Lombok Post
Feature

Bikin Insenerator Sendiri, Atasi Empat Ton Sampah Sehari

PENGOLAH SAMPAH: Inilah tampak samping pengolah sampah Pondok Pesantren Haramain Narmada yang mampu membakar 4 ton sampah sehari.

Pada Pondok Pesantren Nurul Haramaian-lah, para kepala daerah di NTB kini harus menoleh. Pernah disiksa sampah dan tak berdaya, Pondok Pesantren di Narmada, Lombok Barat itu adalah contoh nyata, betapa sampah dapat ditaklukkan. Biayanya pun murah. Bagaimana bisa?

A�***

BERDIRI megah di lahan seluas 7,36 hektare, Pondok Pesantren Nurul Haramain sejatinya adalah tempat yang padat. Lihatlah, di sana saja kini sehari-hari beraktivitas 2.300 santri putra dan putri. Tinggal di sana, sekaligus menimba ilmu pula. Belum para guru, para ustadz dan juga para pengasuh.

Dengan penghuni sebanyak itu, maka sampah adalah masalah. Bukan masalah kecil. Tapi masalah besar. Sekadar ditumpuk dan menunggu kendaraan pengangkut sampah yang datangnya kadang ngadat, maka itu sama saja memelihara dan mengundang bau busuk.

Sungguh tak ada yang sudi, tinggal dengan sampah bau tengik macam itu. Tak pula para santri dan para ustadz dan pengasuh Pondok Pesantren Nurul Haramain.

Maka, para pengasuh pun memutar otak. Dulu pernah, pengasuh bekerja sama dengan petugas kebersihan. Mereka membayar iuran hingga Rp 6.000 per santri sebagai kompensasi sampah diangkut tiap hari. Namun, yang ada justru lelah sendiri. Mengingat kadang sampah tak bisa diangkut sepenuhnya. Sehingga masih menumpuk dan memproduksi aroma tak sedap.

Lalu berembuklan para pengasuh. Dan sepakat mereka untuk menghentikan ketergantungan pada petugas kebersihan. Mereka sepakat mengelola dan menangani sampahnya sendiri. Pilihannya membangun insenerator dengan dana dari kocek sendiri.

Sebuah bangunan insenerator pun dirancang dan dibuat. Bangunan dengan cerobong itu kini menjadi saksi, betapa sampah harian yang bisa mencapai empat ton sehari di Ponpes Nurul Haramain, bisa tertangani baik. Alhasil, ponpes itu pun bersih dan kinclong. Mereka pun tak lagi bergantung pada petugas kebersihan.

Bangunan insenerator itu ukuran panjangnya tiga meter dan lebar 1,5 meter. Tinggi bangunan juga 1,5 meter. Dinding luarnya berupa bangunan batu bata. Sementara bagian dalamnya ditempatkan pelat besi beton dengan ketebalan hingga 21 milimeter. Besi-besi itu akan memerangkap panas dan melumat apa saja yang dimasukkan di dalam insenerator. Sementara di bagian atas terdapat cerobong asap. Insnerator ini pun dilengkapi blower hingga 200 watt untuk memecah asap, dan memastikan asap tidak mengumpul pekat.

a�?Ini sudah disempurnakan berkali-kali. Terakhir penyempurnaan insenerator tahun 2015,a�? tutur TGH Hasanain Djuaini, pengasuh dan pimpinan Ponpes Nurul Haramain pada Lombok Post.

Kalkulasi luas bangunan, penempatan pelat besi beton dan cerobong memang harus benar-benar teliti dan presisi. Ini penting untuk menghasilkan pembakaran terbaik. Salah hitung juga bisa menjadikan suku cadang lebih cepat diganti. Tembok insenerator pun bisa retak dengan cepat, lantaran tak kuat menahan panas yang terus menerus.

Belajar dari pengalaman semenjak insenerator pertama mulai dibangun pada 2010, Hasanain mengaku kini telah menemukan sebuah komposisi yang pas.

Suhu di dalam insenerator yang kini dioperasikan sedikitnya mencapai 600 derajat celcius. Itu menjadikannya bisa melumat apa saja. Sehingga hanya akan tersisa menjadi abu semata.

Berapa biaya membangun insenerator tersebut? Tak mahal. Kata Hasanain, biayanya maksimal Rp 120 juta. Dengan biaya sebesar itu, maka insenerator yang tersebut digaransi bisa bertahan 10 tahun dengan pengoperasian terus menerus.

Lahan yang dibutuhkan pun tak luas. Insenerator itu kini digandeng dengan bangunan beratap dan berdinding terbuka. Yang digunakan untuk memilah sampah. Hanya itu. a�?Kapasitas insenerator ini 12 ton sampah sekali pembakaran,a�? kata Hasanain.

