Lombok Post
Bima - Dompu

Warga Tolak Bibit Bantuan Pemerintah

PROTES: Sejumlah warga Desa Punti mendatangi Kantor Camat Soromandi, kemarin. Mereka protes kualitas bibit jagung bantuan pemerintah yang dinilai berkualitas rendah.

BIMA – Warga Desa Punti, Kecamatan Soromandi menolak bibit jagung bantuan pemerintah Kabupaten Bima. Bibit jagung yang diberikan sudah rusak.

Selain itu, bibit jagung yang diserahkan kepada petani itu dalam kondisi basah. Kualitas bibit juga dianggap rendah. “Ini penipuan namanya. Kami dikasih bibit jagung yang basah dan kualitasnya rendah,” kata salah seorang warga Punti, Fajrin kepada Lombok Post via telepon, kemarin.

Penolakan warga dibarengi pula dengan aksi. Mereka mendatangi KCD Pertanian Soromandi. Di situ, mereka mempertanyakan bibit yang disalurkan. Hanya saja, warga tidak mendapatkan jawaban dari KCD maupun penyuluh pertanian.

Aksi protes yang dikomandoi Fajrin ini berlanjut. Ia bersama warga lain mendatangi Kantor Camat Soromandi. Kedatangan mereka itu untuk meminta penjelasan terkait bibit jagung yang disalurkan ke sejumlah kelompok tani.

Saat berada di kantor camat, Fajrin dan warga tidak mendapat penjelasan yang memuaskan. Camat setempat hanya menjanjikan bakal memanggil KCD dan penyuluh pertanian guna diklarifikasi.

“Kami kecewa dengan pemerintah Kabupaten Bima. Bibit jagung yang didrop ke kami tidak sesuai dengan standar,” keluh pria alumni STKIP Bima ini.

Fajrin menuturkan, bibit jagung itu diterima kelompok tani di Dusun Dorombubu, Selasa (25/10) sore. Bibit tersebut dibawa salah seorang penyuluh pertanian bernama Syaiful dan dikawal pihak Koramil dan Polsek Soromandi.

“Ada 17 kardus bibit jagung yang diterima salah satu kelompok tani di Dusun Dorombubu, Desa Punti,” sebutnya.

Di Desa Punti ada enam kelompok yang mendapat jatah bibit jagung bantuan pemerintah. Menurut Fajrin, ada keanehan pada bibit jagung yang disalurkan kepada warga. Pada kardus bibit itu jagung mereknya Bima 20 Uri, bukan Bisi 18. Di kardus itu pula terdapat tulisan SK Mentan Nomor 505/keputusan/SR.120/12/2013. Sementara, perusahaan bernama PT Esa Sarwaguna Adinata.

“Seharusnya bibit program pemerintah pusat yakni Bisi 18. Tapi yang didrop itu bukan bibit tersebut,” ungkapnya.

Warga lain Rifaid Masrun menegaskan, bibit itu ditolak oleh masyarakat karena tidak sesuai dengan standar. Sedangkan di desa lain seperti Desa Kananta, Kala, dan Palama mendapat bibit bantuan dengan merek Bisi 18.

“Kenapa kami diberi bibit yang tidak berkualitas,” protesnya.

Ia khawatir jika bibit itu ditanam tidak akan tumbuh dengan baik. Apalagi, bibit disalurkan ini dalam kondisi basah.

“Ini bibit lokal, tapi dikasih ke kami. Sangat lucu ini,” terang Rifaid yang juga penerima bantuan bibit itu.

Saat ini, bibit tersebut masih menumpuk di rumah salah satu ketua kelompok tani. Warga enggan menerima bibit itu sebelum diganti dengan bibit Bisi 18. “Belum dibagikan karena warga menolak,” pungkasnya. (jlo/r4)

 

Berita Lainnya

IKKB Papua Barat Bantu Korban Gempa

Redaksi LombokPost

Etos Kerja Harus Meningkat selama Ramadan

Pemkot Bima Lanjutkan Perbaikan Infrastruktur Sisa Banjir

Redaksi LombokPost

Miliki Sabu, IRT Diringkus

Ops Ketupat Gatarin 2018 Dimulai

Masih Ditemukan Makanan Kedaluwarsa

Penataan Ama Hami Dilanjutkan

Berkas Ketua PDIP Kota Bima Dilimpahkan ke Kejaksaan

Redaksi LombokPost

KPU Kota Bima Mulai Lipat Surat Suara