Lombok Post
Selong

TNGR Mengaku Tak Punya Anggaran Kebersihan

MENANTANG: Seorang pendaki nampak meniti jalur pendakian Rinjani beberapa waktu lalu.

SELONGA�– Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) kini tengah menjadi sorotan. Setelah terkait banyaknya sampah di Rinjani yang mencuat ke permukaan. Tanggung jawab pihak TNGR untuk menjaga kebersihan Gunung RinjaniA� dipertanyakan. Sayangnya, TNGR mengaku sudah tidak memiliki anggaran untuk menangani masalah sampah di Rinjani.

A�a�?Bisa dibilang begitu (tidak punya anggaran, Red). Karena sebelumnya kami memang telah menganggarkan Rp 500 juta untuk kebersihan. Tapi karena adanya rasionalisasi anggaran dari pusat, makanya anggaran kebersihan itu nggak jadi,a�? kata Kepala Seksi II Balai TNGR, Gustoni.

Akibatnya, dengan kondisi ini TNGR hanya mampu berbuat seadanya untuk menjaga kebersihan Rinjani. Yakni .A� Mengandalkan sukarelawan dari petugas TNGR secara berkala melakukan clean up. Selain itu mereka juga menaruh harapan pada kesadaran pendaki untuk tidak menyisakan sampah di atas gunung.

a�?Kan sesuai program Kementrian Keuangan semua instansi harus melakukan penghematan anggaran. Makanya betul-betul sekarang nggak ada anggaran untuk itu (Kebersihan, Red). Kepala balai sekarang masih mencari solusi untuk itu,a�? kata dia.

Dijelaskan, sebenarnya anggaran Rp 500 juta untuk kebersihan itu sudah berjalan sejak April hingga Juni. Namun sejak ada pemotongtan anggaran, maka sisa anggaran dari Rp 500 juta itu dipangkas. a�?Kami tidak tahu jumlah pastinya (anggaran kebersihan yang tersisa, Red), tapi untuk saat ini TNGR sudah tidak punya uang sama sekali. Hanya untuk gaji pegawai saja,a�? bebernya.

Menariknya, Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari retribusi Rinjani nilainya pertahun diungkapkan Gustoni cukup fantastis. Yakni mencapai Rp 4,5 miliar. Bersumber dari empat pintu yakni Sembalun, Senaru, Timba Nuh, Jeruk manis. a�?Itu yang paling banyak memang dari Sembalun,a�? cetusnya.

Sayangnya, dengan pendapatan tersebut, tak disisihkan anggaran untuk biaya kebersihan. Ini terntu menjadi ironi karena Rinjani dimanfaatkan sebagai penghasil uang tanpa diperhatikan kondisinya. Untungnya, untuk semenatara waktu ini pendakian di Rinjani ditutup akibat statusnya yang masih waspoada. Sehingga jumlah sampah tidak bertambah secara signifikan.

a�?Di semua pos petugas kami sudah berjaga agar tidak ada pendaki yang memaksa naik. Kalau untuk masalah kebersihan, Kepala Balai kini sedang memikirkan solusinya,a�? tandas Gustoni. (ton/r2)

Berita Lainnya

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Memahami Potensi Pemuda

Redaksi LombokPost

IGI Pertanyakan Kebijakan Sukiman

Redaksi LombokPost

26 Oven Untuk Petani Tembakau Lotim

Redaksi LombokPost

Pembangunan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi LombokPost

4564 Honorer Lotim Akan Dievaluasi

Redaksi LombokPost

Akhirnya Darmaga Labuhan Haji Dikeruk Juga!

Redaksi LombokPost

Ditilang, Siswa Madrasah Nangis Minta Pulang

Redaksi LombokPost