Lombok Post
Tanjung

Bawa Sesaji ke Danau, Berharap Hasil Panen Garam Melimpah

RITUAL MENYIA: Bupati Lombok Utara (lima dari kanan) saat mengikuti Ritual Menyia yang ditampilkan dalam Festival Pesona Gili Indah di Gili Meno, Sabtu (5//11) lalu.

Gili Meno, Lombok Utara memiliki A�danau air asin yang berada di tengah pulau. Selain menjadi objek wisata, danau tersebut juga digunakan masyarakat untuk bertani garam. Sebelum memulai bertani garam, masyarakat melakukan ritual adat Menyia.

***

Beberapa orang dengan pakaian khas suku Sasak tampak bersiap-siap di pinggir danau Gili Meno. Mereka membawa tempat sesaji lengkap dengan isinya. Kemudian secara perlahan tempat saji tersebut dibawa dan diletakkan di satu lokasi.

Ya, ini merupakan bagian dari ritual adat Menyia yang sampai saat ini masih dilakukan masyarakat Gili Meno. a�?Menyia ini dilakukan sebelum petani garam memulai kegiatannya. Harapannya hasil sia (garam) melimpah,a�? ujar Kepala Desa Gili Indah H. M Taufik.

Sebelum meletakkan persembahan tersebut ada beberapa prosesi yang harus dilakukan. Seperti, mengambil lumpur yang ada di danau kemudian dibalurkan ke tempat penampungan air asin yang akan digunakan untuk mengambil garam. a�?Ini dilakukan untuk menambal tempat penampungan air jika ada yang bocor,a�? ungkapnya.

Setelah proses itu berakhir, selanjutnya tokoh masyarakat yang dituakan mengambil air dari danau dan memasukkannya ke dalam tempat penampungan tersebut.

Untuk ritual adat Menyia ini ada beberapa persembahan yang disediakan. Seperti, bubur merah, bubur putih, pisang dan ayam. Selain itu, ada juga seekor ayam yang harus dilepas di danau dan tidak boleh ditangkap. a�?Ayamnya harus yang bulunya berwarna putih. Setelah dilepas tidak boleh ada warga yang menangkapnya,a�? paparnya.

Menurut Taufik, meskipun saat ini masyarakat di Gili Meno banyak yang berubah profesi ke sektor pariwisata, ritual Menyia masih tetap dilakukan. Khususnya oleh warga yang masih menekuni profesi petani garam. a�?Masih ada sampai sekarang meskipun sedikit,a�? tegasnya.

Ke depan, agar prosesi adat ini tidak luntur dan hilang, Taufik mengatakan akan menetapkan ritual Menyia sebagai agenda tahunan dusun Gili Meno. Hal ini dikarenakan prosesi adat seperti ini juga sangat diminati wisatawan. Khususnya wisatawan mancanegara. a�?Kita agendakan pada bulan Juli setiap tahunnya. Karena saat itu musim kemarau datang dan aktivitas petani garam dimulai,a�? pungkasnya. (Pujo Nugroho/Tanjung/r7)

Berita Lainnya

50 Orang Dilatih Jadi Aplikator Risha

Redaksi LombokPost

Rekruitmen P3K Diharapkan Bisa Mulai Tahun Depan

Redaksi LombokPost

Kantor Sementara DPRD Mulai Dibangun

Redaksi LombokPost

Warga Dusun Boyotan Terancam Tak Dapat Rp 50 Juta

Redaksi LombokPost

Baru 40 Sekolah Rusak Berat Dirobohkan

Redaksi LombokPost

Sekda Izinkan Huntara BUMN yang Tak Ditempati Dibongkar, Asal…

Redaksi LombokPost

Empat Puskesmas Darurat Mulai Beroperasi

Redaksi LombokPost

7.000 Petisi Penolakan Juknis Bantuan Gempa

Redaksi LombokPost

Pelebaran Jalan Ganggu Distribusi Air

Redaksi LombokPost