Lombok Post
Oase

Sihir Tembakau

Zulhakim

SUATU hari di pedalaman Jawa pada permulaan abad ke-17, sebuah warung ramai dirubung pembeli. Sebagian besarnya adalah lelaki yang tersihir kemolekan Rara Mendut, si kembang warung. Saking cantiknya, sebagian mengira jika dia bukan manusia, tapi dewi kayangan yang nyasar di pasar Prawiramantren, Mataram. Rara Mendut tahu betapa parasnya demikian memikat, maka apapun yang ia jual pasti laku meskipun di luar kelaziman.

Di tempat ini ia mejual rokok setengah rupiah perbatang, tapi puntung rokok harganya puluhan kali lipat. Kadang puntung ini bisa seharga sapi dewasa, tergantung kondisinya. Tapi toh, demi merasakan puntung yang leceh oleh bekas bibir dan liur Rara Mendut, pembeli tetap mengantre.

Boleh jadiA� Sosok Rara Mendut dalam kisah PranacitraA� ini adalah catatan tertua tentang penggunaan sales promotion girlA� (SPG)A� dalam industri rokok di Nusantara. Sejenis direct selling memanfaatkan kemolekan tubuh perempuan yang lazim digunakan untuk merangsang minat para pembeli dewasa ini.

Demikianlah bisnis bergerak, ia akan menggunakan beragam cara untuk mendekatkan produk dengan konsumen. Dari cara ini pula Rara Mendut meraup untung untuk membayar denda kepada Tumenggung Wiraguna yang ingin menyunting dirinya.

Awalnya tembakau sendiri merupakan barang impor yang dibawa para pelaut Spanyol dan Portugis ke Asia.A� Babad Ing Sangkala menyebut kebiasan merokok mulai ramai di Jawa di tahun-tahun meninggalnya Panembahan Senopati, ayah Sultan Agung Raja Mataram sekitar tahun 1601.

Tanaman ini merupakan produk asli suku-suku pribumi di benua Amerika. Ketika mendarat pertama kali di San Salvador rombongan pelaut oportunis yang dipimpin Christopher Columbus menyaksikan keajaiban ini. Orang-orang Indian setengah telanjang menghisap pipa dengan asap harum berwarna putih. Ada juga yang melintingnya seperti cerutu moderen.

Para pendatang ini terkesima, mencicipi dan segera mereka jatuh suka pada sensasinya. Dari sinilah harum tembakau berlayar ke Eropa untuk kemudian menjalar ke belahan bumi lainnya bersama hasrat penjajahan.

Di Eropa tembakau kemudian menjadi simbol status sosial. Hanya mereka yang berkantong tebal yang bisa mengonsumsinya. Tapi perlahan tanaman ini berkembang luas dan dikonsumsi secara masal. Tembakau dikonsumsi dengan berbagai cara, ada yang dibakar, dikunyah ataupun dicium. Tergantung selera.

Disinilah kritik mengenai kebiasaan merokok mulai tumbuh. Polemik a�?halal-harama�? hingga manfaat dan mudaratnya mengemuka bersama gulipat keuntungan yang mengalir dari bisnis tembakau.

Konon di tahun 1604 seorang Raja James I dari Inggris ikut mengutuk kebiasaan baru ini sebagai sebuah laku yang kurang beradab. Merokok dianggap sebagai kebiasaan yang A�merendahkan harga diri karena meniru kebiasaan para budak di Amerika latin.

Tapi para pembela tembakau juga tak kalah argumen Edmund Gardner enam tahun kemudian memaparkan manfaat medis dari tembakau dalam The Trial of Tobacco. Ada juga pembelaan legendaris dari pujangga Inggris, Lord Byron dengan quote nya yang terkenal di abad ke 20 a�? Give me a cigara�?.

Sementara di Nusantara Tembakau kemudian menjadi bagian tak terpisahkan dari kebiasaan masyarakat dalam berbagai bentuk dan varian. Para pengunyah sirih memilih mako susut untuk menapis liur merah bekas gambir dan sirih. Para pendatang China meraciknya dalam boto-botol mungil menjadi tembakau cium.

Adapun di abad ke 19, A�Haji Jamhari dari Kudus melinting tembakau bersama rajangan tembakau dengan cengkih untuk menghilangkan sakit di dadanya. Lintingan ini ketika dibakar menghasilkan bunyi dan aroma yang khas. Dari sinilah orang mengenal Rokok Kretek.

Ketika kini rokok tumbuh menjadi Industri besar para penentang juga tak kalah besar. Dampak kesehatan menjadi alasan utama kenapa rokok harus diperangi sampai ke akar-akarnya. Tapi Rp 139,5 triliun cukai tembakau yang disetor ke kas negara 2015 lalu bukan jumlah yang kecil. Ini belum termasuk jutaan orang yang makan dari hulu-hilir industri rokok tanah air. Angka-angka ini selalu menjadi senjata ampuh yang melindungi pabrik rokok ketika para penentangnya menyerang. Darimana negara bisa dapat Rp 139,5 triliun saban taun?

Kondisi ini mirip-mirip ketika Pemerintah Hindia Belanda didesak untuk melarang penjualan candu di awal abad 20. Mirip kongsi rokok, persatuan pak opium adalah sekelompok orang dengan kuasa kelewat besar dari pajak candu yang mereka setor ke negara.

Hasrat para pecandu yang ketagihan adalah sumber uang, sementara para penentang kukuh dengan alibi kesehatan dan dampak buruk yang mengancam. Dalam ranah agama para ulama juga ditarik untuk mengeluarkan fatwa haram. Tarik menarik kepentingan ini terus A�berulang. Siapakah yang menang?

Penulis : Zulhakim, tinggal di Ampenan

Berita Lainnya

Romantisme Rampok

Redaksi Lombok post

Mayoritas yang Minoritas

Redaksi Lombok post

Sampah-sampah Virtual

Redaksi Lombok post

Basuki, Trump, dan Mas Joko

Redaksi Lombok post

Mengenang 1965

Redaksi Lombok Post

Dewi Anjani dan Google

Redaksi Lombok post

Tuah Tanah Haram

Redaksi Lombok Post

Merindu Tanah Suci

Redaksi Lombok Post

Menimbang Pahlawan

Redaksi Lombok Post