Lombok Post
Feature

Satu Keluarga, Yang Meninggal Empat Sekaligus

boks
SEKELUARGA BERDUKA: Keluarga Amaq Mukminah, warga Dusun Tanak Embang Daye, Desa Selebung, Batukliang, Lombok Tengah, keluarga empat TKI meninggal korban kapal karam di Batam, sedang berkumpul, tadi malam (3/11).

Duka mendalam menerpa keluarga Amaq Mukminah, warga Dusun Tanak Embang Daye, Desa Selebung, Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah. Anak, menantu, dan cucunya tewas dalam musibah kapal TKI yang tenggelam di Batam. Tak terbayangkan perih yang akan dihadapi keluarga ini, manakala empat keranda sekaligus diantar ke rumah.

***

KALA kabar duka itu datang, tangis keluarga Amaq Mukminah tumpah. Berkumpul mereka satu keluarga, meriung, dan saling berupaya menguatkan bersama. Tapi, dalam posisi yang mereka hadapi, siapa yang bisa membendung air mata?

Tadi malam, kala Lombok Post menyambangi kediaman keluarga ini, duka belum beranjak. a�?Saya tidak bisa membayangkan, empat keranda mayat diantar ke rumah ini,a�? kata Amaq Mukminah di kediamannya.

Empat keluarganya menjadi korban meninggal kapal nahas dari Malaysia menuju Batam, Kepulauan Riau, yang mengangkut para TKI dan diidentifikasi tanpa dokumen lengkap.

Anak pertamanya atas nama Makhrun dan menantunya Zaenab, sudah teridentifikasi. Begitu juga Atun, cucunya, dipastikan tak selamat, meski jasadnya belum ditemukan dan teridentifikasi.

Pun begitu, anak keduanya Aisyah yang hamil dua bulan. Juga meninggal ditelan ganasnya ombak. a�?Kalau dihitung dengan kehamilan anak saya Aisyah, maka jumlahnya lima orang,a�? ujar Amaq Mukminah. Dia menundukkan kepala. Terlihat sekali pria yang beranjak sepuh ini berusaha tegar. Menggigit bibir, bertutur sembari menahan air mata agar tak meleleh.

Kabar duka itu datang sehari sebelumnya. Yang mengabarkan kata Amaq Mukminah adalah suami Aisyah, menantunya. Tak ada firasat apapun. Manakala telepon genggam berdering, tadinya telepon itu diterima dengan perasaan senang. Namun, hanya sekejap.

Di ujung telepon, M Halil, suami Aisyah yang selamat dari musibah menyampaikan kabar duka itu. Kepada ayah mertuanya, Halil sempat menceritakan betapa dia berupaya menolong istri tercintanya. Menggenggam tangannya, dalam upaya mereka berdua menjejak daratan, berenang mencari selamat. Tapi, apa daya. Ombak dahsyat datang menggulung. Tangan Aisyah terlepas. Perempuan 27 tahun itu turut ditelan ombak bersama janin yang baru berusia dua bulan.

Halil yang diujung pasrah, tertolong saat sebuah kapal nelayan melihat badannya terombang-ambing di tengah lautan. a�?Selain itu, saya dihubungi anak saya yang lain di Malaysia atas nama Mahrip. Dia kebetulan tidak ikut rombongan,a�? kata Amaq Mukminah.

Anaknya dari lain ibu itu, kata dia menceritakan sempat melarang keluarga terdekatnya tersebut untuk pulang ke Lombok. a�?Tapi, yang namanya musibah. Mau bagaimana lagi,a�? katanya getir.

Di malam duka, Amaq Mukminah beserta keluarga di rumah di Dusun Tanak Embang Daye Desa Selebung, hanya bisa berdoa, agar seluruh keluarganya itu diterima amal ibadahnya oleh Sang Maha Pencipta. Pria yang sudah lupa umur dan tahun berapa lahirnya tersebut, tidak bisa menuntut apa-apa kepada pemerintah. Kecuali, menunggu kedatangan jasad anak, menantu dan cucunya.

Anak pertamanya Makhrun yang berumur 49 tahun, sempat menghubungi melalui telepon genggamnya dan meminta untuk dibuatkan jajanan keciput dan jajanan ketan hitam. Itu disampaikan sebelum menaiki perahu.

Permintaan itu pun disanggupinya. Namun, siapa sangka, itulah komunikasi terakhirnya pada sang anak. Makhrun pergi untuk selama-lamanya.

Anaknya itu sendiri, berangkat ke Malaysia sejak 14 tahun silam. Kemudian, disusul keluarga lainnya sejak empat tahun lalu. Di Malaysia, mereka konon bekerja sebagai peternak kambing dan petani kelapa sawit. Hampir setiap bulan mereka mengirim uang ke rumah.

Sejak 14 tahun meninggalkan rumah, kata Amaq Mukminah, baru kali ini anaknya pulang ke Lombok. Begitu pula keluarga yang lain.

Kini, seluruh keluarga besar berupaya berbesar hati. a�?Kami ikhlas,a�? kata Slamet, salah seorang keluarga dekat menambahkan.

Pria yang bekerja sebagai staf desa di Mantang itu mengaku, biodata keluarganya tersebut justru tertulis dari Desa Mantang. Bukan, Desa Selebung. Permasalahan itu pun membuat pihaknya berharap, agar jasad keluarganya itu diantarkan ke Desa Selebung. Bukan sebaliknya.

Sementara itu, kepala desa (kades) Mantang Zainal Abidin mengatakan, memang benar nama-nama yang dimaksud merupakan warga Desa Mantang. Namun, berdomisili di Desa Selebung. Kendati demikian, pihaknya menekankan agar hal itu tidak perlu dipermasalahkan. Karena, keberangkatan mereka diduga tidak prosedural.

a�?Dari 20 dusun di desa kami ini. Tujuh dusun di antaranya, merupakan kantong para TKI. Rata-rata terpaksa melalui jalur illegal,a�? bebernya, terpisah.

Senada dikatakan Kabid Tenaga Kerja Dinas Sosnakertrans Loteng H Masrun. Dikatakannya, mereka yang terkena musibah itu, tidak terdata di Dinas Sosnakertrans secara resmi. a�?Mohon ini dijadikan pelajaran bagi seluruh warga kita di Loteng,a�? imbuhnya. (DEDI S SOPIAN, Lombok Tengah/r8)

Berita Lainnya

Bilik Bercinta di Tempat Pengungsian yang Tinggal Cerita

Redaksi Lombok Post

Pengalaman Dramatis Pendaki Terjebak Gempa di Gunung Rinjani (1)

Redaksi Lombok Post

Mereka yang Tetap Tegar Menghadapi Gempa di Sambelia

Nasihat Mendiang Ayah Menjadi Pegangan Hidup Zohri

Mengunjungi Lalu Muhammad Zohri, Sang Juara Dunia

Lalu Muhammad Zohri, Sprinter Muda NTB yang Sabet Juara Dunia

Melihat Festival Layang-Layang Raksasa di Pantai Loang Baloq

Kisah Penambang yang Lolos dari Lubang Maut Sekotong (1)

Festival Seribu Bedug di Pulau Seribu Masjid

Redaksi Lombok Post