Lombok Post
Ekonomi Bisnis

Pembiayaan Syariah Tumbuh 8 Persen

PASAR SYARIAH: Wagub NTB H Muh. Amin (dua dari kiri) dan Bupati KLU H Najmul Akhyar (tiga dari kanan) bersama pejabat OJK, dan Bank Indonesia, saat membuka acara Pasar Keuangan Syariah di Lombok Epicentrum Mall, Mataram, kemarin (3/11).

MATARAM – Tahun ini perlambatan ekonomi sangat dirasakan. Meski demikian, untuk pembiayaan di perbankan syariah menunjukkan hal yang positif. Ini terlihat dari data terakhir (September 2016) dimana pembiayaan perbankan syariah tumbuh 8,01 persen. a�? Ini fenomena nasional, bukan hanya NTB,a�? kata Kepala OJK NTB Yusri di sela-sela pembukaan Pasar Keuangan Syariah di Lombok Epicentrum Mall, Mataram, kemarin (3/11).

Data yang dihimpun OJK, perkembangan syariah semua mengalami pertumbuhan yang melambat, baik aset, dana pihak ketiga (DPK) dan lainnya. Dari aset, perkembangan syariah hingga September 2016 baru 3,63 persen. Sedangkan Desember 2015 tumbuh 6,19 persen.

a�?Kalau DPK September 2016 tumbuh 5,78 persen. Ini jauh melambat bila dibandingkan Desember 2015 yang tumbuh 9,5 persen,a�? papar Yusri.

Dia menyebutkan, perlambatan seperti ini tidak hanya terjadi pada perbankan syariah, tetapi juga perbankan konvensional. Tentunya hal ini dikarenakan pertumbuhan industri keuangan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi secara umum. Kondisi ini juga dipengaruhi kondisi perekonomian global, misalnya perlambatan ekonomi Cina. a�?Ini semua memengaruhi perekonomian kita,a�? jelasnya.

Kondisi ini masih akan dirasakan sampaikan tahun 2017 mendatang. “Kalau tahun depan mungkin tidak jauh beda dengan tahun ini. TetapiA� ini akan dilihat lagi nanti,” katanya.

Sementara itu Wakil Gubernur NTB H Muh. Amin menilai pasar keuangan syariah yang diselenggarakan di LEM sangat penting sebagai upaya memajukan perekonomian syariah.A�Diketahui bersama sistem ekonomi syariah telah membuktikan keandalannya dibanding sistem ekonomi kapitalis yang dikembangkan di negara-negara maju.

Sistem ekonomi kapitalis maupun sosialis, ternyata tidak sejalan dengan konsep ekonomi di negara-negara berpenduduk mayoritas muslim, termasuk Indonesia. Kehadiran lembaga perbankan syariah dianggap sebagai kekuatan baru. Pengalaman juga membuktikan, di tengah-tengah krisis moneter tahun 1998, ketika bank-bank konvensional berguguran, ekonomi syariah mampu bertahan. Kemampuan itu semakin mempertegas posisi ekonomi syariah sebagai salah satu potensi penopang perekonomian nasional yang layak diperhitungkan.A�a�?a�?Ini seiring dengan meningkatnya kesadaran dan semangat untuk menerapkan nilai-nilai Islam dalam berbagai kegiatan, termasuk pada sektor ekonomi,a�? terangnya.

Ekonomi syariah mempunyai tujuan untuk memberikan keselarasan bagi kehidupan di dunia. Nilai Islam bukan semata-semata hanya untuk kehidupan muslim saja, tetapi seluruh makhluk hidup di muka bumi. Esensi proses ekonomi syariah adalah pemenuhan kebutuhan manusia yang berlandaskan nilai-nilai Islam guna mencapai tujuan agama (falah). Ekonomi syariah menjadi rahmat seluruh alam, yang tidak terbatas oleh ekonomi, sosial, budaya dan politik dari bangsa. a�?Lewat ekonomi syariah yang berkeadilan ini kami berharap Indonesia dan NTB yang menjadi bagian darinya akan menjadi bangsa yang maju, sejahtera, dan kuat ke depannya,a�? harapnya. (nur/r1)a�?a�?

Berita Lainnya

ILBB-Ancora Foundation Bantu Korban Gempa Lombok

Redaksi Lombok Post

Bank Mandiri-Hiswana Migas-Pertamina Jalin Kerjasama

Redaksi Lombok Post

Soft Opening Jannah Tour and Travel Meriah

Redaksi LombokPost

Masyarakat Didorong Gunakan Produk Lokal

Redaksi LombokPost

FWD Life Resmi Hadir di Lombok

Redaksi Lombok Post

Golden Palace Hotel Dikunjungi Wakil Duta Besar Australia

Redaksi Lombok Post

BI Sosialisasi Kartu GPN di Kota Bima

Redaksi Lombok Post

Distribusi Kartu Berlogo GPN Dekati Target

Redaksi LombokPost

Avian Brands Peduli Bangun Kembali Lombok

Redaksi Lombok Post