Lombok Post
Metropolis

Warga Miskin Butuh Bantuan, Pak!

miskin2-sir
HARI TUA: Papuq Dijah duduk di pinggir Jalan Angsoka Kelurahan Gomong Kota Mataram, beberapa waktu lalu. Nenek asal Dasan Agung ini mengaku sedang menunggu ojek pulang. Tapi beberapa pengguna jalan berhenti dan memberikannya sejumlah uang receh. Ia dulu bekerja sebagai pembantu rumah tangga, tapi kini mengaku hidup sendiri tanpa pekerjaan.

MATARAM – Kemiskinan di Kota Mataram masih memprihatinkan. Saat pertumbuhan ekonomi meningkat, masih banyak warga yang hidup serba kekurangan.

Seperti yang menimpa kelompok nelayan Mapak Indah dan penjaga makam Loang Baloq di Kelurahan Tanjung Karang. Mereka masih hidup miskin dan tak tersentuh bantuan pemerintah.

Jamali, 53 tahun, penjaga makam Loang Baloq ini hidup di rumah kecil beratapkan seng. Selalu bocor setiap hujan datang.

Ia menuturkan, dua kali rumahnya ditinjau untuk program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dari kelurahan. Hal itu terjadi sejak 2014 lalu. Mereka hanya datang mengukur dan meminta fotokopi identitas. “Namun mereka tidak datang lagi,” sambungnya.

Ia pernah menghadap kelurahan untuk mempertanyakan hal itu. Namun mereka menjawab bahwa bantuan tidak bisa diberikan karena mereka bukan asli warga lingkungan tersebut.

“Jika tidak bisa, mengapa harus sampai dua kali datang?” tanya Jamali.

Sementara itu, tetangga dekat rumahnya mendapatkan bantuan RTLH. Padahal rumah mereka diukur secara bersamaan. Tak hanya rumah, bahkan bantuan instalasi air bersih pun ia tidak peroleh.

Ia menyayangkan hal tersebut. Terlebih lagi, ia telah menjaga makam selama puluhan tahun. Hal tersebut dilakukan secara turun temurun. Jangankan bantuan, ia pun tidak mendapat gaji atau upah apapun.

Ia hanya memperoleh sumbangan masyarakat sekitar. Masyarakat memberinya uang sebesar Rp 500 ribu per bulan. Jumlah ini sangat sedikit dibanding dengan pengeluaran setiap hari. Terlebih harga barang mulai mahal. “Itu belum cukup,” tuturnya sedih.

Salah satu kemiskinan lainnya menimpa warga nelayan Mapak Indah. Berpuluh-puluh tahun menjadi nelayan, mereka mengaku tak pernah mendapat bantuan apapun.

Safi’i, salah satu nelayan Mapak Indah mengaku tak pernah menerima bantuan apapun. Baik itu kapal maupun jaring ikan. Padahal kelompoknya beranggotakan 15 orang.

Ketika melaut mereka menyewa jaring ikan seharga Rp 200 ribu. Sementara hasil tangkapan bisa terjual hingga Rp 500 ribu perhari.

Hasil tersebut digunakan untuk membayar sewa jaring. Sisanya dibagi dengan 15 anggota kelompok lainnya. “Paling sekitar 25 ribu hingga 30 ribu bersihnya,” akunya.

Safi’i menambahkan, hal ini terus berlangsung setiap hari. Pendapatan mereka bisa bertambah pada saat ombak relatif kecil. Sementara jika ombak besar seperti saat ini, hasil tangkapan cenderung menurun.

“Sekarang cuma dapat ikan cotek, tamban, nyanji, batang lot, dan ikan kecil lainnya,” pungkasnya.

Ia mengatakan, hasil tangkapan tersebut tentu masih kurang. Bamun para nelayan tidak memiliki pilihan lain. Melaut hanya satu-satunya keahlian mereka. “Yah beginilah kehidupan kami para nelayan,” tandasnya.(fer/r5)

Berita Lainnya

Ahyar Bakal Evaluasi Muslim

Redaksi LombokPost

UMK Jadi Pertimbangan Kenaikan Upah Honorer

Redaksi LombokPost

Hindari Berkendara Saat Hujan Lebat

Redaksi LombokPost

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost

Modal Awal Rp 800 Ribu, Kini Omzetnya Rp 2,5 Juta Sehari

Redaksi LombokPost

Hujan Deras, PDAM Tetap Ngadat

Redaksi LombokPost

Penyakit Menular Serang Anak Pengungsi

Redaksi LombokPost

Waspada ! Semua Pohon Berpotensi Tumbang!

Redaksi LombokPost

Lahan Menyempit, Petani Terjepit

Redaksi LombokPost