Lombok Post
Politika

Pemerintah Harus Perhatikan Petani Cabai

TRANSAKSI: Seorang pembeli tengah menawar tomat dan cabai kepada pedagang di Pasar Mandalika

MATARAM – Melonjaknya harga cabai turut menjadi perhatian sejumlah politisi. Ketua DPW PKB NTB TGH Najamudin Mustafa mengatakan, tingginya harga cabai diakibatkan masih kacaunya kondisi cuaca di Pulau Jawa.

Tingginya curah hujan, menyebabkan kualitas cabai di Pulau Jawa tidak bisa bertahan lama hingga membusuk. Pada akhirnya, menyebabkan permintaan cabai pun menjadi tinggi guna memenuhi kebutuhan pasar. a�?Situbondo, Lumajang, Bondowoso semua kena karena hujan,a�? katanya, kemarin (18/11).

Kata dia, sesuai hukum pasar, ketika permintaan tinggi sementara jumlah barang terbatas menyebabkan harga barang menjadi mahal. Inilah yang dimanfaatkan petani untuk meraup keuntungan. a�?Petani diuntungkan di sini,a�? ucapnya.

Ia yang juga sebagai pengusaha cabai, tak menampik jika petani sedang menikmati hasil. Para petani di kawasan Sembalun saja, lanjutnya, dalam satu hektare bisa memetik cabai sebanyak 1,7 ton hingga dua ton setiap minggu dengan harga Rp 33 ribu per kilogram. Dengan keuntungan sekitar Rp 60 juta per minggu sekali petik.

Ia memaparkan, harga cabai yang dijual petani sebesar Rp 33 ribu per kilo kemudian dijual ke Jawa dengan harga Rp 41 ribuA� per kilo. Selisih yang cukup besar memberikan keuntungan bagi pertani.

Sisi lain dampak dari cuaca, kata dia, menyebabkan harga cabai di pasar lokal ikut-ikutan mahal. Penyebabnya, lantaran petani lebih memprioritaskan peluang keuntungan lebih besar dengan menjual cabai di luar Lombok.

Sayangnya, meski komoditas ini berulang kali mengalami kenaikan harga, pemerintah daerah dan kabupaten tidak bisa mengontrol kenaikannya. Penyebabnya peran pemerintah dalam membina petani dinilai tidak ada.

Kata dia, mulai dari proses pembibitan, penanaman jika dapat ditata kelola dengan baik, pemerintah bisa menekan porsi harga cabai. Itulah peran pemerintah jika ingin membantu petani. Tidak hanya sebatas bantuan materi, melainkan teknis dan pembinaan.

a�?Sehingga petani yang dibantu, harganya bisa diatur dan ditekan,a�? katanya. a�?Petani tahu diri kok kalau dibantu,a�? imbuhnya.

Ia memprediksi, mahalnya harga cabai akan terus terjadi hingga beberapa bulan ke depan. Selama faktor cuaca belum membaik. Namun perlu menjadi kehati-hatian, ketika cuaca mulai membaik dan kondisi barang di Jawa sedang surplus, maka imbasnya untuk produk NTB akan menurun.

Terpisah, anggota Komisi II DPRD NTB Made Slamet menambahkan, pemerintah daerah tidak bisa memproteksi pengiriman cabai ke luar daerah. Karena cabai merupakan barang bebas. Sehingga wajar petani lebih mengutamakan menjual ke luar daerah untuk mendapat keuntungan. a�?Tidak bisa diproteksi, ini hukum pasar murni,a�? terangnya.

Meski demikian, pemerintah daerah dengan dinas terkait harus mampu mendorong peningkatan produksi cabai. Dengan pemanfaatan pekarangan rumah untuk di perkotaan.

Sementara di perdesaan selama ini, sebagian besar petani masih menggunakan sistem tradisional dalam bercocok tanam. Ini menyebabkan, ketika permintaan tinggi dengan jumlah produksi terbatas membuat harga cabai melambung. Bahkan menjadi faktor utama pendorong inflasi.

a�?Masih sedikit petani kita menggunakan green house, di tengah cuaca el nino seperti ini,a�? pungkas politisi PDI-P itu. (ewi/r7)

Berita Lainnya

Janji Korban Gempa Harus Dituntaskan

Redaksi LombokPost

Garbi Bakal Gembosi PKS?

Redaksi LombokPost

HBK Dukung Program Zul-Rohmi

Redaksi LombokPost

Pendaftaran Calon Angota KPU Diperpanjang

Redaksi LombokPost

Sembilan Sekolah Lolos Babak Penyisihan Lomba Cerdas Cermat

Redaksi LombokPost

Partisipasi Pemilih Nasional Ditarget 77,5 Persen

Redaksi Lombok Post

Pemilu Serentak 2019 Ribet

Redaksi LombokPost

Ma’ruf Amin Kampanye di Pondok?

Redaksi Lombok Post

Tiga Caleg DPRD NTB Dinyatakan TMS

Redaksi LombokPost