Lombok Post
Dialog Jum'at

Cepat Sugih

TGH Safwan Hakim

Assalaamua��alaikum Wr. Wb.

A�Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah penguasa jagat raya ini atas semua nikmat dan karuniaNYa, terutama sekali nikmat iman dan islam. Selawat dan salam kepada Rasulullah saw, juga kepada keluarga dan sahabat-sahabat beliau.

Pembaca Rahimakumullah

Akhir-akhir ini mencuat lagi di banyak media elektronik maupun cetak, berita tentang kemampuan orang untuk menggandakan uang menjadi berlipat-lipat tanpa harus bekerja keras, tanpa usaha berdagang, beternak atau menjual jasa dan lain-lain sebagaimana lazimnya. Lalu menjadikan majelis taklim atau pengajian sebagai kedoknya.

Untuk menjadi anggota pengajian tersebut mereka harus membayar dari dua sampai lima juta rupiah. Bagi mereka yang membayar, uang sejumlah tersebut dirasakannya kecil dan tidak seberapa, bila dibandingkan dengan khalayan kosong mereka yang akan mendapatkan puluhan bahkan ratusan juta sampai miliaran rupiah.

Untuk memperlancar penipuan mereka sehingga masyarakat yakin dan percaya, tidak segan-segan mereka menjadikan suatu kehormatan yang diberikan Allah swt kepada para kekasih-Nya (orang-orang yang sangat ikhlas dan taat kepada-Nya) dalam bentuk a�?karamaha�? yang dapat melakukan hal-hal yang menyalahi adat/kebiasaan.

Di balik simbol karamah ini mereka menjual agama Allah dengan harga yang murah. Untuk itu, kepada saudara-saudara kami yang seiman sangat dibutuhkan kewaspadaan, kehati-hatian agar kita tidak tertipu dan tersesat.

Dalam keyakinan umat Islam, kita mengenal beberapa hal yang menyalahi adat atau keanehan. Ada yang namanya mukjizat yang keluar dari para Nabi dan Rasul Allah.

Ada juga yang disebut karamah yang keluar dari orang-orang yang menjadi Auliyaa��Allah (para wali), dan ada pula keistimewaan itu yang keluar dari orang-orang jahat, tukang sihir yang disebut dengan sihir atau istidraj, dan ada pula yang nampak dari orang biasa yang disebut maa��unah atau pertolongan atau ada pula yang disebut sulap yang dilakukan oleh tukang sulap.

Dari gambaran di atas, jelaslah bagi kita mana yang mukjizat, mana yang karomah, mana yang sihir, mana yang tipuan, sulap atau maunah. Para Nabi dan Rasul dengan mukjizatnya sudah jelas, sedangkan Karamatul Auliya-mereka itu tidak jauh pembawaannya dan kesalihannya dengan para Nabi.

Mereka jauh dari sifat hubbuddunya (mencintai dunia) untuk mengumpulkan kekayaan dunia untuk diri atau keluarganya. Mereka sangat menjaga hatinya, ketulusannya, kesabarannya, ketawakkalan dan ketaatannya kapan saja dan dimana saja. Kalau seandainya mereka bersentuhan dengan dunia, maka hal tersebut semata-mata untuk akhirat.

Para Auliya Allah tak akan pernah mengumpulkan uang apalagi memamerkannya menjadi kebanggaan untuk ditunjukkan kepada orang banyak. Para wali Allah itu sangat zuhud, waraa��, tawaddua�� dan sifat-sifat mulia lainnya.

Mereka sangat kuat beribadah sehingga tertanam dalam hati mereka ketaqwaan yang sangat kuat kepada Allah swt, sehingga dalam dirinya hanya takut kepada Allah semata dan menerima qadar Allah menjadi suatu keredaan yang luar biasa baik yang menyenangkan atau yang menyedihkan. Sehingga Allah sendiri tegaskan bahwa para wali itu tidak sedikitpun rasa takutnya kepada selain Allah dan tidak pernah merasa susah.

Dengan pedoman tersebut kita bisa melihat orang-orang yang menjadi Auliyaa�� Allah dan mana pula yang menjadi teman syaitan. Semoga Allah selalu mencerahkan hati kita untuk melihat yang benar itu benar dan yang salah itu salah. (r8)

Berita Lainnya

Nyantri di Ponpes

Redaksi Lombok Post

Selamat Anis-Sandi

Redaksi Lombok Post

Merasa Kurang

Redaksi Lombok post

Komitmen pada Diri Sendiri

Redaksi Lombok post

KH Hasyim Muzadi

Redaksi Lombok post

Pasca-Kunjungan Raja

Redaksi Lombok post

Menjaga Kesucian Alquran

Redaksi Lombok post

Kunjungan Raja Saudi

Redaksi Lombok post

Kriteria dan Hakikat Pemimpin dalam Islam

Redaksi Lombok post