Untuk melumat empat ton sampah sehari, insenerator ini membutuhkan waktu lima jam. Di sana pun kini ada 20 petugas yang bertanggung jawab. Mulai dari memilah dan memilih sampah. Sampai dengan memasukkannya ke tungku pembakaran.

Butuh biaya sedikitnya Rp 3 juta per bulan untuk mengoperasikan alat pembakar sampah ini. Antara lain untuk gaji penjaga dan biaya listrik. Namun, biaya itu dapat ditutupi oleh sampah-sampah juga. Dari konsep 3R (reduce, reuse, recycle) sampah dipilah dan bisa dijual kembali. Seperti sampah botol plastik, kertas, atau bahan logam.

Sementara sampah yang diolah adalah sampah sehari-hari. Mulai dari sampah basah yang berasal dari dapur tempat memasak para santri. Dan juga sampah kering seperti bungkus makanan ringan dan juga kantong-kantong plastik.

Agar tak merepotkan, sistem pengelolaan sampah semenjak dari sumbernya pun dibuat. Para santri menjadi tulang punggung pengelolaan sampah yang tersistem ini. Mereka yang harus mengumpulkan sampahnya. Memilah semenjak dini. Antara sampah basah dan sampah kering.

Nantinya, para santri pula memiliki tugas mengumpulkan sampah dari dapur dan dari kamar mereka. Sampah ditempatkan pada tong sampah yang telah tersedia. Kemudian, petugas sampah mengambilnya untuk dibawa ke insenerator secara berkala.

Sebelum dibakar, sampah dipilah-pilah lagi. Mengecek sampah yang masih bisa termanfaatkan dan dijual kembali. Seperti botol plastik, kertas dan logam. Pemilahan juga penting untuk memastikan tidak ada barang-barang milik santri yang tak sengaja terbuang, tapi ikut dibakar. Misalnya ada pakaian yang masih layak pakai, atau piring, sendok, dan peralatan makan lainnya.

Ustadz Yusuf, salah seorang pengasuh Ponpes Nurul Haramain menambahkan, pesantren juga memberlakukan aturan ketat terkait disiplin membuang sampah. Siswa dilatih semenjak dini, untuk tertib memilah sampah yang mereka hasilkan setiap hari. a�?Ini juga menjadi salah satu kunci keberhasilan penanganan,a�? katanya.

Sanksi disiapkan bagi santri yang melanggar. Tak ada pembeda antara santri putri dan putra. Kalau buang sampah sembarang, mereka akan disanksi. Macam-macam bentuknya. Misalnya mengenakan pakaian seragam yang berbeda dari seharusnya. Dengan begitu, maka seluruh santri mengetahui, kalau yang pakai pakaian berbeda itu tengah dihukum.

Dengan pola ini, kedisiplinan para santri pun terbentuk. Khaerunnisa misalnya. Santri kelas XII Bahasa ini mengatakan, ketatnya peraturan kebersihan ponpes sangat berpengaruh di kehidupan sehari-harinya. Kala pulang di rumah pun, disiplin membuang sampah itu terbawa.

Dia menuturkan, peraturan kebersihan di ponpes berlaku selama 24 jam. Dimana setiap kamar ada yang piket untuk membersihkan kamar. Santri yang piket ini memiliki tanggung jawab menjaga kebersihan sekitar kamar selama sehari.

Untuk santri baru, memang ada masa orientasi selama tiga bulan. Dalam fase itu, ketika diketemukan membuang sampah sembarang, maka tak diberikan sanksi. a�?Memasuki bulan keempat, baru aturan ketat berlaku,a�? katanya.

Ardi, salah seorang satu putra pun merasakan hal yang sama pula. Namun kata dia, bersih adalah kebiasaan yang bagus.a�?Dulunya saya gak peduli sama kebersihan. Tapi setelah ada pendidikan di ponpes masalah kebersihan kebawa sampai pulang ke rumah,a�? tandasnya. Keren kan? (NURUL HIDAYATI,Lombok Barat/*/r8)

Berita Lainnya

Bilik Bercinta di Tempat Pengungsian yang Tinggal Cerita

Redaksi Lombok Post

Pengalaman Dramatis Pendaki Terjebak Gempa di Gunung Rinjani (1)

Redaksi Lombok Post

Mereka yang Tetap Tegar Menghadapi Gempa di Sambelia

Nasihat Mendiang Ayah Menjadi Pegangan Hidup Zohri

Mengunjungi Lalu Muhammad Zohri, Sang Juara Dunia

Lalu Muhammad Zohri, Sprinter Muda NTB yang Sabet Juara Dunia

Melihat Festival Layang-Layang Raksasa di Pantai Loang Baloq

Kisah Penambang yang Lolos dari Lubang Maut Sekotong (1)

Festival Seribu Bedug di Pulau Seribu Masjid

Redaksi Lombok Post