Lombok Post
Opini

1 Oktober Adalah Hari Bersyukur

Opini LombokPost
Opini LombokPost

SEHARUSNYA semua warga negara Indonesia bersyukur setiap tanggal 1 Oktober, karena pada tanggal 1 Oktober 1965 Pancasila terbukti kuat/sakti dapat menang melawan pemberontakan Partai Komunis Indonesia. Seandainya pada tanggal 30 September 1965 saat PKI memberontak dan ternyata dia menang dalam pemberontakan tersebut maka sudah pasti Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila ini berubah menjadi Negara Komunis, dan kita semua berada dibawah pemerintahan komunis.

Dengan demikian kita semua tidak bisa melaksanakan ibadah sesuai dengan agama yang kita anut masing-masing. Karena sebagaimana negara-negara komunis di dunia pada umumnya tidak mengurus kepentingan-kepentingan keagamaan dan tidak percaya kepada Tuhan. Oleh karena itu syukurlah Pancasila kuat/sakti sehingga Pancasila menang dan dasar negara Indonesia tetap Pancasila maka kita tetap dapat melaksanakan ibadah agama sesuai dengan keyakinan kita masing-masing.

Hal inilah yang perlu ditanamkan, ditumbuhkan, dipelihara dan dikembangkan kepada semua generasi muda kita agar mereka mengerti dan paham tentang manfaat dari perayaan 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Merayakan hari kelahirannya Pancasila setiap 1 Juni itu tidak salah karena pada tanggal 1 Juni 1945 saat rapat membahas tentang lima Rumusan yang menjadi dasar Negara saat itu, Bung Karno ditanya oleh peserta rapat apa diberi nama lima rumuasan dasar Negara tersebut ? dijawab oleh Bung Karno pada saat itu, menurut teman saya yang ahli bahasa rumusan yang lima itu diberi nama Pancasila.

Sehingga setiap 1 Juni pada saat pemerintahan Presiden Soekarno dijadikan sebagai hari lahirnya Pancasila. Adapula yang mengatakan bahwa Pancasila itu lahir pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh karena pada tanggal tersebut Pancasila disahkan menjadi dasar Negara. Padahal menurut para ahli dimana nilai-nilai pancasila itu sudah ada jauh sebelum Indonesia merdeka. Sebelum agama-agama datang ke nusantara, hampir semua suku bangsa di Indonesia ini sudah memiliki sebutan Tuhan dengan bahasa daerah mereka.

Misalnya di Batak menyebut Debata, di Sunda menyebut Hyang, di Jawa menyebut Gusti, di Bali menyebut Widhi, di Lombok (Sasak) menyebut Nenek, di Bima menyebut Ruma dan banyak lagi bahasa daerah di Indonesia ini yang menyebut Tuhan dengan sebutan bahasa mereka. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sejak dahulu kala bangsa Indonesia sudah percaya kepada Tuhan dengan sebutan bahasa yang mereka anut. Demikian pulaA� pada sila-sila berikutnya seperti Kemanusiaan yang Adil Dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan, dan Kesejahteraan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Berarti sejak dahulu bangsa Indonesia itu sudah Berkemanusiaan, selalu menjalin persatuan, mengutamakan musyawarah dan mufakat, dan sudah memiliki kepribadian tentang keadilan. Hal ini sesuai dengan yang di uraikan dalam buku pendidikan Pancasila A�edisi Reformasi tahun 2010 oleh Prof. Dr. Kaelan, M.S Dosen Fakultas Filsafat UGM bahwa secara historis nilai-nilai yang terkandung dalam sila pancasila sebelum dirumuskan dan disahkan menjadi dasar Negara Indonesia secara objektif historis telah dimiliki oleh bangsa Indonesia sendiri.

Sehingga asal nilai-nilai pancasila tersebut tidak lain dari bangsa Indonesia sendiri, atau dengan kata lain bangsa Indonesia sebagai kausa materialis Pancasila. Oleh karena itu berdasrkan fakta objektif secara historis kehidupan bangsa Indonesia tidak dapat dipisahkan dengan nilai-nilai Pancasila. Atas dasar pengertian dan alasan historis inilah maka sangat penting bagi para generasi penerus bangsa terutama kalangan intelektual kampus untuk mengkaji, memahami dan mengembangkan berdasarkan pendekatan ilmiah yang pada gilirannya akan memiliki suatu kesadaran serta wawasan kebangsaan yang kuat berdasarkan nilai-nilai yang dimilikinya sendiri.

Secara filosofis bangsa Indonesia sebelum mendirikan Negara adalah sebagai bangsa yang berketuhanan dan berkemanusiaan. Hal ini berdasarkan kenyataan objektif bahwa manusia adalah mahluk Tuhan yang maha esa. Semoga semua warga Negara Indonesia tidak ragu-ragu lagi terhadap Pancasila sebagai dasar Negara, sebagai idioologi bangsa, sebagai pandangan hidup bangsa, sebagai kepribadian bangsa, karena nila-nilai yang terkandung dalam sila-sila pancasila itu memang milik bangsa Indonesia itu sendiri bukan barang impor.

Jika kepribadian Pancasila ini kita berikan kepada Negara lain misalnya kepada bangsa Amerika sudah jelas pasti ditolak karena tidak sesuai dengan kepribadian mereka yaitu liberalisme dan demikian juga sebaliknya jika kepribadian liberalisme atau komunisme diberikan kepada kita di Indonesia maka kita harus berani menolaknya karena tidak sesuai dengan kepribadian yang kita anut yaitu Pancasila.(*)

Berita Lainnya

Pemuda dan Transformasi Masa Depan

Redaksi Lombok Post

Penyaluran DAK Fisik dan Dana Desa Pascagempa Lombok

Redaksi Lombok Post

Kebijakan dan Pengelolaan Dana Desa Melalui KPPN Mataram

NTB Menuju Panggung (Politik) Nasional

Redaksi Lombok Post

TGB dan Masa Depan Indonesia Gemilang

Redaksi Lombok Post

Gerakan Zakat: Antara Pergerkan, Angka, dan Regulasi

Redaksi Lombok Post

DIPLOMASI KEMANUSIAAN LEMBAGA ZAKAT

Redaksi Lombok Post

LEMBAGA ZAKAT: DARI FUNDRAISING KE FRIEND-RAISING

Redaksi Lombok Post

PILKADA ZAMAN NOW

Redaksi Lombok Post