Lombok Post
Selong

Setiap Sudut Bangunan Mengandung Filosopi

BERTAHAN: Warga penghuni salah satu rumah di bale pituq saat menjalankan ibadah salat zuhur beberapa waktu lalu.

Terbuat dari tanah liat, kayu,A� bambu dan batu pituq bale rumah adat warga Sembalun diyakini telah berdiri delapan abad. Dibalik keberadaannya banyak nilai historis dan filosopi yang terkandung di dalamnya.

***

Masuk ke dalam kawasan pituq bale membawa pengunjung kembali ke A�masa lampau. Dinding-dinding tua A�pituq bale menggambarkan bagaimana masyarakat setempat hidupA� dan beradaptasi dengan kawasan vulkanis ini.

Pituq bale di Desa Beleq, Sembalun tidak kosong. Dari tujuh rumah yang ada, salah satu rumah berpenghuni. Tepatnya di rumah paling ujung dari gerbang pintu masuk. Namanya Amaq Ruwadi. Ia tinggal di dalam rumah ini bersama istrinya.

Di sini ia hidup normal layaknya warga pada umumnya. Hidup mengandalkan hasil pertanian dan membeli perbekalan di area pemukiman Sembalun. Saat disambangi Lombok Post, Amaq Ruwadi tengah mengurus A�tanaman kentang yang tak jauh dari kediamannya.

Sementara istrinya nampak sedang berwudu dengan air dari celah-celah bebatuan yang mengalir dingin.A� Kentang adalah A�salah satu komoditas unggulan di Sembalun. Termasuk bagi Amaq Ruwadi yang juga membudidayakannya.

a�?Kadang nanam A�bawang. Tapi saat ini masih nanam kentang,a�? tuturnya.

Amaq Ruwadi menuturkan ia memang telah lama tinggal di dalam salah satu dari pituq bale ini. Dikatakannya, ini adalah warisan dari kedua orang tuanya. Dulunya ia pun tinggal di sini bersama putra-putrinya.

a�?Anak-anak mau tinggal di rumah batu (rumah modern, Red). Tapi kami memilih tinggal di sini saja,a�? ungkapnya sambil mengarahkan padangan kepada istrinya yang sedang menunaikan salat.

Dijelaskannya, salah satu rumah yang ditempatinya memilki konstruksi yang sama dengan enam rumah lainnya. Tidak ada perbedaan. Satu ruangan tamu dan satu ruang tidur. Bahkan, untuk menjawab rasa penasaran koran ini A�ia mengajak masuk ke dalam rumahnya.

A�a�?Ruangan yang agak luas ini adalah tempat berkumpul keluarga sekaligus tempat memasak. Di dalam yang agak sempit ini adalah ruang istirahat,a�? ungkapnya.

Semua lantai dari A�tanah liat. Sedangkan dindning tersusun atas bilah-bilah bambu yang dianyam dengan baik. Ini terlihat menyatu dengan atap kecoklatan dari tumpukan ilalang. A�Yang menarik pintu masuk berada di bangian tengah. Butuh beberapa anak tangga untuk mencapainya.

Dari penuturan Ketua Adat Masyarakat Sembalun Ustad Arrahman Sembahulun, anak tangga yang berjumlah tujuh ini mengandung filosopi tersendiri. Tangga pertama dijelaskan memiliki makna ketaatan kepada tuhan. Tangga kedua, A�kepada Rasulullah Tangga ketiga kepadaA� syariat agama. Keempat pada lingkugan dan kelima kepada masyarakat. Sementara tangga keenam kepada keluarga A�dan ketujuh adalah untuk A�diri sendiri.

a�?Bagi masyarakat Sembalun filosopi bahwa Allah SWT adalah selalu yang utama. Kemudian kepentingan masyarakat banyak harus lebih diutamakan dari kepentingan keluarga dan diri sendiri.,a�? jelas Arrahman Sembahulun. (Hamdani Wathoni/ Selong/r2)

A�

 

Berita Lainnya

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Memahami Potensi Pemuda

Redaksi LombokPost

IGI Pertanyakan Kebijakan Sukiman

Redaksi LombokPost

26 Oven Untuk Petani Tembakau Lotim

Redaksi LombokPost

Pembangunan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi LombokPost

4564 Honorer Lotim Akan Dievaluasi

Redaksi LombokPost

Akhirnya Darmaga Labuhan Haji Dikeruk Juga!

Redaksi LombokPost

Ditilang, Siswa Madrasah Nangis Minta Pulang

Redaksi LombokPost

SKD Selesai, Banyak Formasi CPNS Lowong

Redaksi LombokPost