Lombok Post
Headline Opini

Mendekap Nilai Pendidikan Karakter dalam Berteater

Opini LombokPost
Opini LombokPost

PERKEMBANGAN A�teater di kalangan pelajar NTB masih stagnan. Meski banyak even yang telah dilaksanakan oleh berbagai pihak, seperti Festival Teater Modern Pelajar (FTMP) SMA/SMK sederajat ke XVIII yang akan dilangsungkan pada tanggal 8-19 Nopember 2016 ini, yang diinisiasi olehA� organisasi mahasiswa UKMF Teater Putih-Unram, sebagai kegiatan regulernya.

Ataupun kegiatan-kegiatan lain yang sponsori pihak swasta maupun pemerintah. Atau bahkan pementasan-pementasan insedentil mandiri dalam skala khusus atau umum.

Pementasan-pementasan dalam skala mandiri tersebut, oleh kelompok teater pelajar telah dipentaskan serius. Garapan-garapannya telah menggambarkan keberanian mereka untuk menyaingi kelompok-kelompok teater mandiri, ataupun kelompok-kelompok teater profesional yang ada. Ini meruakan kegembiraan bagi warna dan perkembangan teater kita.

Namun, perkembangan yang nampak tersebut, dirasakan masih berkutat pada satu sirkulasi atau dalam satu lingkaran. Dalam artian, bahwa, garapan-garapan pertunjukan tersebut, masih lahir hanya dari kelompok-kelompok tersebut pula. Kelompok yang telah lama eksis dan diakui karya dan keberadaannya.

Keeksisan kelompok teater pelajar tersebut, belum memberikan dampak besar berupa keinginan dan motivasi yang besar pula bagi sekolah-sekolah lain untuk ikut menumbuhkan dan bersaing dalam perteateran di sekolahnya. Kemana kelompok-kelompok/ekskul teater pelajar yang lain?

Tulisan ini menghindari pembahasan tentang perkembangan dan kemajuan kelompok-kelompok teater pelajar yang telah eksis di panggung.

Karena bagaimanapun, kelompok-kelompok tersebut sudah sangat patut dan sangat layak mendapat apresiasi yang jauh lebih baik dari kita semua, terhadap segala kreativitas dan budaya-budaya penumbuhan kemandirian dalam berteater tanpa kata terkecuali.

Maka, tulisan berikut adalah harapan-harapan dan juga apresiasi terhadap keberadaan teater pelajar yang berbasis sekolah dalam menjaga nilai-nilai pendidikan karakter yang digaungkan selama ini.

Teater dan Pandangan Sebelah Mata

Lahirnya kelompok-kelompok teater pelajar yang berbasis sekolah (SMA), sampai saat ini di sebagian sekolah, masih menyisakan dilematika. Berbagai alasan dikemukan oleh pihak-pihak tertentu, baik secara terang-tearangan maupun a�?bisik-bisika�� dalam menjegal tumbuh kembangnya di sekolah.

Yang paling klasik nan konvensional juga fundamental adalah alasan a�?biayaa��. Alasan ini bahkan lebih mencekik manakala kelompok/ekskul teater itu berada dan tumbuh di sekolah-sekolah a�?miskina�� anggaran.

Alasan ini memang kadangkala logis, manakala kelompok teater pelajar tersebut sedang menggarap sebuah lakon. Untuk diingat bahwa, kebutuhan akan segala hal yang berkaitan dengan produksi sebuah pementasan, jelas pula menuntut konsekuensi logis terhadap anggaran yang dibutuhkan.

Mulai dari anggaran persiapan, proses latihan sampai aksesori-aksesori dan properti-properti panggung yang dibutuhkan.

Pandangan umum lainnya adalah orang tua murid yang sampai saat ini masih lebih membanggakan kegiatan-kegiatan non-seni sebagai kegiatan favorit untuk anak-anak mereka.

Kegiatan berkesenian (tetater) bagi mereka, masih diasumsikan sebagai kegiatan sia-sia, kegiatan yang tidak akan memiliki jaminan terhadap nasib dan perkembangan kehidupan anak-anaknya di masa yang akan datang.

Dari dua pandangan umum yang berasal dari internal sekolah dan ekaternal sekolah ini, jadilah pandangan a�?miringa�� kepada kelompok ekskul iniA� semakin miring, sehingga keberadaannya semakin terhimpit dan tercekik.

Ini belum lagi masalah sumber daya manusia berupa ketersediaan pelatih dan pembimbing itu sendiri. Sungguhlah kompleks permasalahan perteateran di sekolah.

Teater dan Nilai Pendidikan Karakter

Pandangan-pandangan masyarakat di atas, seharusnya sudah terbantahkan dengan berbagai fakta yang telah ditunjukkan. Teater, sebagaimana kelompok-kelompok ekskul lain di sebuah sekolah juga tidak kalah memberikan dampak besar bagi perkembangan anak-anak itu sendiri.

Kita ambil saja sebuah contoh kegiatan dalam proses produksi/penggarapan sebuah lakon yang dipersiapkan.

