Lombok Post
Feature

Tak Pakai Buku Paket, Tulis Surat dengan Kertas Bekas

SERBAKAYU: Suasana pembelajaran PG-TK di Sekolah Sahabat Alam di Palangka Raya, Kalteng. Tidak ada dinding, semua dibiarkan terbuka. KHAFIDLUL ULUM/jawa pos

Sekolah Sahabat Alam di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, punya cara tersendiri untuk mendekatkan siswa dengan lingkungan. Kompleks sekolah dibiarkan rimbun. Siswa juga diajak untuk mencintai pohon.

***

BELASAN siswa PG-TK Sekolah Sahabat Alam asyik bermain di depan kelas. Ada yang bermain daun berserakan, menyusun bebatuan, hingga menata kayu. Sebagian lagi bermain jungkat-jungkit dengan memanfaatkan pohon yang tumbang.

Para siswa juga menggunakan pohon yang bergeletakan untuk bermain titian. Bosan berjalan di atas titian, mereka lantas duduk berjajar. Siswa paling depan bergaya seperti sopir, seolah-olah sedang naik mobil.

Nuansa alam memang sangat kental di sekolah yang terletak di Jalan KTA Milono km 4 itu. Halaman sekolah dipenuhi pohon yang menjulang tinggi. Di antaranya, pohon ketapang, geronggang, meranti, dan jenis lain. Bahkan, seluruh ruang kelas PG-TK terbuat dari kayu. Ruang kelas itu berbentuk rumah panggung.

Tidak ada dinding. Yang ada hanya pagar setinggi 1 meter. Semua terbuka sehingga angin bebas masuk. a�?Tidak perlu AC atau kipas angin. Hemat listrik,a�? terang Qanita Tajuddin, pendiri Sekolah Sahabat Alam, saat ditemui Selasa lalu (27/9).

Bukan hanya ruang PG-TK, seluruh kelas SD dan SMP juga terbuat dari kayu. Tapi tidak setinggi ruang kelas PG-TK. Rata-rata berukuran 7×10 meter.

Siswa belajar dengan lesehan dan kadang duduk di atas kursi. Selain tas yang digantung rapi di pagar, piring dan gelas tertata di pojok kelas.

Setiap kelas dilengkapi wastafel. Beberapa kelas diberi nama pohon. Antara lain pohon ramin, meranti, dan tabalien. Itu menunjukkan bahwa ruang kelas terbuat dari jenis kayu tersebut. Tanaman rambat dibiarkan tubuh di pagar dan tiang kelas.

Rumput liar juga tumbuh subur. Pihak sekolah sengaja tidak memotongnya. Kayu bekas pun dibiarkan berserakan. a�?Kayu-kayu ini sengaja kami biarkan agar anak belajar kehidupan nyata.

Seperti itu kehidupan yang ada di luar,a�? terang perempuan kelahiran 3 Desember 1970 tersebut. Para siswa pun menyesuaikan diri dan berhati-hati.

Dedaunan yang berguguran juga dibiarkan berserakan. Daun dibiarkan hancur menjadi pupuk. Siswa yang makan buah membuang biji dan kulitnya di lubang yang ada di depan kelas.

Kulit dibiarkan menjadi pupuk, sedangkan biji akan tumbuh sendiri. Karena itu, tidak heran jika beberapa tanaman buah tumbuh di depan kelas. Antara lain rambutan, mangga, kelengkeng, dan salak.

a�?Hanya sampah plastik yang dibuang di tempat sampah. Ada pula sampah plastik yang dibawa pulang,a�? papar istri Amanto Surya Langka tersebut.

Di antara jalan dan kelas, dipasang titian kayu. Qanita menuturkan, suatu kali seorang trainer dari Surabaya datang. Sang trainer mengatakan bahwa titian itu berbahaya untuk anak-anak.

