Lombok Post
Metropolis

Kemiskinan Jadi Pemicu Utama

kekerasan-sir
PERTEMUAN: Kepala BP3AKB NTB Hj Eva Nurcahaya Ningsih (kiri) memberikan sambutan dalam pertemuan dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat, kemarin (16/11).

MATARAM – Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak terus meningkat. Setiap tahun ratusan, perempuan dan anak menjadi korban kekerasan. Berdasarkan data Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3AKB) NTB, jumlah kasus kekerasan anak dan perempuan pada tahun 2015 mencapai 1.279 kasus. Sementara hingga Juni 2016 jumlahnya mencapai 700 kasus.

Sedangkan jumlah kasus kekerasan yang ditangani Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (UPPA) Polda NTB tahun 2014 sebanyak 140 kasus, tahun 2015 sebanyak 169 kasus dan hingga September 2016 sebanyak 140 kasus. Kekerasan ini berupa seksual, seperti pencabulan, pemerkosaan, dan persetubuhan. Dari sekian banyak kasus ini baru 70 persen masih dalam penyidikan.

Kepala BP3AKB NTB Hj Eva Nurcahaya Ningsih mengatakan, penyebab utaman tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak adalah kemiskinan. Menurutnya, faktor kemiskinan merembet ke segala lini kehidupan yang saling kait mengkait hingga terjadi kekerasan. Misalnya, karena miskin seorang perempuan tidak disekolahkan, karena tidak mendapat pendidikan yang layak mereka akhirnya menikah dini.

Pernikahan dini sangat rentan dengan perceraian, perempuan menjadi korban kekerasan. Kemudian anaknya juga tidak mendapat pendidikan layak sehingga rentan terhadap tindak kekerasan. a�?Dalam hal ini anak-anak dan perempuan selalu menjadi korban,a�? katanya.

Selain kemiskinan, penyebab lainnya dari tindak kekerasan adalah rapuhnya ketahanan keluarga, teknologi dan informasi yang tidak terkendali seperti penggunaan media sosial. Di mana saat ini tindak kejahatan semakin gencar menggunakan media sosial.

Selain itu juga faktor pendidikan dan sumber daya manusia yang rendah. Mereka yang tidak berpendidikan dan miskin rentan menjadi korban tindak kekerasan. a�?Tapi semua itu sumbernya adalah kemiskinan,a�? katanya.

Guna menekan angka kekerasan ini, BP3AKB melakukan beberapa langkah. Diantaranya dengan menggandeng para tokoh agama dan masyarakat untuk sama-sama menekan angka kekerasan. Melalui ceramah dan pengajian para tokoh ini dianggap mampu memberikan pencerahan kepada masyarakat.

Selain itu, pemerintah juga membentuk kelompok dialog warga di setiap desa. Tujuannya memberikan pemahaman kepada semua pihak untuk menghentikan kekerasan. a�?Ini menjadi program unggulan kami,a�? katanya.

Pemerintah pusat juga memiliki program yakni perlindungan anak terpadu berbasis masyarakat. Dengan program ini diharapkan angka kekerasan bisa ditekan setiap tahun. (ili/r7)A�

Berita Lainnya

Liburan ke Pantai Penghulu Agung Ampenan Juga Asyik Loo..!!

Redaksi LombokPost

Hasil Produksi Langsung Dibeli Pengusaha

Redaksi LombokPost

DBD Bisa Jadi Ancaman Serius Pengungsi

Redaksi Lombok Post

Ahyar Tidak Puas dengan Hasil CPNS

Redaksi Lombok Post

PLN Luncurkan Layanan Satu Pintu

Redaksi Lombok Post

Hanya Ngebut di Depan Jokowi, Perbaikan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi Lombok Post

Nuril pun Menangis, Aksi Bela Nuril Terus Mengalir

Redaksi Lombok Post

Ahyar Bakal Evaluasi Muslim

Redaksi LombokPost

UMK Jadi Pertimbangan Kenaikan Upah Honorer

Redaksi LombokPost