Lombok Post
Sudut Pandang

Komunikasi Pemimpin

DISKUSI tentang komunikasi pemimpin di ruang publik kembali mendapat tempat untuk diperbincangkan ketika belakangan ini sebagian besar warga Muslim di Indonesia mempersoalkan ucapan Gubernur DKI nonaktif, Basuki Tjahaja Punama (Ahok). Ucapannya dianggap sebagai bentuk penistaan agama (Islam) saat menyebut Surat Almaidah ayat 51 sebagai alat pembohongan untuk kepentingan politik.

Intinya ada ungkapan Ahok yang melecehkan eksistensi salah satu surat Alquran yang disucikan oleh umat Islam. Sebagaimana jamak dipahami, ucapan Ahok tersebut telah berdampak panjang bagi dirinya, karena harus didemo oleh jutaan warga negara yang beragama Islam pada berbagai daerah di tanah air, dan sudah memaksa dirinya untuk berurusan dengan pihak kepolisian.

Sejatinya seorang pemimpin adalah figur pilihan, yang kata dan perbuatan (komunikasi) nya menjadi panutan bagi rakyat yang dipimpinnya. Siapa pun akan sepakat bila apa yang ditunjukkan Ahok lewat ucapan yang melecehkan Alquran adalah contoh komunikasi yang tidak baik dari seorang pemimpin. Ahok memang dikenal dengan gaya coplos dan kasar yang tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain. Kita masih ingat beberapa kasus komunikasi Ahok yang kontroversial, seperti mengatakan a�?malinga�? kepada salah seorang warganya, atau dengan entengnya menyebut kata-kata kotor di ruang publik, apalagi ucapannya terpublikasi berulang oleh media elektronik.

Demonstrasi damai besar-besaran umat Islam tanggal 4 November 2016 silam merupakan pelajaran berharga bagi Ahok untuk lebih bisa mengontrol setiap pesan yang hendak disampaikannya di ruang publik. Persoalan style komunikasi mungkin saja bisa ditolerir, atas alasan ingin menampilkan diri apa adanya, meskipun idealnya kesopanan dalam berkomunikasi bagi seorang pemimpin menjadi hal yang penting dihadirkan.

Tetapi pilihan konten (isi) pesan yang dikomunikasikan wajib diperhatikan oleh seorang pemimpin, dengan tidak menggunakan kata-kata kotor, menyinggung kelompok dan agama lain, serta tidak menyebar pesan bohong.

Pasca era kepemimpinan otoriter (setelah 1998), sebenarnya bangsa ini telah memasuki era kesetaraan komunikasi antara pemimpin dengan rakyatnya. Paling tidak hal ini ditandai dengan adanya komunikasi sosial yang bagus antara pemimpin dengan rakyatnya. Pemimpin tidak lagi menjadi sosok yang menakutkan layaknya seorang raja dengan rakyat jelata. Tetapi pemimpin setelah reformasi menjadi sosok yang bersahabat, bermitra, dan setara dengan rakyatnya. Makan bersama, duduk dan lesehan bareng, bahkan bercengkrama berjamaah adalah pemandangan yang lumrah disaksikan di antara mereka (pemimpin dan rakyat).A� Suasana seperti inilah yang didambakan rakyat dari seorang pemimpin. Orang-orang Timur seperti masyarakat Indonesia dikenal sebagai warga yang masih menjunjung tinggi tatakrama dan nilai, dengan menempatkan harga diri di atas segalanya.

Aspek-aspek nonmateri seperti ini masih ditempatkan sebagai hal utama tatkala berinteraksi dengan pemimpinnya. Artinya, rakyat lebih senang seorang pemimpin yang rajin mendatanginya, bertutur kata sopan, dan berbahasa tubuh yang santun, dari pada penguasa yang membagi materi tapi disertai ucapan kotor dan bergaya angkuh.

