Metropolis

Punya Bayi, Kerap Pulang Malam

boks

Tidak semua guru yang mengajar di Kota Mataram tinggal di sekitar kota. Beberapa guru justru tinggal di tempat yang cukup jauh. Salah satunya Nirmala, guru SMAN 1 Mataram.

***

PUKUL 06.00 Wita, Nirmala sudah beranjak meninggalkan rumah. Berangkat dari Batujai Lombok Tengah menuju Kota Mataram. Dia berkendara puluhan kilometer untuk menjalankan tugas mengajarkan ilmu pada para siswanya di Mataram.

Nirmala merupakan sosok bersahaja. Murah senyum dan supel dalam bertutur kata. Ini yang membuat siapapun merasa nyaman saat berbincang dengannya.

a�?Pulangnya kadang jam 9 atau setengah 10 malam,a�? ujarnya mengawali cerita.

Guru Bahasa Jepang ini menuturkan, sebelum mengajar di SMAN 1 Mataram, ia pernah mengabdi di sebuah sekolah Lombok Tengah A�pada tahun 2007 hingga tahun 2009. Letak sekolah tersebut juga cukup jauh dari rumahnya di Batujai.

a�?Susahnya saya tidak bisa naik motor sendiri,a�? sambungnya.

Untuk menuju tempatnya mengajar, setiap harinya dia harus naik angkutan umum. Begitu juga sebaliknya. Hal itu terus berlanjut hingga dua tahun. Akhirnya ia mengikuti tes CPNS dan lulus sebagai guru di Kota Mataram.

a�?Saya langsung dapat SK mengajar di SMAN 1 Mataram,a�? kata wanita yang akrab disapa Mala tersebut.

Tak banyak tantang ketika mengajar di sekolah tersebut. Tantangan terbesar justru datang dari luar sekolah. Apalagi selain karena dia tidak bisa mengendarai kendaraan sendiri. Akibatnya setiap hari ia harus diantar ke sekolah oleh adik perempuannya yang kebetulan juga bekerja di Mataram. Tantangan semakin besar setelah ia melahirkan putri pertamanya, Aya Sofia Mumtaza. Usianya yang masih balita membuatnya khawatir meninggalkannya sendiri. Ia pun terpaksa harus menitipkan anaknya padaA� orang tuanya di Batujai.

a�?Yah jadinya ngerepotin semua orang,a�? pungkas wanita penyuka drama itu.

Hal ini juga membuatnya tidak bisa menetap lagi di Mataram. Ia terpaksa harus bolak-balik Batujai-Mataram. Sebab bayinya masih membutuhkan ASI.

Tak hanya itu, kini ia tak hanya mengajar di SMAN 1 Mataram. Mala juga mengajar di SMAN 7 Mataram dan SMAN 2 Labuapi. Hal ini cukup menyita banyak waktunya. Apalagi di hari Sabtu, Ia harus mengajar di tiga sekolah tersebut.

a�?Dari Batujai langsung ke SMA 1 baru ke SMAN 7, kemudian ke SMAN 2 Labuapi, setelah itu pulang lagi ke Batujai,a�? jelasnya.

Hal ini cukup menyulitkan, terutama bagi seorang ibu dengan anak yang masih balita. Kesibukannya hingga malam hari tak pelak membuatnya jatuh sakit. Meskipun hanya sakit ringan. Seperti pilek, batuk, dan flu.

Keluarganya pun akhirnya protes. Namun hanya sementara, sebab mereka mengerti dengan kesibukan yang ia jalani. Begitu juga dengan putrinya, tak pernah rewel meski ditinggal sepanjang hari.

a�?Bayi saya mengerti dengan kesibukan ibunya,a�? kata wanita yang pernah ikut training guru sedunia oleh Japan Foundation di Jepang tersebut.

Meski sibuk dan lelah, keluarga baginya tetap nomor satu. Ia selalu mengutamakan quality time bersama keluarga. Terutama untuk sang bayi yang sedang dalam masa pertumbuhan.

Mala selalu menyempatkan diri untuk bercengkrama bersama suami dan anaknya. Begitu juga dengan keluarga lainnya. Meskipun harus dengan cara mencuri waktu yang kosong.

a�?Sebisa mungkin harus tetap berbagi bersama keluarga,a�? tandasnya. (FERIAL AYU, Mataram/r3)

Related posts

Cie..Cie…Panas Gara-gara PSK

Iklan Lombok Post

Ngabuburit Yuk!

Redaksi Lombok Post

Cakranegara Bakal Seindah Malioboro

Redaksi Lombok Post