Lombok Post
Perspektif

Mengerjakan Rencana

KITA tidak pernah dapat menebak apa yang akan terjadi secara pasti di masa depan. Sebagaimana saya percaya kalimat bijak yang menyatakan a�?Manusia dapat merencanakan, tapi Tuhan yang menentukan hasil akhirnya.a�? Kalimat itu pernah diucapkan seorang ustadz pada acara ceramah suatu hari yang tayang di televisi.

Anak saya sedang asyik bermain sambil sesekali melirik ke televisi. Nampaknya itu bukan tayangan favoritnya. Sebab, ia lebih tertarik untuk mengganti chanel ke tayangan kartun sponge bob atau upin ipin.

Saat duduk di bangku TK nol besar, untuk pertama kalinya si Nejad bertanya pada saya. a�?Inaq, Tuhan itu dimana?a�? saya lalu meraih tangannya dan meletakkan di dadanya. Tanpa berkata-kata, beberapa detik kami hanya mendengarkan denyut jantung. Ia kembali bertanya a�?Apakah ini Tuhan?a�? begitu seterusnya, kadang sampai kami tertidur.

Tak hanya saya, sebab pengalaman beberapa teman, juga mengalami hal yang sama. Anak-anak mereka bertanya tentang Tuhan, malaikat, surga, neraka. Dan setiap orang tua, tentunya punya respon yang berbeda terhadap pertanyaan-pertanyaan itu.

Mungkin hal-hal ini membuat anak-anak heran dan bertanya-tanya. Tapi tak jadi masalah, saya mencoba memahaminya sebagai proses. a�?Begitulah cikal bakal pertumbuhan pengetahuan, filsafat dan pribadi, diawali dengan pelbagai macam keheranan dan ingin tahu.a�? Begitu yang pernah dikatakan Bapak kepada saya.

Seiring usia, pertanyaan demi pertanyaan berkembang. Minggu lalu ia bertanya. a�?Mengapa orang dewasa suka sekali menonton berita? Apakah kartun tidak lebih menarik?a�? Ia mulai membuat perbandingan-perbandingan untuk beberapa tayangan televisi yang menjadi pilihan kami. Hingga kami membuat jadwal untuk tidak ada tontonan televisi dari jam 6 sore sampai dengan jam 8 malam. Sebab, itu jadwalnya mengaji di TPQ.

Begitupun pada hari Minggu, tiga bulan terakhir ini, kami membuat jadwal kunjungan a�?akhir pekana�? kadang mengunjungi tempat wisata, paling sering ia minta menginap di rumah Ninik-nya (orang tua saya) bermain seharian, dan pada minggu sore jemputan pulang.

Begitu halnya dengan a�?mengelola keuangan.a�? Mungkin hal ini terasa agak berlebihan. Saya membuat kesepakatan dengan anak yang baru duduk di bangku SD, dalam hal pengelolaan uang belanja. Sehari, saya memberinya hak kelola uang sebesar dua minggu dengan rincian 10 ribu per hari untuk jatah selama dua pekan hari sekolah yaitu dengan total 120 ribu Dari total uang 10 ribu, tidak seluruhnya dapat ia belanjakan, sebab ada catatan khusus mesti ada prioritas tabungan setiap hari.

Kesepakatan-kesepakatan semacam ini kami berlakukan sejak ia duduk di bangku kelas I SD. Ketika si Nejad merengek meminta sepeda, saya tak langsung meng-iya-kan. Ia mesti menabung di celengan untuk mendapatkan sepedanya. Tak ada uang tambahan harian, jatah tetap 10 ribu, mesti menabung di sekolah dan menyisihkan untuk sepeda baru.

Sejak ituA� ia bertanya a�?berapa harga sepeda?a�? Saya katakan berkisar antara Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta untuk sepeda anak-anak. Lantas ia menetapkan sepeda yang ia inginkan dengan dipatok dengan harga Rp 800 ribu. Ia mulai menghitung, jika sehari ia menyisihkan seribu rupiah, maka ia membutuhkan 800 hari untuk mengumpulkan uang sebanyak itu.

Dari cita-cita sepeda baru, merembet hitungannya kemana-mana. Jika satu tahun terdiri dari 365 hari, maka Nejad membutuhkan 2 tahun lebih 2 setengah bulan untuk menabung. Ia pernah bergumam tahun lalu soal ini. Sebab, perjalanan menuju sepeda baru masih setahun lagi. Saya hanya memberikan beberapa motivasi, jika di nilai-nilai pelajaran sekolah tiap semester ada peningkatan, pun dengan peningkatan dari ngaji Iqroa�� ke khatam Alquran, maka akan ada bonus tambahan untuk beberapa hari yang masuk ke celengan.

Karena namanya bonus dan itu menjadi kejutan, jumlahnya tidak pernah saya katakan padanya. Kadang ia mengintip dari lubang celengan, menebak-nebak berapa nilainya. Sesekali ia mengutarakan protes, kejutan-kejutan itu sering mengacaukan rencana hitungan hariannya.

Saya yakinkan, itu tidak jadi masalah. Sebab, bertambahnya jumlah tidak jadi masalah, asal yang rutin setiap hari tidak dilalaikan karena adanya kejutan. Kami belajar makna istiqomah, konsisten dari nominal seribu rupiah.

Apakah ini mudah bagi saya? tentu saja tidak. Sebab, saya juga mesti berhitung untuk mengelola keuangan rumah tangga. Menyisihkan harga beras, lauk pauk, belanja, tagihan rekening listrik dan air, tagihan asuransi kesehatan, setoran ini dan itu. Terlebih dengan pemasukan bulanan yang tak menentu. Intinya, neraca keuangan rumah tangga harus tetap dicatat. Dengan begitu, sedikit ilmu akuntansi saya terapkan dalam keluarga kecil kami.

Apakah saya terlalu pelit, perhitungan kepada anak? Mungkin akan ada yang mengatakan begitu. Tapi saya telah memilih begitulah cara saya mendidiknya untuk mendapatkan sesuatu tidaklah mudah. Ia melaluinya dengan berhitung. Ia mesti diberi tanggung jawab untuk mengelola keuangan hariannya dengan menyisihkan sebagian hak belanjanya untuk ditabung demi kenginan dan haknya yang lain berupa sepeda baru. Serta bersiap untuk kejutan-kejutan.

Kejutan itu akan datang sebentar lagi, ketika akhir tahun ini. Si Nejad pun mendapati dua tahun lebih penantiannya untuk sepeda baru akan segera tercapai. Apa yang lebih membahagiakan serta kita syukuri selain menikmati proses dan hasil dari keringatmu sendiri? (r8)

Berita Lainnya

Hari Kartini dan Wajah Pribumi

Redaksi Lombok Post

Ragam Seragam

Redaksi Lombok post

Job, Non Job and Jobs

Redaksi Lombok post

2017

Redaksi Lombok post

Musibah

Redaksi Lombok post

Mengulang Tahun

Redaksi Lombok post

Seratus Tahun Nyala Tungku

Redaksi Lombok post

Kopia�� Ah

Redaksi Lombok post

Between

Redaksi Lombok post