Namun, Qanita menjelaskan bahwa titian tersebut sengaja dipasang agar anak belajar berhati-hati dan menyesuaikan diri dengan lingkungan di luar. Jalanan di kompleks sekolah seluas 1 hektare itu juga dibiarkan alami. Tidak dipasangi paving, dibiarkan berupa tanah. Banyak siswa yang asyik bermain di jalan tanpa alas kaki.

Menurut perempuan kelahiran Bangil, Pasuruan, Jatim, tersebut, anak juga diajari bagaimana menghargai alam. Salah satunya dengan berhemat kertas.

Siswa dianjurkan untuk menggunakan kertas bekas buat menulis surat, cerita, atau pengumuman. a�?Kan ada kertas bekas yang di baliknya masih ada space kosong. Itu yang dimanfaatkan,a�? tutur Qanita.

Sekolah Sahabat Alam juga tidak menggunakan buku paket. Siswa mendapatkan pelajaran dari guru dan mencari bahan dari buku-buku yang ada di perpustakaan.

a�?Tas mereka kosong. Hanya ada peralatan menulis dan buku tulis,a�? paparnya.Tidak adanya buku paket itu merupakan salah satu upaya menghemat kertas.

Ibu delapan anak tersebut mengatakan, satu pohon bisa menghasilkan 80 kilogram kertas. Jadi, kalau setiap tahun tiap siswa membeli sepuluh buku paket dan setelah itu tidak dipakai lagi, berapa pohon yang harus ditebang.

Walaupun kelihatan remeh, pihaknya ingin menanamkan cinta alam kepada siswa. Agar siswa mudah mendapatkan bahan bacaan, pihak sekolah memperbanyak buku di perpustakaan. Saat ini ada sekitar 5.000 koleksi buku. Anggaran buku setiap tahun sekitar Rp 10 juta.

Qanita mengatakan, para siswa juga diajak untuk mengenal alam di luar. Bahkan, siswa SMP pernah berkeliling wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng). Semua kabupaten/kota sudah disinggahi. Mereka mengenal alam dan menetap beberapa hari di wilayah-wilayah itu.

Siswa juga mempunyai agenda rutin wisata ke luar pulau. Salah satunya, mengunjungi Gunung Kelud di Blitar. a�?Sekolah dan orang tua tidak mengeluarkan biaya. Mereka berangkat dengan biaya sendiri,a�? terang Qanita.

Bagaimana para siswa mengumpulkan uang? Siswa melakukan berbagai cara untuk mendapatkan uang. Salah satunya dengan berjualan. Mereka berjualan makanan saat acara car free day (CFD). Berjualan nasi rawon, pecel, dan berbagai jenis makanan lain.

Mereka juga berjualan di sekolah. Bukan hanya makanan, mereka juga menjual jasa. Misalnya, mereka mencucikan motor atau helm milik orang tua, guru, atau masyarakat umum. Mereka juga menjual jasa dengan mengajari adik kelas membuat keterampilan. (KHAFIDLUL ULUM/JPG/r8)

Berita Lainnya

Suka Duka Mahasiswa Bumi Gora Menuntut Ilmu di Benua Biru (2)

Redaksi Lombok Post

Suka Duka Mahasiswa NTB Menuntut Ilmu di Eropa (1)

Redaksi Lombok Post

Bilik Bercinta di Tempat Pengungsian yang Tinggal Cerita

Redaksi Lombok Post

Pengalaman Dramatis Pendaki Terjebak Gempa di Gunung Rinjani (1)

Redaksi Lombok Post

Mereka yang Tetap Tegar Menghadapi Gempa di Sambelia

Nasihat Mendiang Ayah Menjadi Pegangan Hidup Zohri

Mengunjungi Lalu Muhammad Zohri, Sang Juara Dunia

Lalu Muhammad Zohri, Sprinter Muda NTB yang Sabet Juara Dunia

Melihat Festival Layang-Layang Raksasa di Pantai Loang Baloq