Beberapa kepala daerah yang saya tanya setelah mereka memenangkan pilkada, mengakui bahwa rakyat mereka sangat senang bila didatangi, walau sebentar dan sekedar lewat. Suatu kebanggaan bagi mereka bila sang pemimpin atau calon pemimpin sudi mampir ke lingkunganya, apalagi pemimpin hadir dengan menampilkan diri sesopan dan sesantun serta seakrab mungkin bersama rakyatnya. Bahkan cara pendekatan seperti ini dapat menekan biaya politik (low cost) selama pilkada berlangsung.

Pemimpin yang komunikatif adalah mereka yang secara proaktif mendatangi dan berkomunikasi yang santun dengan rakyatnya. Pemimpin dengan kategori yang sama (komunikatif) adalah pemimpin yang bersedia menerima rakyatnya dimana pun (termasuk diA� kediaman atau di kantornya). Menerima dan menyampaikan pesan yang menyejukkan saat rakyat mendatanginya merupakan tipe pemimpin yang komunikatif. Sehingga bila ada pemimpin yang menghindar (tanpa alasan yang jelas) saat rakyat mendatanginya, termasuk dalam kategori pemimpin yang tidak cerdas berkomunikasi.

Tradisi Bupati Bantaeng, Prof. Nurdin dalam berkomunikasi dengan rakyatnya menjadi best practices yang patut diteladani. Di samping rajin turun menyerap dan merekam persoalan rakyatnya, sang Bupati juga selalu menyapa dan berdialog dengan setiap tamu (rakyat) yang mendatanginya di pendopo, meski pada saat yang bersamaan dia sedang menerima tamu-tamu dari daerah lain yang sedang sharring tentang pembangunan daerah dengannya. Cara-cara seperti inilah yang membuat sosok Prof Nurdin menjadi idola bagi warga Bantaeng.

Dalam literatur komunikasi ditemukan salah satu prinsip yang mengatakan bahwa a�?komunikasi berdimensi isi dan hubungana�?. Artinya, mengontrol isi pesan (komunikasi) sama pentingnya dengan menjaga hubungan bersama mitra komunikasi.

Seorang pemimpin yang cerdas berkomunikasi dipastikan akan secara selektif memilih kata yang tepat dan baik, bahasa yang sopan, dan ungkapan yang menyenangkan, dengan tanpa melupakan menjaga hubungan dan perasaan agar terus terjalin baik (akrab) dengan rakyatnya. Bila ada pemimpin yang menyakiti rakyat lewat kata dan perbuatannya, maka tidaklah layak baginya untuk tetap berada di kursi kekuasaan, atau sangat direkomendasikan untuk tidak dipilih lagi sebagai pemimpin.

Di saat bangsa ini krisis keteladanan, kehadiran dan munculnya pemimpin yang doyan berkata kotor dan kasar menjadi bumerang, apalagi presiden sedang menggalakkan revolusi mental dengan menjadikan moral dan nilai-nilai baik serta bijak sebagai panduan dalam berinteraksi.

Warga di setiap daerah tidak hanya butuh pembangunan fisik (apalagi dengan menggusur dan mengabaikan kepentingan rakyat kecil), tetapi juga pembangunan mental spiritual, lewat keteladanan berkomunikasi dan kebijakan yang merakyat. Semogaa�� (r8)

Berita Lainnya

Sudah Ikhlaskah Nonpribumi Berindonesia?

Redaksi Lombok Post

Universitas Islam Negeri (UIN) dan Spirit a�?DNAa�? Baru

Redaksi Lombok Post

Selamat Jalan Pengawal Budaya Mbojo

Redaksi Lombok post

Melawan Musuh Bangsa

Redaksi Lombok post

Media Sosial dan Ruang Publik

Redaksi Lombok post

Makna Simbolik Kunjungan Raja Salman

Redaksi Lombok post

Pendidikan Nirkekerasan

Redaksi Lombok post

Kasih Sayang yang Tidak Mengenal Hari

Redaksi Lombok post

Habib Rizieq: Antara Benci dan Rindu

Redaksi Lombok post