Lombok Post
Metropolis

Didominasi Ibu Rumah Tangga

dikes-sir
Kepala Dinas Kesehatan NTB Nurhandini Eka Dewi

MATARAM – Jumlah ibu rumah tangga yang menjadi penderita HIV/AIDS kini lebih banyak dibandingkan kalangan pekerja seks komersial (PSK). Tren ini terus mengalami peningkatan di NTB dan menjadi ancaman serius bagi kaum perempuan. a�?HIV tertinggi justru di kalangan ibu rumah tangga,a�? ungkap Kepala Dinas Kesehatan NTB Nurhandini Eka Dewi, kemarin (8/11).

Setelah dilakukan pelacakan, banyak diantaranya rumah tangga ini merupakan istri para TKI. Anehnya, suami mereka sedang bekerja di luar negeri tapi mereka terkena HIV. Ia memastikan, para TKI resmi yang berangkat ke luar negeri bebas dari HIV, sebab bila mengidap penyakit mereka akan ditolak oleh negara tujuan. Tapi setelah balik bekerja mereka kemungkinan sudah terkena. Sehingga saat ini Dinas Kesehatan memperketat pemeriksaan di pintu kedatangan, dengan melakukan screening untuk penyakit HIV/AIDS di pintu kedatangan. a�?Sehingga bila dia membawa ‘oleh-oleh’ dari luar kita tahu sejak awal,a�? katanya.

Eka menjelaskan, dalam komposisi penderita yang diteliti Dinas Kesehatan antara lain ada PSK, ibu rumah tangga, kaum homo, pengguna narkoba dan sebagainya. Sebelumnya, yang paling banyak penderita HIV adalah pengguna narkoba, tapi lambat laun dikalahkan sama penderita heteroseksual, atau orang yang suka lawan jenis.

A�Menurut Eka, penyebab HIV ini tidak selalu karena pergaulan bebas. Seperti para ibu rumah tangga, mereka adalah orang yang betul-betul memiliki suami diam di rumah, tapi dia ditularkan oleh suaminya. a�?Ini menjadi keprihatinan kita karena yang menjadi korban adalah kalangan yang tidak berdosa,a�? katanya.

Jika ibu rumah tangga terkena HIV, maka anaknya yang ada di dalam kandungan juga akan terkena. Tahun ini jumlah kasus anak yang terkana HIV mencapai 10 orang. a�?Anak yang tertular oleh orang tuanya,a�? kata Dewi.

Dengan kondisi ini, ke depan semua RSUD di NTB akan disiapkan untuk bisa melayani screening HIV. Khususnya rumah sakit yang sudah memiliki akreditasi dari Kementerian Kesehatan. (ili/r7)

Berita Lainnya

Ahyar Bakal Evaluasi Muslim

Redaksi LombokPost

UMK Jadi Pertimbangan Kenaikan Upah Honorer

Redaksi LombokPost

Hindari Berkendara Saat Hujan Lebat

Redaksi LombokPost

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost

Modal Awal Rp 800 Ribu, Kini Omzetnya Rp 2,5 Juta Sehari

Redaksi LombokPost

Hujan Deras, PDAM Tetap Ngadat

Redaksi LombokPost

Penyakit Menular Serang Anak Pengungsi

Redaksi LombokPost

Waspada ! Semua Pohon Berpotensi Tumbang!

Redaksi LombokPost

Lahan Menyempit, Petani Terjepit

Redaksi LombokPost