Headline Metropolis

Ini Parah, Sangat Parah! Pelajar SMP Pesta Tramadol

siswa

MATARAM – Mimpi buruk menimpa dunia pendidikan Kota Mataram. Walau sudah diingatkan, betapa bahayanya obat keras jenis Tramadol, namun generasi muda belum juga sadar.

Buktinya, Tramadol sudah meracuni banyak anak-anak kota. Terutama yang masih bersekolah.

Selasa siang kemarin (25/10), 27 anak di SMPN 22 Mataram, tertangkap pesta Tramadol. Terdiri dari 21 siswa dan 6 siswi dari berbagai kelas.

Ancaman ini sangat serius. Mengingat efek dari pengguna Tramadol yang dapat merusak mental dan fikiran anak. a�?Mereka bahkan berani melawan guru. Jika membentak mereka lebih keras membentak,a�? kata Lurah Bertais, Lalu Muksan Jalaludin, geram.

Muksan mengaku sangat khawatir. Apalagi, anak-anak yang tertangkap kemarin cukup banyak. Lima anak yang menjadi a�?otaka�� peredaran Tramadol, sudah diamankan pihak kepolisian. Sementara 27 anak itu statusnya disebut korban.

a�?Mereka masukkan dalam kopi, kemudian diminum,a�? ungkapnya.

Saat ini, lanjut dia, pihaknya akan menyisir kembali. Adanya kemungkinan obat keras daftar G Tramadol itu juga beredar banyak di sekolah lain.

Ia juga meminta semua pihak, baik pendidik dan masyarakat terlibat aktif melaporkan dan mencegah peredaran obat berbahaya ini. a�?Kalau ada yang dicurigai, segera laporkan pada kami,a�? imbaunya.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMPN 22 Mataram, Samsul Hadi menuturkan, pihaknya sekitar satu minggu terakhir ini memang merasa ada yang tidak beres. Sejumlah guru diminta untuk menyelidiki penyebabnya. Sampai akhirnya, beberapa diantaranya polos bercerita.

a�?Mereka menunjukan perilaku yang aneh. Berani melawan guru, bahkan satpam kami pun pernah mau dikeroyok anak-anak ini,a�? bebernya.

Sebelumnya mereka memang mereka sudah lebih dahulu menyadari. Hanya saja berusaha disimpan rapat-rapat. Sayangnya, hasilnya nihil. Meski sudah diingatkan untuk tidak mengulangi perbuatannya, anak-anak itu kembali mengulangi.

“Kalau diingatkan apalagi di jewer kan kami yang pasti disalahkan, bisa-bisa kami dilaporkan (dipolisikan),a�? imbuhnya.

Karena itulah, ia akhirnya memutuskan melaporkan pada aparat kelurahan, Binmaspol dan Babinsa. Dengan harapan ada efek jera bagi anak-anak itu.

Namun, Samsul mengaku ia masih akan berupaya mendidik anak-anak, agar mau menjauhi Tramadol. Jika kembali diulangi, maka upaya terakhir adalah memberhentikannya. a�?Kita serahkan pada orang tuanya (termasuk lima pengedar),a�? tandasnya.

M (Inisial, Red) mengaku hanya terpengaruh teman-temannya. Awalnya ia hanya mendengar kalau itu, hanya semacam obat penyemangat belajar. Obat itu, dibeli dengan harga Rp 3 ribu perbutirnya.

Dengan polos ia mengaku tidak tahu-menahu jika obat itu berbahaya bagi kesehatannya. a�?Ndak (pernah coba dirumahnya), di sini aja,a�? ketusnya.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kota Mataram, Sudenom mengaku sudah menerima laporan tertangkapnya anak-anak yang berpesta Tramadol. Ia mengatakan, pihaknya memang tidak bisa berbuat banyak. Upaya mempersempit ruang Tramadol masuk ke lingkup sekolah sangat tergantung pada anak didik.

a�?Kebiasaan itu mereka bawa dari luar sekolah, gimana mau kita cegah?a�? cetusnya.

Ia mempersilakan pihak kepolisian mengusut kasus hukum lima anak yang menjadi pengedar obat keras daftar G itu. Saat ini ia belum bisa menentukan kebijakan apakah mereka masih bisa diterima di sekolah atau diberi tindakan tegas.

a�?Kita tunggu hasil dari proses hukumnya, baru kita putuskan (pecat atau tidak),a�? tegasnya.

Anggota Komisi IV DPRD Kota Mataram, TGH Mujiburrahman menyayangkan pemerintah kecolongan kembali dalam menghadang pengaruh obat keras daftar G, masuk ke dunia pendidikan. Harusnya, lanjut dia, pemerintah bisa bergerak lebih dahulu, menghadang obat keras ini merusak generasi muda. a�?Sangat kita sayangkan,a�? kata Mujib.

Menurutnya, ini membuktikan bahwa pemerintah masih kesulitan mewujudkan Mataram yang Maju, Religius dan Berbudaya. “Bagaimana mau maju, generasi kita rusak, bagaimana mau berbudaya anak didik kita rusak mentalnya, bagaimana mau religius jika sikap mereka jauh dari tuntunan agama,a�? ulasnya.

Ke depan, pemerintah harus merancang sistem pendidikan yang terintegrasi. Dimana peran tidak hanya ditumpukan pada guru, tetapi harus melibatkan orang tua murid.

a�?Alokasi waktu mereka kan lebih banyak di luar sekolah, maka peran orang tua sangat penting menghadang bahaya Tramadol ini,a�? tandasnya. (zad/r5)

Related posts

Makan Cilok, 27 Anak Terkapar

Redaksi Lombok post

Apes..!!! Gagal Jual Hasil Curian, Terduga Maling Motor Malah Masuk Bui

Redaksi Lombok Post

Dewan Tawarkan Dua Solusi

Redaksi Lombok post