Ekonomi Bisnis

Bisnis Perak Tetap Eksis

MATARAM – Bisnis perhiasan berbahan perak di Mataram tetap eksis. Konsumennya rata-rata para pecinta batu akik. Karena pamor batu akik sudah meredup, tidak sedikit dari para pecinta batu akik ini yang memburu perak.

Miza Silver merupakan salah satu pebisnis perak di Kamasan, Kota Mataram. Dia merintis usahanya A�sejak 20 tahun terakhir. Perak produksinya tidak hanya dijadikan perhiasan cincin, juga untuk gelang, kalung, serta souvenir.

“Perkembangan bisnis perak ini memang tidak seramai tahun sebelumnya,” kata Miza kepada Lombok Post kemarin (27/10).

Miza sendiri pernah bekerja di salah satu bank swasta di Mataram. Hanya saja, dia berhenti dan memilih melanjutkan bisnis ayahnya. Dengan modal Rp15 juta untuk membeli bahan baku dan operasional bisnis perak tersebut. Dari satu plat perak, dia bisa menghasilkan tiga pasang cincin dan kalung. Harganya bervariasi antara Rp200 ribu hingga Rp500.000.

Permintaan perhiasan perak sejauh ini stabil. “Artinya setiap hari ada saja yang datang untuk membeli. Biasanya kami memenuhi pesanan tergantung jenis barangnya,” ujarnya.

Bagi Miza, bisnis perak merupakan bagian dari seni. Sebab, tidak sedikit dia menerima pesananan dengan ukiran-ukiran tertentu. Dalam usahanya dia dibantu empat perajin. Perak-perak tersebut dibuat sesuai pesanan.

Selain untuk ikatan batu cincin, ada juga cincin yang terbuat perak murni. Harganya pun cukup mahal sesuai kerumitan ukirannya. “Ya tergantung ukiran dan besarnya,” ungkap Miza.

Akhir tahun merupakan waktu di mana para pebisnis perak ini ketiban untung. Bagaimana tidak, tingkat kunjungan wisata yang melonjak tentu dimanfaatkan untuk meningkatkan omzetnya.

Di hari biasanya, Miza dapat meraup untung hingga Rp20 juta perbulan. Sedangkan dalam masa liburan, terutama liburan akhir tahun, keuntungannya bisa berlipat.

Tidak sekadar menjual perak, dia juga menyediakan perhiasan lain, seperti mutiara air laut. Satu butir mutiara dijual seharga Rp50 ribu per gram. Selain itu, terdapat beberapa souvenir berupa keris serta hasil kerajinan lainnya yang terbuat dari perak.

Salah satu souvenir yang dijual adalah miniatur cidomo terbuat dari tembaga. Harganya pun mencapai Rp450 ribu. Miza optimistis bisnis perak akan tetap dilirik menyusul semakin meningkatnya pariwisata NTB.

“Kalau bicara perak, pastinya ada di Kamasan, Kota Mataram tepatnya di Jalan HOS Cokroaminoto,” tegas Miza.

Adab, salah seorang pelanggan di Miza Silver mengaku sangat terkesan dengan produk yang dihasilkan. Dia sering memburu perak di kawasan Kamasan.

Warga Karang Buaya,Pagutan ini berharap Pemerintah Kota Mataram memperhatikan kawasan Kamasan sebagai salah satu basis bisnis perak. Dengan begitu, Mataram sebagai salah satu destinasi wisata dan pusat pemerintahan benar-benar dilirik wisatawan baik nusantara maupun mancanegara.

“Kamasan ini perlu diperhatikan sebagai salah satua kawasan perajin perak,” tandas Adab. (tan/r3)

Related posts

BPJS Ketenagakerjaan Tekan Kemiskinan Baru

Redaksi Lombok post

Pengiklan Swasta Lebih Disukai

Redaksi Lombok post

Santika Rayakan Pencapaian 100 Hotel

Redaksi Lombok post