Lombok Post
Metropolis

Kegaduhan itu berawal dari Lemparan a�?Botola��

bok
MELINTAS: Seorang pasien yang mengalami ganguan jiwa, tengah melintas di sebuah ruang khusus untuk merawat kejiwaannya, Senin (7/10).

Seorang pria berteriak kencang. Menggedor-gedor daun pintu. Dari CCTV ia terlihat panik. Suasana RSJ Mutiara Sukma, berubah tegang. Apa yang terjadi sebenarnya?

***

BUDIA� (bukan nama sebenarnya, Red). Tengah tengkurap di dipan dengan sprei warna putih nan nyaman. Sesekali, ia tersenyum simpul. Sambil, mengingat-ingat kenangan indah di masa lalu. Ia tak peduli, pada beberapa rekan sekamar yang lain. Walau gelak tawa mereka kadang terlalu nyaring.

a�?Sudahlah sayang, abaikan mereka,a�? kata Ujang, sambil mengelus dipan. Ia tahu, kekasihnya tak didekatnya. Tetapi, ujang yakin saat ini mereka tengah saling merindukan.

Pria asal Kuripan, Lombok Barat menikmati betul pelayanan di ruangan itu. Air Conditioning (AC) itu, tak ubahnya belaian angin sawah. Semilir nan menyegarkan. Ah, betapa menyenangkan, tidur siang ini fikirnya.

Namun, tiba-tiba… Bhuuukkk!

Sebuah botol minuman, tepat mendarat di kepalanya. Budi, kaget bukan kepalang. Ia berdiri, menatap tajam pada dua rekan sekamarnya yang tengah duduk santai, sembari pijit-pijitan.

a�?Siapa yang melempar saya dengan botol,a�? katanya, berusaha menahan amarah. Suaranya masih ditahan-tahan.

Tapi dua rekannya yang tengah saling pijit, tak ada yang mengaku. Mereka malah tertawa, cengengesan. Tanpa rasa bersalah sama sekali. Sekali, lagi dengan suara agak ditinggikan, Budi bertanya, siapa yang melemparnya. Tetapi, bukannya dijawab, dua rekannya malah makin asyik saling pijat.

Darah Budi, seperti mendidih. Melihat dua orang yang ditanyai, justru malah cuek, emosinya makin menjadi-jadi. Ia naik pintam. Lalu, berusaha mencari, botol tadi. Ia berniat, melempari kedua temannya dengan botol itu. Ajaibnya, botol itu, raib. Bagai ditelan bumi!

Budi, masih belum percaya. Ia berputar, hingga naik ke atas dipan mencari botol. Tetapi, tetap saja, botol itu hilang, tanpa jejak. Pandangan ia arahkan pada dua rekannya. Ia mulai ragu. Tidak mungkin dua orang itu yang mengambil botol itu. Sebab, mereka tak pernah bergeming dari tempat duduknya.

a�?Mana botolnya?a�? kali ini dengan nada gusar, Budi bertanya.

Tapi, semakin bertanya, Budi makin merasa tak dihargai. Dua rekannya itu tetap saja diam tak peduli. Maka, habislah kesabarannya. Dari bawah, kasur ia mengeluarkan sebuah senjata organik. Serupa AK 47. Dengan membabi-buta, ia menekan pelatuknya. Peluru pun berhamburan, bak hujan!

Dor! Dor! Dor!

Serentetan tembakan panjang, diarahkan pada dua rekan yang mengabaikannya. Senjata AK 47 itu bergetar hebat. Lalu memuntahkan, ribuan timah panas, menghujam badan teman sekamarnya. Asap mengepul tebal! Selosong peluru, bergerincing jatuh kelantai, menambah suara bising.

Budi tersenyum puas. Ia lega. Dua rekan yang berani mengacuhkannya, habis ditangannya. Tapi, baru saja asap tebal dari mesiu peluru menipis, Budi terkejut bukan kepalang. Dua rekannya, malah tertawa terbahak-bahak. Seolah, melecehkan senjatanya. Lebih mengejutkan lagi, dua orang itu, ternyata kebal peluru!

a�?Sini,a�? kata Agung (bukan nama sebenarnya, Red). Tangannya melambai-lambai pelan ke arah Budi.

Tapi ajakan itu, seperti lambaian maut dari malaikat kematian. Tubuh, Budi bergetar hebat, ketakutan. Senjata AK 47 dibuang ke lantai. Agung lalu bangkit. Mendekati. Budi, makin panik. Ia mundur beberapa langkah. Mendekati daun pintu.

Pria berkumis tipis itu berupaya membuka pintu. Sayang tertutup rapat. Ada seseorang yang mengunci dari luar.

Budi semakin panik. Sementara Agung yang telah dihujami dengan peluru, seperti tak mau melewatkan kesempatan untuk menyergapnya. Maka dengan sekuat tenaga, Budi menggedor-gedor pintu. Berharap ada seseorang, segera menolongnya. a�?Tolong-tolong, buka!a�? pekiknya ketakutan.

Layaknya pembunuh berdarah dingin, Agung tak peduli dengan ketakutan Budi. Ia tetap tersenyum seraya mendekati Budi. Meneror dengan rasa takut yang sangat membuat lutut Budi bergetar. Maka, berulang-ulang kali, ia berupaya membuka paksa pintu, seraya berteriak minta tolong pada seseorang di luar sana.

Sesosok orang lalu mendekat. Sekujur tubuhnya dibalut kain warna putih. Budi sesaat terkesip. Sepertinya dewa penolong telah datang untuk membantunya. Dengan terengah-engah, ia bercerita, jika bukan dirinya yang memulai tetapi, Agunglah yang memulai kekacauan ini.

a�?Dia lempari saya dengan botol,a�? ujarnya. Masih dengan rasa takut.

Tetapi, a�?dewa penolonga�� itu enggan tersenyum. Wajahnya cenderung flat. Setelah mendengar cerita Budi, dewa penolong yang masih muda itu, justru dengan santainya meminta dia istirahat.

a�?Sudah-sudah, istirahat sana. Ini waktunya istirahat,a�? katanya santai.

Budi terdiam. Ia berjalan lunglai ke arah dipannya. Untuk kesekian kalinya, ia melihat ada yang aneh. Senjata AK 47 dan selongsong peluru yang berceceran dilantai, raib entah kemana. Bahkan, lantai terlihat sangat bersih dan licin seperti sebelum kejadian.

a�?Ada apa mas,a�? tanya koran ini pada pria yang tak lain perawat kesehatan di sana.

a�?Iya mungkin butuh ditenangkan mas. Ini kan ruang khusus untuk penanganan pertama bagi penderita gangguan jiwa yang kronis,a�? jawabnya ramah.(LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram/r5)

Berita Lainnya

Belum Satu pun Rumah Tahan Gempa yang Terbangun

Redaksi LombokPost

BPBD Tunggu Perintah Perkim

Redaksi LombokPost

Jembatan Sungai Jangkuk Sudah Lama Ambles, tapi Dicuekin!

Redaksi LombokPost

Anak Muda sampai Pengusaha Berebut Buat Karikatur

Redaksi LombokPost

Kartu Nikah Sebatas Wacana

Redaksi LombokPost

169 Formasi Gagal Terisi

Redaksi LombokPost

Sepakat, UMK Mataram Rp 2.013.000

Redaksi LombokPost

Target Diprediksi Meleset!

Redaksi LombokPost

Kurang Perhatian, Sungai Ancar Meluap

Redaksi LombokPost