Lombok Post
Metropolis

Ngeyel, Ngoyo, Ngancam!

bok
DITERTIBKAN : Sejumlah jukir diomeli petugas dari Disbubkominfo Kota Mataram, karena tidak memakai karcis dan rompi Juru Parkir, dalam sidak beberapa waktu lalu.

Lahan parkir, ibarat kue yang sangat manis. Bocor, disana a�� sini hingga target retrebusi tak pernah tercapai, ternyata tak melulu karena pengelolaan tidak profesional. Tetapi, karena digragoti para preman. Berikut laporannya.A�

***

SIANGA� bolong. Beberapa pria tak ayal berpeluh. Kulit mereka, mengkilap, legam. Berdiri tegap di lorong-lorong jalan setapak. Satu diantaranya, pipinya kembung-kempis. Asap mengepul tebal. Ia tertawa terbahak-bahak. Melihat rekannya, menekuk wajah kecewa.

a�?Woooii, sini parkir-parkir!,a�? Ah. Bikin kaget saja.

Tak ada senyum. Wajah mereka, tegang. Tak hanya, di satu lorong. Tetapi dilorong lain uga sama. ada wajah garang dan suara nyaring. Ah. Masa iya, begitu menawarkan jasa?.

Jauh terbalik, dibanding tempat-tempat pelayanan publik. Ada senyum, sapa nan ramah. Disini, wajah garang lebih laku!.

a�?Pak sini pak!,a�? teriak mereka. Kali ini bahkan, suaranya terkesan membentak.

Beberapa, pengendara didepan, terperanjat kaget. Ada yang berpandangan heran. Ada yang dengan lugunya, menurut saja. Dan sekali lagi, pria yang tampak a�?sangara�� tadi menyeringai. Melempar senyum, pongah pada saingannya di lorong lain.

Begitu seterusnya. Tak ada senyum ramah. Hanya suara-suara memaksa, agar para pemilik sepeda motor mau parkir di wilayah kekuasaanya. Anehnya memang, tak ada yang berani melawan. Menurut saja, meski sudah dibentak-bentak. Dari pada, acara wisata ke pantai Gading, batal. Hanya gara-gara berseteru lawan juru parkir, songong itu.

a�?Kalau nggak gitu, kalah dia sama rekan-rekannya yang lain, jadi memang harus dengan suara keras,a�? kata seorang pengunjung. Imam namanya. Ia berusaha memahamu. Meski, dada ia elus-elus juga.

a�?Tapi, tidak harus bentak-bentak, jadi males kesini lagi,a�? keluh Citra, setengah bercerita kesannya pada koran ini.

Dua anak ini memang sengaja diajak koran ini, menikmati sensasi wisata di Kota Mataram. Objeknya, pantai Gading dan Ampenan. Sayang, di pantai Gading, Citra sudah dibuat kecewa oleh para Juru Parkir Liar itu.

a�?Eh, mahal ya parkirnya,a�? ketus Citra.

Gadis asal Malang ini memang paling banyak protes. Maklum, di kotanya, parkir sepeda motor cuma seribu rupiah. Di pantai itu, ia ditarik Rp 2 ribu. ia bahkan berseloroh, orang-orang disana, bisa cepat kaya. Bahkan cepat naik haji dari usaha parkir. Sementara, Imam, hanya bisa tersenyum kecut, geleng-geleng.

Wisata berlanjut. Ke pantai Ampenan. Disini, Imam, mengaku tak betah. Tak ada orang. Tak ada juga gadis cantik, buat mencuci mata. Maklum saja, kami memang sampai, saat matahari baru saja mulai tergelincir ke arah barat. Sementara, pantai ramai biasanya menjelang sore.

Tak sempat parkir, kami berputar lalu hendak keluar. Tapi tiba-tba, seorang pria bertelanjang dada entah datang dari mana, menghadang citra.

Serrrr!

Darah berdesir ke ubun-ubun. Citra nampak ketakutan. Lalu dengan setengah membentak, pria berkulit gelap itu, bilang.

a�?Bayar parkir!,a�? katanya pendek. Tapi terdengar tajam.

Imam, rupanya ingin jadi pahlawan. Dengan sigap, ia menjelaskan pada pria itu, jika mereka tak pernah parkir. hanya berkeliling, sebentar. Tapi, wajah macho-nya jadi kusut. Saat, pria kekar itu, dengan nada semakin tinggi kembali membentak.

a�?Tetap saja harus bayar!,a�? bentaknya.

Uang lima ribu yang disodorkan Citra, disambar begitu saja. tak ada, kembalian. Pria itu, lalu ngeloyor pergi, seenak jidatnya. Kami memandangi dengan kesal. Tetapi, saat pria itu membalik badan dengan ekspresi beringas, kami pun buru-buru meninggalkan tempat.

Hampir sejauh satu kilometer kami meninggalkan lokasi. Tiba-tiba Imam terbahak lebar. Citra mendengus berulang kali. Ia masih menyimpan kesal.

a�?BagusA� ya. Tak hanya ada wisata pantai. Tapi orang-orang juga dapat bonus, wisata a�?dipalakia�� juru parkir. itu bisa jadi branding baru,a�? kelakarnya. Kami tahu, Imam sedang berseloroh dengan bahasa sarkasme.

Citra pun menimpali. Jika ada wahana wisata rumah hantu, memang, pemerintah harus mengakomodir dan melestarikan a�?wisata dipalak juru parkira��.

a�?Adrenalin lebih terpacu, disini dari pada di rumah hantu,a�? ketusnya. Lalu menggeber, gas motor maticnya.(LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram)

Berita Lainnya

2.368 Formasi CPNS Bakal Lowong

Redaksi Lombok Post

EMAS HITAM DARI NTB

Redaksi Lombok Post

Liburan ke Pantai Penghulu Agung Ampenan Juga Asyik Loo..!!

Redaksi LombokPost

Hasil Produksi Langsung Dibeli Pengusaha

Redaksi LombokPost

DBD Bisa Jadi Ancaman Serius Pengungsi

Redaksi Lombok Post

Ahyar Tidak Puas dengan Hasil CPNS

Redaksi Lombok Post

PLN Luncurkan Layanan Satu Pintu

Redaksi Lombok Post

Hanya Ngebut di Depan Jokowi, Perbaikan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi Lombok Post

Nuril pun Menangis, Aksi Bela Nuril Terus Mengalir

Redaksi Lombok Post