Lombok Post
Opini

Membaca Peta Kekuatan Pilkada Jakarta

Opini LombokPost
Opini LombokPost

KETIKA – pemilukada diserahkan pada rakyat sebagai penentu siapa yang layak menjadi Gubernur-Wakil Gubernur, Bupati-Wakil Bupati, dan Walikota-Wakil Walikota, maka fokus perhatian semua diskursus perihal pemilukada berada pada relasi sosial kandidat dan rakyat. Kekuatan personal dari kandidat, seperti kharismatik,A� kemampuan komunikasi publik, dan prestasi, termasuk masalah masa lalu menjadi objek yang berpengaruh signifikan mengkonsutruksi definisi sosial pemilih tentang kandidat. Dalam konteks itu, analisis terhadap karekteristik mereka menjadi penting untuk menemukan peta jalan menemukan kekuatan dan kelemahan kandidat.

Membuat analisis terhadap kekuatan kandidat pada pilkada Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta pada pilkada yang pemungutan suaranya tahun depan, merupakan kerja yang sangat kompleks, tetapi menarik. Partai politik telah menyodorkan kandidat yang sama-sama kuat dilihat dari semua sisi.A� Tampilan tiga pasangan calon ini telah merubah semua hasil survei yang banyak dilakukan jauh sebelum pendaftaran calon dimulai.A� Bahkan pada titik tertentu, tampilan dari tiga pasangan calon ini telah membuat anti-tesis terhadap sakralitas incumbent yang selalu menjadi fenomena di hampir semua daerah yang pilkadanya diikuti oleh incumbent. Jauh sebelum pendaftaran calon di KPU Provinsi DKI Jakarta, bahkan banyak survei menunjukkan a�?Ahok tidak ada lawana�?.

Namun pasca pencalonan, hasil beberapa survei sudah memperlihatkan elektabilitas Ahok stagnan, yang tentu jika Ahok tidak berhati-hati grafik elektabilitasnya bisa terus menurun. Gejala ini tentu menguntungkan bagi Anis dan Agus. Paling tidak jika elektabilitas Ahok terus menurun, bisa jadi muncul pemilihan putaran kedua yang kemungkinan diikuti oleh salah satu di antara Anis dan Agus melawan Ahok. Apabila fakta politik ini terjadi, maka Ahok bisa menjadai lawan semua, tentu situasi ini membahayakan Ahok.

Dari analisa di atas, pilkada DKI menurut pandangan saya merupakan lompatan kemajuan luar biasa terhadap demokrasi Indonesia.A� Meskipun masih dalam konstruksi tiga poros elit politik (Megawati, Prabowo, dan SBY), dan pengaruh tiga elit ini masih bisa bekerja sampai pemungutan suara tiba, namun porsinya tidak terlalu signifikan jika tidak didukung oleh kapasitas pasangan calon itu sendiri. Panggung pertarungan politik yang sejatinya untuk merebut simpati rakyat tetap pada diri pasangan calon. Siapa mampu meyakinkan rakyat, maka dia yang keluar sebagai pemenang. Ya, itulah hukum alam politik pemilukada langsung.

Lantas bagaimana membaca karekteristik perilaku pemilih ketika dihadapkan dengan tiga pasangan calon yang tampil di atas panggung pilakada DKI? Secara teoritis, analisis yang umum dilakukan selama ini menggunakan tiga mazhab, yakni; ekonomi, psikologis, dan sosiologis. Mazhab pertama meyakini individu sebagai pemilih berusaha membuat kalkulasi keuntungan secara ekonomis dan matematis dari tindakannya, ketika memberikan suara dalam pemilu. Pemilih seperti ini akan memberikan pilihan pada kandidat yang paling menguntungkan secara ekonomis bagi diri si pemilih tersebut.A� Jika menggunakan pisau analisis ini, tentu saja orang yang mendapatkan penghasilan lebih besar pada masa pemerintahan Ahok akan cenderung memilih Ahok dibanding yang hilang pekerjaannya karena kebijakan Ahok. Jika menggunakan prespektif ini, maka pasangan calon yang paling bisa menjamin keamanan ekonomi pemilih merupakan yang paling berpotensi menang.

Pada sisi lain, mazhab psikologis meyakini perilaku pemilihA� dikonstruk secara bersama-sama atau sendiri-sendiri oleh ikatan emosional terhadap orientasi kandidat atau ikatan partai. Seseorang yang orang tuanya (ayah atau ibu) bersal dari partai A, cenderung akan memilih partai A atau pasangan calon yang diusung partai A, dibanding dengan pasangan calon yang diusung partai B. Konstruksi lain yang mempengaruhi pilihan seseorang adalah ketertarikannya terhadap kandidat. Bisa saja dalam suatu pemilu seseorang tidak tertarik pada suatu partai politik dan isu yang diusung partai politik bersangkutan, tetapi murni karena ketertarikannya pada figur pasangan calon. Pemilih model ini banyak didominasi oleh pemilih pemula, yang pertumbuhannya semakin meningkat dari pemilu ke pemilu.

