Anjani.

Konflik soal Cupu Manik antara Anjani dan adik-adiknya menyingkap tabir ini. Gotama akhirnya paham dirinya bukan yang pertama bagi sang istri. Ada lelaki lain yang pernah mengisi hati bidadari cantik ini. Karena itulah betapa marahnya ia begitu mengetahui.

Gotama yang gusar mengintrogasi Indradi soal asal muasal Cupu Manik itu. Tapi ia diam seribu bahasa menjaga rahasia cinta masa lalunya.A� Indradi membisu lalu dikutuk menjadi tugu dan dilemparkan ke hutan Alengka.

Sementara kakak beradik yang memperebutkan Cupu Manik tersebut sama-sama dikutuk jadi wanara. Wajah ayu Anjani tiba-tiba ditumbuhi bulu seperti Hanoman anak berwujud kera putih yang kelak ia lahirkan.

Demikian juga Sugriwa dan Subali. Butuh waktu lama untuk memulihkan wujud mereka kembali menjadi manusia. Demikian juga nasib Indradi.A� Tapi menurut Walmiki itulah harga yang harus dibayarkan. (r8)

Berita Lainnya

Romantisme Rampok

Redaksi Lombok post

Mayoritas yang Minoritas

Redaksi Lombok post

Sampah-sampah Virtual

Redaksi Lombok post

Basuki, Trump, dan Mas Joko

Redaksi Lombok post

Sihir Tembakau

Redaksi Lombok post

Mengenang 1965

Redaksi Lombok Post

Tuah Tanah Haram

Redaksi Lombok Post

Merindu Tanah Suci

Redaksi Lombok Post

Menimbang Pahlawan

Redaksi Lombok Post