Lombok Post
Metropolis

Kalah Pamor Lawan Perkakas Stainless

box
TUNGGU PELANGGAN: Suhur, pandai besi pinggir jalan di komplek Pasar Hewan Selagalas saat menanti pelanggan yang hendak membeli aneka perkakas buatannya, Selasa (25/10) lalu.

Mataram makin berkembang. Pola dan gaya hidup masyarakatnya juga berubah. Untuk perkakas besi rumah tangga saja, kini serba pabrikan. Hal itu membuat para pandai besi tradisional makin tersisih.

***

TepatA� di depan Pasar Hewan Selagalas, seorang pria duduk termenung dengan sejumlah perkakas di depannya. Ada pisau, sabit, parang, golok, dan aneka barang sejenis lainnya. Pria bernama Suhur itu tampak lesu.

Ketika matahari sudah tepat di atas kepala, belum banyak yang mendatanginya kala itu. “Baru laku satu pisau ini, harganya cuma Rp 5.000,a�? ceritanya.

Mengisi waktu sembari menunggu pembeli, ia memutuskan untuk melanjutkan aktivitas membuat perkakasnya. Ya, Suhur bukan sekadar penjual. Ia juga adalah seorang pandai besi. Itu terlihat dari tumpukan bara panas yang menyala di sebelahnya.

Bermodalkan alat sederhana, ia membuat api terus menyala. Di tempat itu jua ia menempa besi menjadi perkakas yang diinginkan. Sebuah roda besi menjadi alat utamanya untuk menghasilkan api panas yang menyala-nyala.

Untuk satu perkakas sederhana, butuh waktu seharian membuatnya. Itupun masih harus diasah dan dipoles lagi.

Soal kualitas, ia berani bertaruh. Jika memang ada pembeli yang butuh kualitas terbaik, dan sanggup membayar dengan harga yang sesuai, ia mengklaim dapat memenuhinya. “Buatan saya tak kalah tajam dan kuat dari pedang Jepang,a�? katanya membandingkan hasilnya dengan pedang Katana, pedang tertajam di muka bumi.

Namun kemampuannya itu tak berbanding lurus dengan penghasilannya. Bisa membawa pulang uang Rp 20 ribu saja, sudah sebuah prestasi baginya di zaman ini. Dia yang sudah puluhan tahun menghirup aroma besi, harus kalah dengan buatan pabrik.

Perkakas-perkakas pabrikan kini memang merajalela. Berbahan campuran, berbagai pabrik kini bisa membuat besi menjadi tahan karat. Stainless steel, begitu orang menyebutnya. Itulah yang perlahan namun pasti memakan usaha Suhur dan kawan-kawannya. Tak heran kini mereka yang tersisa di sana tak lebih dari lima orang.

Padahal dulu, ada puluhan yang berjualan di sana. Itu belum termasuk lokasi-lokasi berjualan lain di seluruh sudut Mataram. Diakuinya, besi buatan pandai besi tradisional memang bisa berkarat. Namun bisa diasah menurutnya menjadi kelebihan yang tak bisa ditandangi pisau dan perkakas stainles steel.

Kendati secara tampilan pisau pabrikan jauh lebih menarik, setelah dipakai beberapa lama, ketajaman barang-barang itu menurutnya akan berkurang. “Kalau buatan saya, makin lama makin bagus, bisa diasah pula,a�? ujarnya.

Namun, segala promosi yang ia lakukan tetap tak bisa membalikkan keadaan. Ia seolah tinggal menunggu waktu untuk tamat. Setelah waktu itu datang, mungkin tak akan terdengar lagi cerita pandai besi jalanan yang dulu sempat merajai Mataram. (WAHYU PRIHADI, Mataram./r5)

Berita Lainnya

Muslim Masih Duduk Manis

Redaksi LombokPost

Bahagia Setelah Miliki Kantor Tetap

Redaksi LombokPost

Rusunawa Nelayan Terkendala Lahan

Redaksi LombokPost

Panel Limit, Risha Krodit

Redaksi LombokPost

Jabatan Muslim Dievaluasi

Redaksi LombokPost

Janji Manis Jadup Bernilai Rp 4,58 M

Redaksi LombokPost

2.368 Formasi CPNS Bakal Lowong

Redaksi Lombok Post

EMAS HITAM DARI NTB

Redaksi Lombok Post

Liburan ke Pantai Penghulu Agung Ampenan Juga Asyik Loo..!!

Redaksi LombokPost