Lombok Post
Sudut Pandang

Perang (di) Media Sosial

POLA interaksi manusia modern dengan menjadikan teknologi komunikasi sebagai alatnya, telah mengkonstruksi kehidupan global bak sebuah desa (global village) dan mengembangkan ruang gerak kehidupan baru. Fenomena inilah yang oleh Prof. Burhan Mungin (2008) disebut sebagai kehidupan masyarakat maya (cybercommunity).

Media sosial (medsos) sebagai salah satu a�?anak saha�? teknologi komunikasi, telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sosial masyarakat modern. Pada tahun 2012 saja sudah diketahui bahwa dari sekitar 61 juta pengguna internet di Indonesia, 94 % di antaranya mengakses medsos (Suara Pembaruan, 1/10/2016).

Perkembangan medsos makin tak terkendali di tengah kian gandrungnya masyarakat menggunakannya. Ada banyak cara publik memperlakukanya, dan terdapat sekian alasan mereka memanfaatkan eksistensinya. Kontestasi politik menjadi salah satu agenda yang selalu menjadi trigger hadirnya dan ditampilkannya medsos sebagai alat kampanye, danA� acap kali dimanfaatkan sebagai senjata untuk saling menyerang dan menyebar ucapan kebenciaan (hate speech) di antara kelompok petarung, sehingga perang medsos menjadi kenyataan yang tidak mampu dielakkan.

Hangat dan dihangatkannya suasana politik belakangan ini oleh kasus penistaan Alqura��an (agama) oleh Gubernur DKI nonaktifA� Basuki Tjahjana Putra (Ahok) telah menggeret perang medsos sebagai tontonan yang sedang berating tinggi di dunia maya. Berbagai berita terposting dan ragam informasi dipublikasikan oleh dua kelompok (pendukung Ahok dan penuntut Ahok sebagai penista agama).

Sengitnya pertarungan di antara mereka telah menjadikan informasi yang tersaji lewat medsos susah terkontrol kebenarannya. Antara pesan berisi fakta dengan yang telah diplintir berisi kebohongan sangat susah dibedakan. Dua kelompok bak berlomba untuk memenangkan pertarungan informasi dan perebutan image atau persepsi publik.

Kenyataan seperti ini diprediksi akan terus berlangsung sepanjang kompetisi politik dan jenis rivalitas lainnya masih tersaji. Aksi perang statement dan informasi di medsos telah mereduksi kepercayaan publik akan kebenaran informasi yang tersaji di dalamnya. Padahal diawal kehadirannya, medsos diekspektasikan sebagai media alternatif yang murah dan cepat menyajikan informasi ke ruang publik, sekaligus sebagai ajang silaturahim atau interkasi sosial (global) tak berbatas, sehingga pengalaman dan pengetahuan bertambah dan silaturahim berlevel global terwujud.

Perang antarkelompok di medsos terdeteksi tidak sehat, karena perang tidak sepenuhnya menyertakan argumentasi logis dan benar (perang fakta dan data), tetapi acap kali menggunakan data bohong yang dikemas secara provokatif dan jauh dari nilai kesopanan dan kelayakan sebagai warga bangsa yang beradab.

Terkadang ada gambar yang sama kemudian diedit komentarnya secara kontras oleh dua kelompok yang sedang berperang di medsos. Atau ada isi berita yang sama, tetapi direkonstruksi dengan beberapa versi judul yang provokatif.

Fenomena perang di medsosA� seperti saat ini berpotensi mematikan daya kritis masyarakat, terutama saat publik pegiat medsos telah menjadi bagian dari kelompok yang bertarung. Mereka tidak lagi menjadi pengguna medsos yang netral, sehingga medsos tidak dijadikan sebagai rujukan untuk mengupdate informasi, tetapi dijadikan sebagai referensi untuk mempertegas dukungan atau menjustifikasi kebenaran asumsi dan image yang sudah terbentuk sebelumnya.

Dalam kasus penistaan agama yang dilakukan Ahok misalnya, pengguna medsos telah terpolarisasi menjadi dua kelompok pro dan kontra. Postingan kedua kelompok bak peluru yang terus saling bersahutan.

Satu kelompok merasa senang bila judul dan isi yang terposting di medsos menguntungkan kelompoknya. Sebaliknya merasa marah (terkadang tidak mau membukanya) bila ada yang mempublikasi berita yang menguntungkan lawan perangnya.

Cara penggunaan medsos seperti ini mengingatkan saya pada teori uses and gratification, yang menjelaskan adanya kebebasan setiap orang untuk mengkonsumsi media apa yang mereka anggap bermanfaat bagi dirinya. Komunitas atau individu yang mempraktikkan penggunaan medsos seperti di atas dapat juga disebut sebagai kelompok pengguna media selektif-subjektif atau kelompok cyber sektarian.

Fenomena seperti di atas menjadi gambaran betapa tidak sehatnya kehidupan dunia maya. Hari-hari para pegiat medsos dihabiskan untuk saling menyerang, disertai perasaan benci terhadap sesama anak bangsa. Lebih memprihatinkan lagi karena sebagian besar pengguna internet dan medsos adalah generasi muda.

Bangsa ini akhirnya diisi dan dilanjutkan perjalannya oleh generasi yang dibesarkan dengan nuansa kecurigaan dan permusuhan. Padahal tantangan kehidupan global yang kian menantang mengharuskan generasi muda di setiap negara untuk bisa lebih kompeten agar bisa berkompetisi dan bersaing dengan warg negara lainnya.

Pemerintah dan aparat penegak hukum harus hadir sebelum persoalan ini (perang di medsos) menjadi tradisi turun-temurun. Pemerintah hadir untuk mengkampanyekan penggunaan internet dan medsos sehat dan halal. Aparat penegak hukum mesti berani menciduk setiap nitizen yang melanggar Undang-Undang informasi dan transaksi elektronik. Negara ini harus diselamatkan dari perang saudara di dunia maya. Bila tidak diantisipasi, maka perang di arena cyber akan berpindah ke dunia nyata, yang tentu saja akan berdampak negatif lebih besar dan luas bagi kehidupan sosial.

Anak bangsa ini harus dikonstruksi menjadi generasi selektif (tabayyun) dan kritis terhadap setiap informasi yang mereka peroleh. Mereka harus diasah sikap selektifnya untuk menkonsumsi postingan yang bermanfaat dari medsos. Anak kita mesti dibiasakan kritis dan tabayyun atas informasi yang tersaji, sehingga tidak terprovokasi atau terhasut oleh hal tersebut. Internet dan medsos harus didorong pemanfaatannya untuk hal-hal yang edukatif, sehingga eksistensi dapat bermnfaat bagi masa depan mereka secara personal dan daerah serta bangsa secara kelembagaan. Semogaa�� (r8)

Berita Lainnya

Sudah Ikhlaskah Nonpribumi Berindonesia?

Redaksi Lombok Post

Universitas Islam Negeri (UIN) dan Spirit a�?DNAa�? Baru

Redaksi Lombok Post

Selamat Jalan Pengawal Budaya Mbojo

Redaksi Lombok post

Melawan Musuh Bangsa

Redaksi Lombok post

Media Sosial dan Ruang Publik

Redaksi Lombok post

Makna Simbolik Kunjungan Raja Salman

Redaksi Lombok post

Pendidikan Nirkekerasan

Redaksi Lombok post

Kasih Sayang yang Tidak Mengenal Hari

Redaksi Lombok post

Habib Rizieq: Antara Benci dan Rindu

Redaksi Lombok post