Lombok Post
Sudut Pandang

Birokrasi Sinergis

DALAM sepekan terakhir, saya bersyukur karena menghadiri paling tidak tiga forum diskusi yang kontributif dengan topik berbeda. Salah satu poin yang sama dari forum-forum tersebut ada pada kata a�?sinergia�?, yang dijadikan sebagai salah satu solusi untuk menyelesaikan persoalan yang tengah dihadapi, sekaligus dapat dijadikan sebagai garansi untuk meraih sukses bersama di masa depan.

Sinergi menjadi kata kunci yang a�?wajiba�? diterapkan dalam setiap aktivitas yang melibatkan banyak unsur dengan berbagai karakter dan kepentingan di dalamnya. Dalam konteks pemerintahan misalnya, sinergi antar kementerian atau SKPD menjadi keharusan birokrasi untuk menjamin program atau visi dan misi pimpinan dapat diwujudkan. Bahkan sampai pada lingkup organisasi terkecil pun tidak bisa mengabaikan sinergitas kala menjalankan aktivitas kelembagaan secara kolektif.

Acap kali terbengkalainya program dalam suatu organisasi disebabkan minimnya sinergitas di antara anggotanya. Bisa dibayang betapa tidak karuannya program lembaga bila masing-masing unsur pimpinan yang ada di dalamnya berjalan sendiri tanpa koordinasi dan sinkronisasi program yang mereka kerjakan.

Setiap pimpinan merasa hebat karena telah bisa merealisasikan agenda di bagian mereka sendiri, padahal sangat mungkin bahwa apa yang dilakukan misorientasi karenaA� kontraproduktif dengan program di bagian lain. Atau capaian yang sudah diraih oleh satu bagian akan kembali ke titik nol karena tidak bergeraknya program dari unit yang lainnya. Dalam konteks inilah pentingnya koordinasi dan mensinergikan program dengan unit lain yang ada dalam organisasi atau di luar lembaga sekalipun.

Sinergitas tidak hanya dihajatkan untuk bisa mengatasi beragam persoalan dalam setiap lembaga, tetapi juga bermanfaat untuk mempercepat tercapainya tujuan bersama dan untuk bisa sukses dan meraih keuntungan berjamaah.

Dalam persoalan illegal loging misalnya, tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan dan keberanian Dinas Kehutanan untuk memastikan seluruh hutan tetap lestari tanpa pembalakan liar terhadap kekayaan hutan, tetapi membutuhkan komitmenA� yang super tinggi dari pihak polisi hutan, aparat keamanan seperti kepolisian dan TNI, serta berbagai unsur lainnya baik di internal pemerintah daerah mapun lembaga-lembaga vertikal yang relevan.

Memberantas illegal loging tidak hanya memikirkan pencuri kayu, tetapi sangat perlu mengurus nasib masyarakat lingkar hutan agar mereka sejahterah dan memiliki kemampuan untuk menjaga kelestarian hutan. Persoalan kesejahteraan komunitas lingkar hutan menjadi masalah yang hingga saat ini belum tuntas diselesaikan.

Di NTB misalnya, dalam catatan Dinas Kehuatanan provinsi ini (Lombok Post, 22 Oktober 2016) bahwa 40 persen warga miskin pedesaan di NTB adalah penduduk yang tinggal di kawasan hutan. Dengan data sederhana ini saja sudah cukup untuk menjadikan masyarakat lingkar hutan sebagai target utama yang harus diberdayakan.

Dalam persepektif kejahatan, data tersebut di atas memungkinkan bahwa komunitas lingkar hutan merupakan masyarakat yang rentan dengan godaan para pencuri kayu sehingga sangat mudah mereka bisa ditarik menjadi bagian dari komplotan para pelaku illegal loging. Memberdayakan komunitas lingkar hutan tidak cukup dengan mengimbaunya atau menceramahinya dengan dalil-dalil agama, tetapi juga diperlukan pemberdayaan nyata yang bisa merubah nasib mereka dari miskin ke berada (berkecukupan).

