Lombok Post
Oase

Mengenang 1965

Zulhakim

SUATU siang di penghujung tahun 1965. Sirine pelabuhan Ampenan memekik. Ratusan orang berhamburan dengan kepundan amarah yang harus segera dimuntahkan. Seperti kawanan semut yang terusik sarangnya, barisan ini bergerak menuju timur, menyebarkan ketakutan yang terus menjalar hingga pedalaman. Parang, bambu, batu, pentungan mengayun kesurupan.

Beberapa jam kemudian rumah-rumah menyala, korban berjatuhan. Semua yang berbau atau diduga berafiliasi dengan PKI dimusnahkan. Massa yang beringas menjalankan vonis atas dasar tudingan-tudingan tanpa pengadilan. Hampir tak ada yang berani menghentikan. Atau mungkin kondisi ini sengaja dibiarkan?

Hingga kini Darme, tak sepenuhnya mengerti darimana datangnya orang-orang itu, kenapa mereka demikian ganas menyerang. Dia yang belum genap sepuluh tahun saat itu hanya mengingat ketakutan dari wajah-wajah orang yang tak mengerti zaman apakah ini. Seperti kecemasan Amaq Amat, ayahnya yang menuntunnya menghindar dari pelabuhan melalui saluran got agar segera tiba di rumah.

Dan selepas itu ketakutan menjangkiti seisi kota. Teror menyebar bersama kebencian yang dipompa kepada kelompok tertentu. Hampir setiap malam ada saja rumah yang dibakar. Termasuk rumah keluarga Darme sendiri. Semua saling curiga. Tapi siapakah pelakunya? Kepada siapa mengadu? Zaman tak memungkinkan itu. Dan hingga kini Darme tak tahu.

Dari pedalaman Narmada, Djum mengenang malam-malam yang juga tak sepenuhnya ia mengerti. Selepas Isya, lampu-lampu rumah harus A�dipadamkan. Dari kejauhan suara-suara ganjil terdengar. Orang-orang dengan parang terasah tengah bersiap menjemput mereka yang sial.

Dalam kondisi ini sasus berkembang, rumah-rumah yang telah diberi tanda bersiaplah, akan ada sekelompok orang mengetuk pintu. Memaksa dan menodongkan senjata. Setelah itu sepanjang malam truk-truk akan sibuk menjemput para tertuduh yang takkan pernah kembali pulang.

Adapun Munir, mengingat pekan-pekan yang menakutkan ini lewat kemunculan Bintang Kukus di langit Ampenan. Konon bintang berkabut ini adalah pertanda tentang sesuatu hal besar segera terjadi, semisal perang, kerusuhan atau ada tokoh besar yang meninggal. Beberapa hari kemudian Munir paham, bintang berkabut itu mengiringi malam jahanam 30 September 1965.

Dan benar saja selepas hari itu banyak hal mengerikan terjadi. Bukan saja soal jenderal-jenderal yang dibunuh dengan keji, tapi jutaan orang yang tewas maupun menghilang sesudahnya.

Yang bertahan hidup tak kalah menderita. Ribuan mereka ditangkap dan ditahan tanpa pernah diadili. Simaklah Pramoedya Ananta Toer dalam memoarnya Nyanyi Sunyi Seorang Bisu mengisahkan bagaimana pahit getir dirinya dan ribuan tahanan politik lain di Inrehab Pulau Buru.

14 Tahun ia berpindah dari penjara ke penjara tanpa pernah diadili. Rasanya satu-satunya kesalahan yang ia perbuat adalah menuliskan kecintaannya kepada Indonesia dalam sastra. Dan penjara adalah balasannya.

Akhir September 1965 ini juga membuat ribuan pemuda yang bersekolah dan bertugas di sejumlah negara sosialis di Asia dan Eropa tak bisa pulang. Tanah air yang mengutusnya belajar tak lagi mengakui. Mereka menggelandang tanpa paspor dan meminta suaka ke sejumlah negara.

Sebut saja Sarmadji guru yang dikirim pemerintah Orde Lama ke Tiongkok untuk belajar tentang pendidikan anak di luar sekolah pada 1965. Setelah peristiwa 30 September 1965, paspornya dicabut karena terlalu setia pada Soekarno.

Sementara Chalik HamidA� berada di Tirana, Albania, untuk belajar sastra di akhir September 1965. Ia dan rombongan pemuda Indonesia tak bisa pulang karena KBRI mencabut paspornya.

Lain lagi dengan Ibrahim Isa. Mantan pejuang kemerdekaan ini pada saat peristiwa memilukan itu bertugas mewakili Indonesia dalam Organisasi Kesetiakawanan Asia Afrika di Kairo, Mesir. Sial, tahun 1966 haknya sebagai WNI dicabut selepas mengikuti Konferensi Trikontinental Asia Afika dan Amerika Latin.

a�?Yang pertama itu adalah penderitaan dari segi harga diri. Ketika paspor saya dicabut dan identitas saya dicabut, seolah nyawa saya sendiri yang dicabut. Sakit sekali.a�? Ujarnya kepada BBC.

Mereka adalah contoh kecil orang-orang yang selamat tapi tak bisa pulang selepas peristiwa 1965. Mereka tentu tetap mengingat momen itu sebagaimana zaman mengenangnya samar-samar hingga kini.

Terlebih bagi anak-anak yang tumbuh di penghujung hayat Orde Baru, semacam saya, tragedi A�1965 sempat punya tafsir berbeda. Informasi tentang kasus ini satu arah dikuasai negara. Disebarkan secara terus menerus dalam buku pelajaran.

Lalu pada malam 30 September mobil Dinas Penerangan yang berkeliling kampung mengabarkan jadwal Pemutaran Film Penumpasan Pengkhianatan G 30/s PKI. Biasanya di pelataran kelurahan atau alun-alun KUD. Film propaganda ini juga diputar serentak di televisi.

Bertahun-tahu hampir tak ada yang berani membantah film garapan Arifin C Noer ini. Namun, selepas reformasi cerita berubah. Film ini tak lagi diwajibkan. Orang-orang mulai berani bertanya dan mengkritisi. Korban-koran menjadi lebih jelas.

Bahkan mereka terus berteriak meminta tanggung jawab negara atas mereka yang dihilangkan. Meminta luka lama itu dibuka kembali secara terang benderang, agar sejarah bisaA� diluruskan. Tapi dapatkah perbaikan sejarah itu bisa mengobati jutaan luka? (r8)

Berita Lainnya

Romantisme Rampok

Redaksi Lombok post

Mayoritas yang Minoritas

Redaksi Lombok post

Sampah-sampah Virtual

Redaksi Lombok post

Basuki, Trump, dan Mas Joko

Redaksi Lombok post

Sihir Tembakau

Redaksi Lombok post

Dewi Anjani dan Google

Redaksi Lombok post

Tuah Tanah Haram

Redaksi Lombok Post

Merindu Tanah Suci

Redaksi Lombok Post

Menimbang Pahlawan

Redaksi Lombok Post