Lombok Post
Metropolis

Dari Menggugat Tuhan Hingga Menyantuni Yatim

bok
BERBAGI: Jhon (baju orange), saat mengundang anak yatim di kediamannya Petemon, Pagutan, untuk syukuran bersama.

Jhon sosok yang punya semangat juang luar biasa. Dosen-dosen banyak yang berguru padanya. Ia penah menjuarai lomba balap kursi roda tingkat Nasional hingga akhirnya meledak namanya melalui karya-karyanya. Berikut kisahnya.

***

SUATUA� ketika, seorang sahabat bernama Suharso Surakarta, menawari Jhon sekolah di Solo. Bergabung, di Balai Besar Rehabilitasi Penyandang Cacat Seluruh Indonesia. Meski sempat ragu, namun karena ingin ada perubahan dalam hidup, Jhon pun mengiyakan.

a�?Tetapi sampai di sana, saya mulai bosan. Ilmunya, tidak sesuai dengan yang saya inginkan. Jauh dari Lombok, makan cuma tahun dan tempe, itupun setiap pagi dan sore,a�? katanya lalu terkekeh.

Pembicaan kami pun tersela. Istrinya, Asmara Wulandari membawakan kami secangkir kopi. a�?Kita join ya meton, ya beginilah Jhon. Bukan karena pelit, tapi ini bentuk rasa saudara kita,a�? ujarnya.

Kami kembali tertawa lebar. Sungguh pria yang menyenangkan. Gaya bertuturnya yang berapi-api, kadang berintonasi. Ditambah celetukan khas ada sesenggak (pepatah) orang tua sasak. Entah disadari atau tidak, meski kami baru bertatap muka pertama, Jhon terkadang merangkul, menepuk, bak kawan lama yang baru bersua.

a�?Kembali ke cerita, saya di Solo selama satu tahun, karena mau cari ilmu yang lain. Saya lebih sering keluar dari panti, belajar banyak ilmu terutama pijat terapi,a�? imbuhnya.

Dari ilmu pijat terapi itulah, ia akhirnya mendapat uang saku. Ia sendiri mengaku heran, teman-temannya yang dari Bali, Medan, Kalimantan, Sulawesi dan lainya, hampir setiap bulan selalu dikirimi uang saku dari Dinas Sosial Provinsi. Begitu juga dari orang tuanya.

a�?Tapi saya ngangak, maraq ruen panci telang kudung (tapi saya cuma bengong, seperti panci hilang tutupnya),a�? kembali ia terkekeh.

Tapi sudahlah. Ia tidak mau mengungkit-ungkit itu lagi. Dari kemampuan pijat terapi itu, ia lalu berusaha menabung. Hingga akhirnya, pas satu tahun, ia memutuskan kembali ke Lombok. Sesampai di daerahnya, rumah pertama yang didatanginya adalah orang tuanya.

a�?Saya dapat nabung, sekitar Rp 4 juta. waktu itu uang yang sangat banyak, jangan bandingkan dengan sekarang. Semuanya saya serahkan ke orang tua,a�? kenangnya.

Meski kemudian, ia masih enggan tinggal di rumah orang tuanya. Jhon memilih kembali ke rumah bosnya, Alex. Hingga beberapa bulan, tawaran kembali menghampirinya. Kali ini datang dari Sekolah Luar Biasa (SLB) Majeluk.

a�?Lupa saya nama bapak itu, tapi dia kepala SLB Majeluk,a�? terang dia.

Jhon menyanggupi. Masih lekat dalam ingatannya, bagaimana usaha dia menyeret-nyeret kursi roda pinjaman yang diberikan SLB padanya, dari Tembeloq hingga Majeluk. Setiap hari.

a�?Useng ke meton maraq kebeleq tolang botor (keringat saya sebesar biji botor), tapi saking ingin sekolah tetap saya jalani, itu setiap hari. Mau naik angkot gimana, makan saja susah,a�? ujarnya.

Ketika satu bulan mengenyam pendidikan di SLB, ia lalu diminta ikut dalam Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) di Jakarta, kategori lomba balap kursi roda, untuk siswa difabel. Babak penyisihan dilakukan di Rawamangun, Pulo Gading, Jakarta Timur. Lalu final di Gelora Bung Karno.

a�?Saya keluar menjadi juara pertama di sana. sempat mau diikutkan lomba ke Thailand, tapi saya tolak,a�? tukasnya.

Alasannya menolak, karena reward prestasi dari pemerintah jauh dari harapan. Baik itu pemerintah pusat atau provinsi. Galeng bedah bawaq berugaq, paleng lelah ndaraq upaq, ungkapan ini, makin membuat ia tak berminat diterbangkan ke negeri gajah putih itu.

a�?Saya memilih kembali, pada mas Alex, sampai suatu malam di titik jenuh saya, saya menggugat Tuhan,a�? bebernya.

Apa isi gugatan hati Jhon pada Tuhan?

a�?Saya bilang pada Tuhan, ya Tuhan, buat apa Engkau ciptakan aku seperti ini. Terlahir cacat dan tidak bisa berbuat apa-apa. Lantas buat apa saya hidup?a�? ulangnya. Ia merasa saat itu, hidupnya memang sudah pada titik nadir.

