Lombok Post
Metropolis

Digebrak Meja, Dipukuli sampai Berdarah-darah

bok
BERBAUR: Sejumlah pasien RSJ Mutiara Sukma, berbaur dengan petugas saat outbond di Pantai Gading, Mataram. Tampak tidak ada beda, karena rata-rata sudah sembuh dari gangguan jiwa, beberapa waktu lalu.

RSJ Mutiara Sukma, kini telah Terakreditasi Paripurna Bintang Lima. Sebuah predikat terbaik Nasional atas pelayanan, fasilitas dan inovasinya. Tapi jauh sebelum itu, kondisi RSJ sangat memprihatinkan. Berikut kisahnya.

***

WANITAA� berkaca mata itu, terdiam sejenak. Koran ini, meminta ia membongkar ingatan, tentang 16 tahun silam. Persis tahun 2000. Ketika, ia untuk pertama kalinya dipindahkan ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ), Mutiara Sukma, Provinsi NTB

Wanita, ramah itu tersenyum sejenak. Lalu menghela nafas panjang. Refleks, ia menyebut RSJ kala itu, masih sunyi dan lengang. a�?Hutan,a�? sebut dr Elly Rosila Wijaya, Direktur RSJ Mutiara Sukma.

Iya. Hutan. Bahkan, saking lengangnya saat itu, kalau orang mau bolos kerja, tidak ada yang peduli. Toh juga di RSJ tidak ada kegiatan apapun. Para penderita gangguan jiwa, sudah aman dalam krangkengnya masing-masing. Prosedur penanganan mereka pun masih menggunakan metode-metode konvensional. a�?Belum lagi, saya harus bertahun-tahun jadi psikiater sendiri,a�? imbuhnya.

Bagi Elly, saat itu sangat melelahkan. Bahkan cenderung membosankan. Apalagi, kalau sudah berhadapan dengan para penderita gangguan jiwa. Ia kerap dihadapkan pada posisi sulit. Berhadapan dengan orang yang tidak sadar secara kejiwaan, membuat ia kerap dibentak hingga digebrak meja.

a�?Bahkan dipukuli, satpam saya ada pernah luka dan berdarah-darah karena harus mengamankan mereka yang mengalami ganguan jiwa,a�? kenangnya.

Sampai memasuki tahun 2011, Elly mengaku dihadapkan pada posisi sulit. Tingginya angka penderita gangguan jiwa yang dipasung di NTB. Ia kesulitan, karena tenaga psikiater yang terbatas. Sementara, jangkauan dari RSJ Mutiara Sukma milik Pemerintah Provinsi, harus menjangkau wilayah Lombok dan Sumbawa.

a�?Di NTB ini ada 158 puskesmas tersebar, tidak mungkin kita datangi satu-satu kalau ada yang mengalami gangguan jiwa di daerahnya,a�? ungkapnya.

Karena itu, pada tahun 2011 itu, Elly mengusulkan untuk membangun sebuah sistem. Dinamai Pelayanan Keswasmas Komunikatif Model NTB. Model ini dengan memperkuat peran CMHN (Cummunity Mental Helth Nursing). Para perawat yang ada di puskesmas desa, diberi pelatihan agar siap dan sigap mengobati para penderita gangguan jiwa.

a�?Pada tahun 2018, NTB harus bebas pasung. Itu targetnya. Sementara saat ini, sekitar 900 penderita gangguan jiwa, masih dipasung,a�? terangnya.

Sayangnya, ide untuk membangun sistem itu, tak pernah direstui. Ia sudah mencoba mengusulkan ke pihak-pihak yang dirasa bisa meneruskan rencananya pada Gubernur NTB. Sayang, upayanya selalu mental.

a�?Sampai akhirnya saya nekat, bawa langsung pada Pak Gubernur dan Alhamdulillah, beliau langsung setuju dan mendukung penuh sistem ini,a�? tuturnya.

Maka sejak itulah, pelayanan RSJ mulai berubah. Cara-cara konvensional ditinggalkan. Para penderita gangguan jiwa, tidak lagi dikerangkeng. Tapi dibuatkan ruangan yang sangat nyaman, bersih dan sehat. Layaknya kamar hotel. Terathment kesehatan, lebih humanis.

Komunikasi dan konsultasi juga, terus dibina dengan CMHN yang ada di puskesmas. Melalui website, Masyarakat Aktif Klik Pasung Online (MAKPASOL).

a�?Layanan online kami ini, bahkan dapat juara dua tingkat nasional, tahun lalu,a�? ujarnya bangga.

Hasilnya mulai terlihat. Meski, Pelayanan Keswasmas Komunikatif Model NTB ini baru hanya terbangun di Kota Mataram dengan 11 Puskemasnya, namun hasilnya mulai terlihat. Para penderita gangguan jiwa, bisa tertangani lebih dini untuk menghindari semakin kronis.

a�?Berkat dukungan keluarga dan lingkungan, berangsur-angsur dengan sistem ini, upaya pemulihan dengan dukungan dan penguatan mental, jauh lebih efisien. Bahkan beberapa pasien kami sekarang banyak yang produktif,a�? terangnya.

Ada yang sudah bisa kembali jadi tukang parkir, kuli bangunan, pelayan di pasar, toko, telur asin berbumbu dan kripik. Ini adalah salah satu upaya untuk membuat mereka berdaya. Asalkan, ada dukungan dari keluarga dan lingkungan.

“Kalau dia keluar dari rumah di bilang jogang-jogang, siapa yang ndak marah,a�? jelasnya.

Maka keluarga dan masyarakat yang baik, harus mulai membiasakan diri untuk tidak memvonis seseorang. Apalagi yang dalam tahap penyembuhan. Agar, kekuatan mental, mulai terbangun. Sehingga siap membaur ke tengah masyarakat seperti dulu.

a�?Orang sehat, saja marah. Apalagi mereka yang tidak bisa mengenalikan emosi,a�? tandasnya.(LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram/r5)

Berita Lainnya

Jabatan Muslim Dievaluasi

Redaksi LombokPost

Janji Manis Jadup Bernilai Rp 4,58 M

Redaksi LombokPost

2.368 Formasi CPNS Bakal Lowong

Redaksi Lombok Post

EMAS HITAM DARI NTB

Redaksi Lombok Post

Liburan ke Pantai Penghulu Agung Ampenan Juga Asyik Loo..!!

Redaksi LombokPost

Hasil Produksi Langsung Dibeli Pengusaha

Redaksi LombokPost

DBD Bisa Jadi Ancaman Serius Pengungsi

Redaksi Lombok Post

Ahyar Tidak Puas dengan Hasil CPNS

Redaksi Lombok Post

PLN Luncurkan Layanan Satu Pintu

Redaksi Lombok Post