Lombok Post
Metropolis

Pantang Meminta, Tetap Usaha Meski Sudah Tua

BERJUANG: Papuq Nurmah, si penjual pisang di perempatan Catur Warga saat menawarkan dagangannya pada pengguna jalan

Ditinggal wafat sang suami, jelas pukulan berat bagi Papuq Nurmah. Ia kehilangan sosok imam, kekasih, dan sahabat, juga panutan. Namun perempuan 85 tahun ini berusaha tegar. Ia berjuang menjaga harga diri dengan segala keterbatasan.

***

Tatapannya sayu. Jalannya sudah lunglai. Suaranya tak lagi jelas. Papuq Nurmah menghampiri setiap kendaraan yang berhenti di simpang empat Catur Warga.

Dengan sisa-sisa tenaga yang masih dimiliki, ia berjuang. Setandan pisang di kepala yang dibawa menjadi penanda, kalau ia sedang berusaha. Satu tandan lagi dipegang erat-erat dengan kedua tangan yang sudah keriput.

Menjanda sejak bertahun-tahun silam pasca dikematian sang suami, Papuq Nurmah tak memiliki banyak pilihan. Perempuan 85 tahun asal Lingsar itu harus tetap menyambung hidup. Seorang anaknya yang terbujur sakit di rumah juga menambah beban si nenek renta.

“Kalau tak kerja mau makan apa,a�? katanya dengan Bahasa Sasak yang sangat kental.

Menjual pisang di sana sudah dijalani sejak beberapa tahun terakhir. Sebelumnya ia berkeliling dari satu rumah ke rumah lain di Mataram untuk menjual aneka kerajinan gerabah dari tanah liat. Dia juga pernah mencoba usaha menjual sapu lidi. Di sejumlah pasar, di emperan toko, aneka jenis dagangan juga pernah dicoba.

Ketegaran si nenek lantaran wasiat suami tercinta. Sesaat sebelum meninggal, ketika sakit sedang menderanya, Papuq Nurmah mengatakan suaminya pernah berpesan. Pesannya sederhana, kurang lebih memintanya untuk tak menyerah, terus berusaha bertahan hidup, penekanannya ada pada cara bertahan hidup yang halal dan baik. a�?Makanya saya tak minta-minta,a�? ujanya.

Kini, dengan usianya yang makin menua, sisa-sisa tenaga yang dimiliki harus terus diforsir. Sesaat setelah azan subuh, ia bergegas berangkat dari gubuknya di Lingsar. Sebuah mobil bak terbuka tetangga yang juga bekerja di Mataram ditumpangi nenek itu. Terlebih dulu pasar terdekat menjadi tujuan utama.

Di sana, ia membeli pisang, terkadang juga aneka buah lain. Setelah itu, ia kembali harus berpanas ria di bagian belakang mobil bak terbuka menuju tempatnya mangkal.

Janda tua yang penuh kesusahan itu seolah tak mengeluh. Dengan sisa tenaga yang ada, sedari pagi hingga sore ia berjualan di sana. Pengendara jalan yang iba padanya, kerap memberikan uang lebih pada si nenek. Namun, tak pernah terlontar sekali pun dari bibir hitamnya itu kalimat meminta uang. a�?Ada saja rejeki, orang di sini baik-baik,a�? ujarnya.

Saat pulang di sore hari, ia masih harus menyisakan tenaga untuk si anak yang sedari pagi ditinggalkan. Tetangga yang membantu mengurus anaknya saat ia pergi tentu tak akan dibebani 24 jam. a�?Sampai rumah, urus anak, besok subuh berangkat lagi cari uang,a�? pungkasnya. (WAHYU PRIHADI, Mataram./r5)

Berita Lainnya

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost

Modal Awal Rp 800 Ribu, Kini Omzetnya Rp 2,5 Juta Sehari

Redaksi LombokPost

Hujan Deras, PDAM Tetap Ngadat

Redaksi LombokPost

Penyakit Menular Serang Anak Pengungsi

Redaksi LombokPost

Waspada ! Semua Pohon Berpotensi Tumbang!

Redaksi LombokPost

Lahan Menyempit, Petani Terjepit

Redaksi LombokPost

Pak Jokowi, Bebaskan Baiq Nuril!

Redaksi Lombok Post

Hati-Hati, Pohon Mulai Bertumbangan!

Redaksi LombokPost

Bikin Menu Nasiq Lobi Hingga Manuq Sebur Saus Lebui

Redaksi LombokPost