Lombok Post
Headline Metropolis

Pak Ahyar Belum Menyerah!

ahyar-dan-suhaili
GUBERNUR SELANJUTNYA?: Bakal Calon Gubernur NTB H Ahyar Abduh berbincang dengan Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi dalam sebuah kesempatan di Masjid Hubbul Wathon, Islamic Center NTB, beberapa waktu lalu.

MATARAM – Pemilihan Gubernur (Pilgub) tinggal menyisakan waktu sekitar satu tahun lagi. Waktu ini memang relatif masih panjang. Tapi bagi para calon kontenstan yang ingin bertarung di tahun 2018 nanti, sekarang waktu yang tepat membangun popularitas guna meraup elektabilitas tinggi.

Inilah waktu yang tepat untuk menebar jaring-jaring meraup konstituen lebih banyak lagi. Semakin banyak, maka semakin dekat dengan kemenangan.

Wali Kota Mataram, H Ahyar Abduh pun tak menampik jika akhir-akhir ini dirinya masif terjun ke tengah-tengah masyarakat. a�?Saya memanfaatkan waktu untuk bersilaturahmi,a�? kelit Ahyar.

Dalam berbagai kesempatan dan peluang, sosok yang secara tak langsung sudah mulai memproklamirkan rencana ikut bertarung di Pilgub 2018 ini, menjelajah basis-basis suara a�?lawannya’. Dari Lombok Timur, Lombok Tengah, Lombok Barat dan sejumlah tempat lainnya. Intensitasnya pun tak ditampiknya semakin masif.

a�?Sepanjang ada waktu, saya sesuaikan,a�? jawab dia, seolah dirinya memberi sinyal ia siap diundang kapan pun dan dimana pun untuk berbagi ide, soal NTB ke depan.

Sinyal-sinyal dukungan dari partai politik pun semakin kencang. Ahyar terlihat pede dapat lampu hijau dari beberapa partai. Walau sifatnya, masih harus menunggu mekanisme dukungan dari partai.

Ia yakin, meski sejumlah calon lain juga sudah mulai menunjukan diri, partai-partai punya mekanisme yang cukup rasional dalam memberikan dukungan. a�?Diantaranya, lewat jalur survei,a�? terangnya.

Menanggapi isu Golkar bersama sejumlah partai lain, secara de facto disebut-sebut bulat akan mengusung Bupati Lombok Tengah, HM Suhailli FT dengan enteng, Ahyar mengatakan itu hanya lelucon politik. a�?Itu hanya guyonan politik, main klaim,a�? jawabnya santai.

Sebab, harus ada mekanisme dalam penentuan calon yang diusung. Tidak hanya bisa main klaim saja. Meski, sosok yang diusung punya posisi strategis dalam kepartaian.

Baginya, semua orang punya kesempatan terbuka. Termasuk dirinya untuk dicalonkan. Namun, jika mentok tetap tidak diusung, ia berencana menggunakan kendaraan politik lain.

a�?Yo, kan banyak partai lain,a�? ujarnya.

Hanya saja, saat ini dirinya masih berharap, partai Golkar bisa mendukung dirinya maju di Pilgub mendatang. Tentu dengan memperhatikan, popularitas dan elektabilitas hasil survei. Namun, ia pastikan tidak akan melalui jalur idenpenden, ini erat kaitannya dengan mekanisme dan teknisnya yang memang relatif lebih rumit. a�?Saya ndak ada niat lewat idenpenden,a�? tandasnya.

Sementara itu, pengamat komunikasi politik Doktor Kadri, melihat upaya-upaya silaturahmi masif yang dilakukan Ahyar saat ini, lebih dilihat sebagai membuka peluang-peluang untuk maju dalam pilgub. Meski Ahyar, sudah menunjukan kengototannya agar bisa diusung partai dengan membangun popularitas, namun tidak serta merta, mampu menyandera keputusan partai.

a�?Saya fikir tidak (bisa menyandera partai), justru dia tetap akan berat menggunakan kendaraan Golkar (walau dengan popularitas tinggi),a�? kata Kadri.

Status Ahyar saat ini yang tidak lagi memegang jabatan strategis di partai Golkar, membuat daya tawarnya menjadi semakin lemah. Berbeda halnya dengan Suhaili. Posisinya sebagai ketua DPD I Partai Golkar NTB, cukup menguntungkannya untuk menggerakan ketua DPD II Golkar yang ada di daerah menggencarkan dukungan bagi dirinya.

a�?Apalagi saya lihat, dia (Suhaili, Red) punya kedekatan khusus dengan Setya Novanto (Ketua Umum Partai Golkar), tentu ini menguntungkan untuk lobi-lobi politiknya,a�? imbuhnya.

Masifnya, Ahyar turun ke lapangan justru memang berpotensi memikat partai selain Golkar. Semisal Nasdem yang disebut Kadri, justru sudah ditanami jaring oleh Ahyar.

a�?Soal kemungkinan dukungan Golkar, tipis atau besar memang terlalu prematur untuk kita pastikan sekarang,a�? ulasnya.

Sebab, masih banyak peluang politik berubah. Tapi, jika Pilgub dilakukan saat ini, maka Ahyar bisa jadi kesulitan mengendarai Golkar. Untungnya, masih ada waktu sekitar satu tahun untuk terus membuka peluang-peluang itu.

a�?Jadi memang masih ada waktu yang relatif panjang untuk mereka mencari dukungan,a�? tandasnya. (zad/r5)

Berita Lainnya

Belum Satu pun Rumah Tahan Gempa yang Terbangun

Redaksi LombokPost

BPBD Tunggu Perintah Perkim

Redaksi LombokPost

Jembatan Sungai Jangkuk Sudah Lama Ambles, tapi Dicuekin!

Redaksi LombokPost

Anak Muda sampai Pengusaha Berebut Buat Karikatur

Redaksi LombokPost

Kartu Nikah Sebatas Wacana

Redaksi LombokPost

169 Formasi Gagal Terisi

Redaksi LombokPost

Dewan Pertanyakan Penyedia Panel RISHA

Redaksi LombokPost

Sepakat, UMK Mataram Rp 2.013.000

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Bangun Pendeteksi Tsunami

Redaksi LombokPost