Lombok Post
Bima - Dompu Headline

Bima a�� Dompu Darurat Tramadol

NARKOBA BARU : Foto-foto pengungkapan kasus tramadol di Kota Bima, Kabupaten Bima, dan Kabupaten Dompu. Sepanjang tahun 2016 ini, tiga daerah ini dibuat resah dengan peredaran tramdol yang masuk ke kampung-kampung dan sekolah.

Setahun terakhir minunam keras (Miras) memiliki kawan baru. Obat-obatan yang bisa dijumpai di apotek, tramadol, kini menjadi narkoba baru. Anak muda, pemuda pengangguran, orang tua, bahkan sampai pelajar SMP mulai dirasuki tramadol. Perlu upaya serius, tak sekadar menangkap pengecer, untuk memutus rantai peredaran tramadol.

***

Pada tahun-tahun sebelumnya Kota Bima dan Kabupaten Bima dibuat pusing dengan peredaran sofi (minuman keras tradisional), kini lebih dibuat pusing dengan tramadol. Sofi gampang dikenali karena bau dan butuh wadah yang cukup besar. Sementara tramadol yang berbentuk butiran pil bisa disimpan dimana saja. Tak heran dalam beberapa kali pengungkapan kasus, membuat tercengang banyak kalangan. Tramadol dijual di sekolah.Para siswa pesta tramadol saat jam sekolah. Ini mengindikasikan tramadol sulit diawasai dan sudah masuk ke sekolah-sekolah dan kampung-kampung.

Pekan lalu Reserse Mobil (Resmob) Detasemen A Brimob Bima mengamankan sekitar 800 ribu papan tramadol. Obat daftar G itu diamankan dari tangan Mul,A� warga Melayu Kota Bima. Pelaku diamankan bersama rekannya berinisial M di sekitar Terminal Dara Kota Bima, Rabu (26/10).

Penangkapan ini hasil dari pengembangan kasus sebelumnya. Rupanya pelaku yang ditangkap ini bukan pemain baru. Dia juga terlibat dalam kasus serupa. Iwe, pelaku lain yang lebih dulu ditangkap buka kartu. Menyebutkan nama-nama orang yang juga mengedarkan tramadol. Aparat kepolisian bergerak cepat dan berhasil mencegah tramadol itu beredar. Bisa dibayangkan jika 800 ribu papan atau jutaan biji tramadol itu beredar di masyaralat.

Dari keterangan Mul, obat itu kiriman dari Surabaya. Jutaan butir tramadol itu dikirimA�A� melalui bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) Titian Mas.

”Kita tangkap saat kedua pelaku hendak mengangkut barang itu dengan mobil pikap. Paket dikirim dengan dus besar yang dimasukan ke dalam karung warna putih,” Kanit Reserse Mobil (Resmob) Detasemen A Brimob Bima Bripka Adi Baro.

Pada Minggu (23/10) saat warga Kota Dompu asyik menikmati liburan, Satuan Resrim Narkoba Polres Dompu mengamankan 5 ribu strip tramadol di depan Terminal Ginte. Tramadol itu dititip di dalam bus Titian Mas jurusan Surabaya a�� Bima. Tak ada alamat penerima barang. Tak ada keterangan pengirim barang. Ketika polisi membuntuti bus sampai ke tujuan, barang titipan berisi tramadol itu tak diambil. Ini mengindikasikan jika operasi itu bocor. Bisa jadi diantara penumpang bus itu sendirilah yang memiliki barang yang haram diedarkan bebas itu.

Kasatres Narkoba Ipda Ma’rufuddin mengatakan, dari hasil interogasi yang dilakukan pada sang sopir berhasil mengungkap, jika 50 ribu butir tramadol yang dipaket dalam dua dus besar itu merupakan kiriman dari Surabaya dengan tujuan Kota Bima. Sang sopir mengaku tidak mengenali pengirim maupun penerimanya.

“Anggota melakukan pengintaian hingga sore hari (sampai agen bus tutup,red)A� tidak ada satupun yang mengambil kirimannya,a��a�� katanya.

Dari dua kasus diatas terungkap jika tramadol dikirim melalui Surabaya. Dititip melalui bus yang melayani penumpang antarprovinsi. Tramadol yang tidak berbau menyengat tentu saja mudah diselundupkan. Apalagi ketika memasuki pelabuhan,A� tidak semua barang penumpang diperiksa detail. Bisa jadi pengiriman dari bus ini sudah berlangsung lama. Jika ditelusuri kasus tramadol di Kabupaten Bima dan Kota Bima, kasus ini mulai marak tahun 2014 lalu.