Untuk mewujudkan hal ini, butuh intervensi dari dinas atau SKPD lainnya. Sebut misalnya Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa, atau Dinas Sosial, Kependudukan dan Catatan Sipil, atau dinas-dinas lainnya yang relevan.

Pada persoalan-persoalan yang berhubungan langsung dengan masyarakat lainnya memerlukan sinergi yang tidak kalah sengitnya. Dalam persoalan kebersihan dan sampah misalnya, sangat membutuhkan sinergi maksimal dari unsur terkait. Menyelesaikannya tidak cukup dengan menambah anggaran pada dinas kebersihan, tetapi perlu mengintervensi dengan penguatan program dinas atau unit terkait lainnya seperti Dinas Kesehatan, Badan Lingkungan Hidup, Dinas Pendidikan, dan SKPD yang relevan lainnya.

Menyelesaikan persoalan sampah tidak hanya menyingkirkan sampah, tetapi juga menghilangkan sifat dan sikap kotor/jorok dari masyarakat. Dalam konteks inilah sinergitas lintas SKPD menjadi prioritas untuk dilakukan. Sinergi yang tidak kalah pentingnya terkait dengan sampah adalah lintas daerah karena hampir semua kota (seperti DKI dan juga kota Mataram NTB) membuang sampahnya di kabupaten tetangga.

Di samping mendorong penyelesaian masalah, sinergi antar birokrasi juga diharapkan mampu mempercepat pembangunan atau mewujudkan inovasi-inovasi dalam program bersama yang mereka akan lakukan. Dalam pembangunan desa misalnya, tidak lagi sekedar mengandalkan kemampuan dan potensi desa sendiri, tetapi juga memerlukan sinergi dengan desa-desa lainnya yang terdekat dan memiliki kesamaan komitmen untuk berinovasi dalam pembangunan. Pola dan model pembangunan seperti inilah yang belakangan dikenal dengan pembangunan desa berbasis kawasan atau pembangunan kawasan perdesaan.

Esensi pembangunan sesungguhnya ada di desa, karena birokrasi inilah yang berhadapan langsung dengan masyarakat. Membangun desa secara sinergis dengan desa lainnya dalam bingkai kawasan perdesaan merupakan solusi yang tepat untuk mengatasi ego sektoral masing-masing desa sekaligus untuk mengoptimalkan potensi yang ada di desa. Masing-masing desa selama ini kebanyakan masih berjalan sendiri untuk mengurus wilayahnya. Pembangunan berbasis kawasan dapat mendorong mereka untuk duduk dan menyusun agenda bersama guna mengoptimalkan potensi yang mereka miliki.

Bila setiap desa memiliki kesadaran untuk membangun secara sinergis dengan desa lainnya, maka soliditas antardesa bisa terwujud. Soliditas untuk terus bersama mewujudkan kawaaan yang aman tanpa konflik, soliditas untuk melawan segala gangguan terhadap kawasan dari a�?penjahat-penjahata�? luar desa, dan

Berita Lainnya

Sudah Ikhlaskah Nonpribumi Berindonesia?

Redaksi Lombok Post

Universitas Islam Negeri (UIN) dan Spirit a�?DNAa�? Baru

Redaksi Lombok Post

Selamat Jalan Pengawal Budaya Mbojo

Redaksi Lombok post

Melawan Musuh Bangsa

Redaksi Lombok post

Media Sosial dan Ruang Publik

Redaksi Lombok post

Makna Simbolik Kunjungan Raja Salman

Redaksi Lombok post

Pendidikan Nirkekerasan

Redaksi Lombok post

Kasih Sayang yang Tidak Mengenal Hari

Redaksi Lombok post

Habib Rizieq: Antara Benci dan Rindu

Redaksi Lombok post