Lombok Post
Metropolis

Lurah Tongkrongi Penjual Tuak

tuak
BEBAS: Sejumlah botol yang menampung tuak dijual begitu bebas di pinggir jalan di daerah Pagesangan, kemarin (14/10).

MATARAM a�� Kritik yang disampaikan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi NTB Saiful Muslim terkait masih maraknya penjual minuman keras jenis tuak, ditanggapi Camat Mataram Amran M Amrin. Amran berjanji, segera menindaklanjuti dan mencari cara agar para penjual minuman keras tradisional di wilayahnya, mau patuh.

a�?Saya selalu support dengan dukungan MUI, dari segi apapun memang ini (jualan tuak) salah,a�? kata Amran.

Hanya saja, pendekatan yang dilakukan perlu dirubah. Tindakan represif harus jadi opsi terakhir.

A�a�?Lurah, bersama babinmaspol dan babinsa bisa turun setiap hari, tongkrongi mereka. Ajak berdiskusi, buat mereka apa yang dilakukan itu salah, saya yakin lambat laun mereka pasti mau patuh,a�? ulasnya.

Cara persuasif yang intensif seperti ini dinilainya tidak pernah dilakukan. Selama ini langkah yang dilakukan cenderung formalitas. Datang memberi peringatan, setelah itu hilang. Karena itu, ia berjanji akan merubah pola. Jika tidak ada respon sama sekali, baru tindakan represif dilakukan untuk memberi efek jera.

a�?Baru ambil tindakan tegas jika mereka memang bandel, kami akan minta satpol pp, atau aparat kepolisian yang memberi menereka tindakan pidana,a�? ancamnya.

Terpisah, HM Noer Ibrahim, yang juga sekretaris Komisi II DPRD Kota Mataram menilai dalam kasus ini, pemerintah berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, memenuhi komitmen untuk menekan para penjual tuak agar tidak terlalu demonstratif, tapi di sisi lain, terbentur oleh anggaran kompensasi bagi pedagang agar mau beralih ke sektor usaha lain.

a�?Harusnya kita kumpulkan mereka semua, lalu kita ajak diskusi, usaha apa yang sebaiknya jadi pengganti, dari pada melanggar aturan seperti ini,a�? kata Noor.

Noor mengkiritik terkait bantuan modal usaha selama ini sifatnya terlalu materialistik. Artinya, jika anggaran habis, pendampingan di lapangan enggan untuk menindaklanjuti lagi. Padahal masyarakat butuh dukungan moril untuk terus konsisten mengerjakan sektor usaha ekonomi mereka yang baru.

Ia khawatir, jika pola bantuan ini tetap seperti ini, rencana pemerintah untuk mengkompensasi para penjual tuak agar mau mengalihkan ke sektor usaha lebih positif tidak berlangsung lama. Lambat laun, berangsur-angsur mereka kembali jual tuak dan kompensasi bisa sia-sia.

a�?Jangan kita kasih modal, jika tidak diberengi dengan pembinaan,a�? tandasnya. (zad/r3)

Berita Lainnya

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost

Modal Awal Rp 800 Ribu, Kini Omzetnya Rp 2,5 Juta Sehari

Redaksi LombokPost

Hujan Deras, PDAM Tetap Ngadat

Redaksi LombokPost

Penyakit Menular Serang Anak Pengungsi

Redaksi LombokPost

Waspada ! Semua Pohon Berpotensi Tumbang!

Redaksi LombokPost

Lahan Menyempit, Petani Terjepit

Redaksi LombokPost

Pak Jokowi, Bebaskan Baiq Nuril!

Redaksi Lombok Post

Hati-Hati, Pohon Mulai Bertumbangan!

Redaksi LombokPost

Bikin Menu Nasiq Lobi Hingga Manuq Sebur Saus Lebui

Redaksi LombokPost