Dari data Radar Tambora (Lombok Post Group), penemuan tramadol kali pertama tahun 2014 di Lingkungan Lewisape, Kelurahan Sarae, Kota Bima. Saat itu aparat menggelar operasi dan ditemukan tramadol dijual bebas di lapak pedagang. Petugas yang operasi heran kenapa ada obat yang dijual terbatas di apotek dijual bebas di masyarakat. Saat itu kasus konsumsi tramadol belum separah dan sebanyak saat ini.A� Pada tahun itu, penemuan tramadol bebas di masyarakat itu dianggap sebagai kelalaian. Belum ada indikasi jika ada jaringan rapi yang mendistribusikan.

Pada bulan Juli 2015, kembali ditemukan tramadol. Saat itu tramadol yang ditemukan mencapai ratusan biji. Aparat mulai siaga, sebab makin hari makin banyak tramadol yang ditemukan bebas dijual. Akhir 2015 ditutup dengan penemuan 130 butir tramadol di Dusun Niu, Desa Panda, Kabupaten Bima. Penemuan di dusun itu sontak menyadarkan semua kalangan jika tramadol sudah masuk ke kampung-kampung.

Maret 2016 tramadol ditemukan beredar di Ambalawi Kabupaten Bima. Selang sebulan, 220 tramadol ditemukan di Dusun Ronamasa, Desa Kambilu, Kecamatan Wawo, Kabupaten Bima. Lagi-lagi tramadol sudah masuk ke dusun-dusun terpencil.

Agustus 2016 publik dihebohkan dengan pengungkapan ribuan tramadol yang dititip di kantor salah satu ekspedisi di Kota Bima. Penemuan itu menjadi titik terang jika tramadol selama ini diedarkan melalui kurir resmi. Artinya mereka memanfaatkan jasa pengiriman barang secara resmi. Pada Agustus 2016 juga terungkap jika ada salah satu apotek di Bima yang diduga menyalahgunakan tramadol. Dalam muatan barang mereka tercatat jika isinya barang makanan ringan. Tapi setelah digeledah berisi ribuan tramadol.

Melihat rangkaian pengungkapan tramadol di atas, terbukti jika obat penghilang rasa nyeri yang biasa diberikan setelah operasi ini sudah lama beredar luas. Entah siapa yang memulai, obat ini tiba-tiba dikonsumsi secara bebas dan beredar luas di tengah masyarakat.

Jika ditelusuri pengakuan Mul yang ditangkap pekan lalu, barang itu pesanan pertamanya. Karena selama ini ia merupakan orang suruhan Iwe yang sudah jadi tersangka dalam kasus yang sama. A�Ini menunjukkan jika para pelaku utama peredaran tramadol bertambah. Jika sekarang mereka menjadi orang suruhan, setelah mengetahui rantai distribusi mereka menjadi bos baru.

Polisi perlu menelusuri jaringan pengiriman itu. Apalagi dalam dua penemuan pekan lalu, barang itu dikirim melalui bus yang sama Titian Mas. Sangat janggal jika pihak sopir bus mau menerima titipan barang yang tidak jelas siapa pengirim dan tidak jelas penerimanya. Jangan sampai modus seperti ini sudah berlangsung lama. Mengingat penemuan tramadol bebas di masyarakat terjadi sejak tahun 2014. Entah sudah berapa juta butir tramadol yang beredar di tengah masyarakat.

Bisnis tramadol ini memang menggirukan. Satu papan berisi 10 butir dijual dengan harga Rp 20 hingga 25 ribu. Padahal jika dibeli di apotek, harga hanya setengahnya. Artinya keuntungan penjualan obat ini sangat menggiurkan. Walaupun dijual di apotek, tramadol tidak sembarangan diberikan. Harus sesuai resep dokter.

A� ”Tramadol ini dilarangA� untuk dijual bebas,” kata Kanit Reserse Mobil (Resmob) Detasemen A Brimob Bima Bripka Adi Baro.

Kasat Narkoba Polres Bima Kota IPTU Jusnaidin menjelaskan, sopir mobil pengangkut tramadol masih dimintai keterangan. Informasinya, barang tersebut merupakan milik IA,warga BTN Pepabri Kota Bima.

“Shb mengaku hanya disuruh untuk mengantarkan barang tersebut,” katanya menjelaskan kasus penangkapan tramadol yang di Jalan M Salahuddin, pekan lalu. (Bima a�� Dompu /r4)

Berita Lainnya

Korban Gempa Tagih Janji Jokowi

Redaksi LombokPost

Bantuan Air Bersih Dihentikan

Redaksi LombokPost

Pembangunan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi LombokPost

Pilkades Serentak Harus Dievaluasi

Redaksi LombokPost

4564 Honorer Lotim Akan Dievaluasi

Redaksi LombokPost

Akhirnya Darmaga Labuhan Haji Dikeruk Juga!

Redaksi LombokPost

7.000 Petisi Penolakan Juknis Bantuan Gempa

Redaksi LombokPost

Target Diprediksi Meleset!

Redaksi LombokPost

Jembatan Sungai Jangkuk Longsor!

Redaksi LombokPost