Sedangkan mazhab sosiologis meyakini perilaku masyarakat dalam pemilu dibentuk oleh faktor eksternal, seperti ikatan keluarga, etnis, agama, stratifikasi sosial, usia,dan berbagai identitas sosial lainnya. Variabel sosiologis ini menjadi penting diperhitungkan ketika meilihat DKI sebagai tempat pertemuan berbagai suku, ras, agama, budaya. Logika teoritisnya, solidaritas sosial berbasis identitas biasanya menguat ketika manusia berurusan dengan perjuangan politik.A� Dalam bahasan Sosiologi politik, fenomena ini dikenal dengan konsep politik identitas.

Pertanyaannya adalah, mana diantara faktor-faktor di atas yang paling efektif. Pemilu sebagai sebuah pertarungan tentu akan mengerahkan segala kekuatan dengan segala strategi. Saya melihat ketiga mazhab di atas akan menjadi instrument penting digunakan oleh ketiga pasangan calon yang sedang bertarung. Meskpun idealnya masyarakat harusnya disodorkan oleh strategi pertama dan kedua, sehingga para kandidat menguji program bukan SARA, namun penggunaan mazhab terakhir sulit dihindari. Karena itu, isu-isu politik identitas menurut saya akan terus berkembang dalam proses pemilukada DKI tahun ini.

Apabila melihat potensi Ahok, maka bisa jadi Ahok akan terus mengkampanyekan keamanan ekonomi dengan menyodorkan sederetan prestasi yang pernah dilakukannya selama menjadi Gubernur.A� Sedangkan apabila melihat potensi Agus, maka sosok Agus akan mampu menarik perhatian pemilih pemula dan kelas menengah ke atas.A� Disamping itu, Agus juga bisa menarik perhatian pemilih dari basis etnis, baik etnis Jawa yang jumlahnya cukup besar menetap di DKI, lebih-lebih etnis Betawi karena posisi wakilnya.A� Adapun Anis, berpotensi mampu menarik perhatian pemilih relegius bersama para elit agama.A� Anis memiliki kharismatik yang kuat karena di dukung oleh latar belakang pendidikan dan kemampuan komunikasi public yang baik.

Dari peta kekuatan di atas, nampaknya Ahok cukup kuat jika dilihat dari mazhab ekonomi.A� Agus cukup kuat jika di lihat dari mazhab psikologis dan sosiologis.A� Sedangkan Anis cukup kuat jika di lihat dari mazhab sosiologis.A� Apabila di lihat dari daya tahan kekuatan basis dukungan, maka dukungan karena faktor ekonomi memiliki daya tahan paling pendek meskipun memiliki daya ledak yang tinggi, namun waktunya sangat singkat.A� Ketika rival politik Ahok memiliki kemampuan menyodorkan harapan ekonomi lebih baik, terukur, dan rasional, maka loyalitas Ahok akan sangat mudah berpindah ke lain hati. Sebaliknya, dukungan dari basis psikologis memiliki daya tahan lebih kuat, namun perlu kerja keras untuk membangun pencitraan.

Komunikasi politik dengan menggunakan multi-media menjadi penting bagi politik pencitraan, guna mempercepat bangunan simpati pemilih.A� Adapun basis sosiologis, memiliki daya tahan paling lama, sepanjang tidak di ganggu dengan isu-isu moralitas.A� Konsepsi ini penting diketahui, mengingat tipologi dari basis sosiologis sangat alergi terhadap isu-isu moralitas.A� Karena itu, kandidat dengan modal sosiologis harus terus menjaga penampilan dan dan ketika menjalankan komunikasi publik, sebaiknya dilakukan sebagaimana yang diharapkan oleh pemilih. Tetap mengungkapkan pikirannya dengan bahasa yang santun, terstruktur, sistematis, dan tidak boleh meledak-ledak.

Modal politik yang dimiliki masing-masing pasangan calon Pilkada DKI akan mewarnai isu kampanye sepanjang proses pemilihan Gubernur DKI.A� Janji perbaikan ekonomi, mengatasi kemancetan, pendidikan, dan isu SARA, saya kira akan terus silih berganti mewarnai berita-berita media sepanjang waktu.A� Karena itu, meskipun isu SARA tidak baik untuk edukasi politik dan harusnya dihindari, namun menjadi sulit di bendung ketika kita melihat latar belakang sosial tiga pasangan calon ini. Namun tentu yang paling penting adalah apapun isunya, masyarakat harus dilatih untuk bisaA� melakukan seleksi terhadap calon pemimpin secara damai dan elegan. ******

Berita Lainnya

Pemuda dan Transformasi Masa Depan

Redaksi Lombok Post

Penyaluran DAK Fisik dan Dana Desa Pascagempa Lombok

Redaksi Lombok Post

Kebijakan dan Pengelolaan Dana Desa Melalui KPPN Mataram

NTB Menuju Panggung (Politik) Nasional

Redaksi Lombok Post

TGB dan Masa Depan Indonesia Gemilang

Redaksi Lombok Post

Gerakan Zakat: Antara Pergerkan, Angka, dan Regulasi

Redaksi Lombok Post

DIPLOMASI KEMANUSIAAN LEMBAGA ZAKAT

Redaksi Lombok Post

LEMBAGA ZAKAT: DARI FUNDRAISING KE FRIEND-RAISING

Redaksi Lombok Post

PILKADA ZAMAN NOW

Redaksi Lombok Post