Namun, ia kembali tegar. Sebab, setiap kali motivasi hidupnya hancur, Jhon mengaku selalu mencari orang tua untuk menasehatinya selalu sabar. Dan itu berhasil. Kata-kata petuah bijak orang tua selalu membuatnya untuk lebih kuat menjalani hidup.

a�?Nah, serunya orang tua Sasak kan, kalau sehabis menasehati sering membuat lelucon, salah satunya adalah dengan menutupnya dengan sesenggak atau lagu. Yang paling saya ingat adalah sesenggak vulgar ini, Cing-cingak-cingak, lelandok berisi tanaq, nyeringket buit inaq, tesarok isiq amaq,a�? kutipnya.

Untuk kesekian kalinya, kami tertawa terbahak-bahak. Tapi, siapa sangka, lagu Sasak vulgar itu yang membuat namanya melambung menjadi pekerja seni yang sangat tenar.

Awalnya, kata Jhon, sebenarnya itu bukan lagu. Lebih mirip pantun. Tapi ia mengkreasikannya menjadi lagu. a�?Setiap ada pesta baik itu sunatan, perkawinan saya selalu diminta nyumbang, lagu itu saya selalu bawakan. Banyak yang senang, tetapi banyak pula yang marah karena terlalu vulgar,a�? ujarnya.

Lagu itu pun makin tenar di lingkungannya. Apalagi setelah ada sentuhan aransemen musik dari teman-temannya yang lantas menjadi cikal bakal, Jumpring Band. Namun, kemudian Jhon memang merasa, lagu itu kurang baik untuk dinyanyikan anak masih kecil. Ia lantas mengubah baitnya menjadi: Cing-cingak-cingak, lelandok berisi tanaq, tesiliq siq inaq, tempantok isiq amaq.

Bait lagu ini, menjadi sampiran untuk isi lagu Lampaq Ngaji yang familiar di telinga masyarakat Lombok.A� a�?Karena tidak punya modal, akhirnya kami coba-coba ajukan proposal pada Wali Kota dulu, almarhum HM Ruslan, alhamdulillah, beliau sangat berjasa bagi kami. Dari sana, dapat Rp 1 juta. Itulah yang kami pakai buat master lagu,a�? ulasnya.

Tidak beberapa lama, lagu Jhon yang Easy Listening akhirnya sampai ke telinga sebuah produser rekaman. Dia tertarik untuk memperbanyak dan memasarkan lagu. Sayangnya, mereka tidak mendapat royalti dari penjualan kaset.

a�?Jadi masternya hanya dibeli sekitar Rp 5 juta, ya kita bagi komak sama anak-anak, kejep meleng-kejep meleng, eh, habis,a�? terang dia.

Jumpring Band bisa disebut menjadi gong paling nyaring, hingga membuat industri band di Lombok mulai dilirik masyarakat. Setelah itu, bejibun band-band baru menyusul saat melihat Jumpring sangat diterima masyarakat. Sayang, di saat Jumpring mulai besar, band ini dilanda badai perpecahan.

a�?Saya ndak tahu apa sebabnya, mungkin karena saya cacat, saya dipecat,a�? tuturnya. Ia kembali tersenyum tapi kali ini terlihat lebih getir.

Sejak itulah, Jhon mengaku mulai merintis karir solonya. Sambutan dari produser musik pun tetap baik pada karya-karyanya. Beberapa album telah ditelurkannya. Tak hanya tawaran manggung di berbagai acara, sebuah produk kopi sachet, juga meminta Jhon untuk mengisi konser rutin di 15 titik di Lombok. Belum lagi permintaan dia membuat lagu.

Di rumah, untuk menopang karirnya di blantika musik, Jhon juga membuka usaha kecil-kecilan menjual baju, dengan nama toko a�?Silaq Mentelaha�?. a�?Tapi satu hal meton, saya tidak akan pernah bisa lupa bagaimana susahnya waktu kecil. Karena itu, setiap hasil konser atau manggung sebagian besar, saya sisihkan untuk mengundang anak yatim tasyakuran di sini. Saya pernah seperti mereka dan bisa merasakan pahitnya hidup mereka,a�? kata ayah dari Syazila Husna dan Muhammad Zaidan Asro.(LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram/r5)

Berita Lainnya

Ahyar Bakal Evaluasi Muslim

Redaksi LombokPost

UMK Jadi Pertimbangan Kenaikan Upah Honorer

Redaksi LombokPost

Hindari Berkendara Saat Hujan Lebat

Redaksi LombokPost

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost

Modal Awal Rp 800 Ribu, Kini Omzetnya Rp 2,5 Juta Sehari

Redaksi LombokPost

Hujan Deras, PDAM Tetap Ngadat

Redaksi LombokPost

Penyakit Menular Serang Anak Pengungsi

Redaksi LombokPost

Waspada ! Semua Pohon Berpotensi Tumbang!

Redaksi LombokPost

Lahan Menyempit, Petani Terjepit

Redaksi LombokPost