Anak-anak kita telah belajar dengan baik mengenai nilai-nilai pendidikan karakter bertanggung jawab, kreatif, disiplin, suka membaca, mandiri, bekerjasama, demokratis, bersahabat, peduli dan lain-lain dalam mewujudkan gagasan dan bahkan cita-cita mereka dalam pementasan tersebut.

Nilai-nilai tersebut diperoleh anak dengan pembelajaran di luar kelas secara tidak langsung melalui sebuah proses.

Ketika anak-anak melakukan kegiatan berproses tersebut, seringkali dilakukan dengan senang gembira, yang justru telah menggambarkan program-program dan teori-teori pendidikan yang didengungkan selama ini yaitu pembelajaran yang Aktif, Inovatif, Kreatif, efektif dan Menyenangkan (PAIKEM) dan berbasis proses.

Pembelajaran berbasis proses inilah yang kemudian kita kenal dengan pembelajaran otentik.

Pembelajaran otentikA�(authentic learning) adalah sebuah pendekatan pembelajaranA�yang memungkinkan siswa menggali, mendiskusikan, dan membangun secara bermakna konsep-konsep dan hubungan-hubungan, yang melibatkan masalah nyata dan proyek yang relevan dengan siswa (Donovan, Bransford & Pallegrino, 1999 dalam http://lagibelajargoblog.blogspot.com/2014/12/pembelajaran-otentik-outentic-learning.html ).

Selain pembelajaran otentik, pengalaman anak-anak kita dalam menemukan hubungan nilai pendidikan karakter dengan dunia teater juga telah mencerminkan nilai-nilai kehidupan. Nilai-nilai tersebut dikelompokkan dengan dua cara.

1) melihat hubungan nilai-nilai tersebut dengan prinsip olah (olah hati, pikir, raga, rasa, dan karsa).

2) melihat hubungan nilai-nilai tersebut dengan kewajiban terhadap Tuhan Sang Maha Pencipta, dengan kewajiban terhadap diri sendiri, dengan kewajiban terhadap keluarga, dengan kewajiban masyarakat dan bangsa, dan juga dengan kewajiban terhadap alam lingkungan. (Firdaus:2014)

Mengingat nilai-nilai pendidikan karakter yang akan diperoleh anak-anak kita melalui seni teater, maka sudah sewajarnya kita a�?mengenyahkana�� kekhawatiran kita terhadap teater itu sendiri.

Kekhawatiran yang lahir dari asumsi-asumsi yang tidak berdasar dan bahkan kurang realistis, dengan membandingkan dan membebankan keinginan kita sebagai orang tua A�dengan keinginan anak kita dalam proses menemukan nilai-nilai itu sendiri untuk kehidupan diri mereka kelak.

Saatnya kita mendukung kegiatan anak-anak kita dalam berteater dengan penuh kesadaran bahwa mereka juga sedang belajar. Belajar sendiri dengan tetap memberikan bimbingan, pengawasan yang A�penuh tanggung jawab.

Bukan pengawasan yang akan menjatuhkan, atauA� untuk menakuti mereka, dan kemudian menjauhkan mereka dari nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam proses berteater itu.

Proses berteater juga merupakan proses belajar menggali aspek-aspek kehidupan yang terkandung di dalam lakon yang mereka perankan.

Setiap tahapan dalam merealisasikan pementasana adalah proses pembelajaran. Mulai tahap membaca naskah sampai tahap memainkan peran para tokoh.

Belajar merasakan dengan mengikutkan segala rasa yang dimiliki oleh para tokoh. Pelibatan olah rasa dalam belajar, akan memberikan dampak yang lebih besar dan mendalam daripada hanya melibatkan raga.

Dalam pengertian bahwa, anak-anak kita telah mengerahkan aspek fisik juga psikisnya dalam mendalami perannya. Ia akan merasakan secara langsung hal-hal yang dituntut oleh tokoh yang diperankannya.

Ia harus mempelajari, mendalami dan memahami sisi-sisi tuntutan para tokoh tersebut. Dalam teori pembelajaran, bukankah ini bisa disebut dengan pembelajaran dengan menggunakan teknik role play atau bermain peran?

Jelaslah bahwa, proses berteater yang dilakoni anak-anak kita, adalah proses menjalani kehidupan itu sendiri dalam kehidupan mini di sebuah panggung.. Proses berteater merupakan proses belajar menemukan nilai-nilai pendidikan karakter. Nilai-nilai kemanusian yang harus mereka pelajari, pahami dan aplikasi dalam kehidupan sehari-hari.

Proses belajar yang tidak pantas lagi dipandang sebelah mata oleh siapapun, dan dengan alasan apapun. Bukan sebatas bermain dan menghabiskan waktu dengan sia-sia. Proses yang harus mendapatkan dukungan dari semua sebagaimana kita mendukung mereka dalam belajar.

Berita Lainnya

DBD Bisa Jadi Ancaman Serius Pengungsi

Redaksi Lombok Post

Ahyar Tidak Puas dengan Hasil CPNS

Redaksi Lombok Post

Hanya Ngebut di Depan Jokowi, Perbaikan Rumah Korban Gempa Jalan di Tempat

Redaksi Lombok Post

Nuril pun Menangis, Aksi Bela Nuril Terus Mengalir

Redaksi Lombok Post

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost