Lombok Post
Metropolis

Jerat Liang Lahat

makam-2
TPU KARANG MEDAIN:Peziarah melintas di area taman pemakaman umum karang medain,pemakaman utama di kota mataram,selasa (22/11).

Bagi sebagian orang, kota memang kerap tak ramah. Saat hidup, kesulitan biasa datang silih berganti tanpa redup. Tatkala datang kematian, telah menanti kesulitan lahan pemakaman. Di Kota Mataram, aneka perumahan baru bermunculan, namun nyaris tak dibarengi tempat penguburan. Jika tak tertangani segera, makam akan jadi bom waktu yang siap menghancurkan sendi sosial Ibu Kota.

***

SEPI, tapi silau. Keramik-keramik telah memantulkan cahaya menembus kornea mata. Begitulah sebuah siang di Tempat Pemakaman Umum Karang Medain, Kota Mataram.

Akhir pekan lalu, tak ada kesibukan berarti di sana. Selain aktivitas penjaga kuburan yang melakukan aksi bersih-bersih. Para peziarah memang jarang datang pada siang. Biasanya sore, atau pagi hari. Peziarah lebih senang datang saat embusan angin sedang sejuk.

Sebenarnya, aturan pasang keramik untuk makam di TPU Karang Medain tak boleh. Tapi kini, di sana hal itu sudah menjamur. Kebanggaan sanak keluarga mereka yang dimakamkan di sana memang sulit diredam. Tapi ini jadi masalah tentu. Mengingat dalam aturan, sebagai pemakaman umum, makam di sana memang pada suatu saat akan ditindih kembali.

a�?Aturannya sebenarnya tidak boleh pak (pakai keramik),a�? kata Siti, istri penjaga TPU Karang Medain. a�?Kalau paving block, sih tidak apa-apa. hanya untuk menandai lebih lama, itu kuburan keluarga siapa,a�? tambahnya.

Siti sebenarnya sudah menolak bicara. Alasannya, ia sudah diwanti-wanti, keterangan harus satu suara. Hanya dari ketua pengurus makam. Sayang, dihubungi berulang kali, tak ada jawaban dari pengurus makam.

Dan begitulah TPU Karang Medain terkini. Di sini, di Kota Mataram, telah lama, pemakaman umum ini menjelma menjadi satu-satunya harapan tempat peristirahatan abadi bagi para pendatang di Mataram. Bahkan juga harapan bagi mereka yang bermukim di sejumlah kompeks perumahan baru yang berada di kawasan lingkar Kota Mataram.

Masalah utamanya hanya satu. Begitu banyak kompleks perumahan dibangun. Ribuan unit rumah baik di Kota Mataram maupun di lingkar Kota Mataram. Namun, kawasan-kawasan perumahan itu, nyaris tak ada yang dilengkapi dengan fasilitas pemakaman.

Alhasil, ketika ada warga yang meninggal, kelimpungan pula para sanak keluarga mencari lahan pemakaman. Kelipungan pula par apenghuni kompleks-kompleks perumahan baru tersebut. Pada saat itulah, TPU Karang Medain menjadi penyelamat.

Kalau sudah begitu, kadang biaya tak jadi soal. Biasanya kata Siti, kalau untuk keseluruhan biaya bersih, tarif sekali pemakaman Rp 750 ribu.

Harga itu sudah untuk seluruh kebutuhan. Mulai dari izin gali, ongkos tukang gali, harga papan, terop, sound system hingga penguburan kembali. a�?Biayanya segitu. Tidak lebih-tidak kurang. Itu dengan syarat keluarga jenzah memang cuma mau bawa mayat, alias terima beres,a�? kata dia.

Boleh juga keluarga bawa jenazah bawa tukang gali sendiri, terus punya papan, terop dan sound sistem. Tapi kebanyakan keluarga jenazah, memang tidak mau repot.

Apalagi bagi para pendatang. Hal begini biasanya jadi rumit. a�?Kalau penduduk asli, mungkin gampang pak cari bantuan. Tapi ndak tahu kalau orang-orang luar yang datang. Mereka kan kurang sosialisasi. Jarang juga tegur sapa. Apa iya ada yang mau bantu ya?a�? celetuknya Siti polos.

Meski tarif sudah disosialisasikan sebesar Rp 750 ribu, kadang memang keluarga para jenazah membayar lebih besar dari itu. Bahkan ada yang membayar hingga Rp 1,5 juta.

Menurut Siti, hal begitu terjadi karena para ahli waris atau keluarga yang tidak paham. Bukanya melapor ke pengurus TPU, mereka malah memberitahu tokoh-tokoh masyarakat sekitarnya. Pada orang itu, ia meminta diuruskan pemakaman. a�?Akhirnya apa, setelah ditotal-total pengeluaran mereka untuk urus makam saja, biasa ada yang keluar biaya Rp 1,5 juta,a�? ungkapnya.

Tapi, siap peduli soal angka Rp 1,5 juta? Keluarga yang meninggal pasti lebih mengkhawatirkan orang-orang yang mereka sayangi tak mendapat tempat peristirahatan abadi yang semestinya, ketimbang dana Rp 1,5 juta itu.

Tapi sampai kapan praktik ini akan bertahan? Inilah yang jadi biang soal. Karena kian hari kegelisahan soal lahan pemakaman ini memang kian memuncak.

Pemerintah Kota Mataram memang telah memperluas areal pemakaman Karang Medain. Di sisi timur makam tersebut, Pemkot Mataram telah menyiapkan lahan seluas 35 hektare.

Tapi diprediksi, luasan itu tak akan bertahan lama. Lombok Post mengecek ke Bagian Kesra, Pemkot Mataram. Di sana, meski tidak spesifik, ada data soal berapa jumlah warga Kota Mataram yang meninggal setiap bulan. Ini terutama dihimpun dari jumlah mereka yang datang mengurus santunan kematian.

a�?Rata-rata warga kota meninggal setiap bulannya, mencapai 80 orang,a�? kata Kabag Kesra Setda Kota Mataram Saikhul Islam. Namun, kata dia, tidak jarang pula di tengah musim penyakit tiba, angka kematian di Kota Mataram menembus 100 orang perbulan.

a�?Setiap hari, ada saja pencairan santunan kematian masuk ke kami. Nilainya, bisa antara Rp 3 juta sampai Rp 5 juta. Itu artinya, ada 6 sampai 10 orang meninggal setiap hari,a�? urainya. Tahun ini saja, Pemkot Mataram menyiapkan dana Rp 1,2 miliar untuk santunan kemarian.

Tentu saja, angka di Kesra ini tidaklah riil. Angka kematian pastilah di atas itu. Sebab, ada juga warga meninggal di Kota Mataram, tidak datang mengurus santunan kematian.

Tapi okelah. Dengan angka kematian 80 orang sebulan saja. Jika seluruhnya dimakamkan di Karang Medain, maka itu berarti penambahan luasan makam 35 are di sana tak akan berarti apa-apa.

Hitungannya sederhana. Jika rata-rata warga meninggal di Kota Mataram 80 orang tiap bulan, maka dalam setahun berarti ada 960 jasad yang harus dimakamkan.

Jika, satu makam dibuat 2×1 meter persegi, maka dalam satu are lahan pemakaman akan mampu menampung paling tidak 50 makam. Itu berarti dalam sebulan diperlukan lahan pemakaman seluas 1,5 are. Kalau hitungannya begini, hanya dalam waktu empat tahun, Karang Medain sudah penuh.

Mengkhawatirkan? Tentu saja iya. Untungnya, TPU Karang Medain bukan makam satu-satunya makam di Kota Mataram. Ada juga makam-makam lain. Meski statusnya bukan pemakaman umum yang dikelola pemerintah. Melainkan pemakaman umum yang biasanya dimiliki oleh lingkungan dan pemukiman di Kota Mataram.

Penuh Sesak

Secara keseluruhan, total ada 94 makam di Kota Mataram. Namun, sebagian besar tingkat kepadatannya sudah sangat tinggi. a�?Itu fakta di lapangan,a�? kata Kepala Bidang Ruang Terbuka Hijau, Dinas Pertamanan Kota Mataram Nanang Edward.

Di Ampenan misalnya, dari 17 pemakaman yang ada, semuanya tingkat kepadatannnya di atas 50 persen. Makam kristen di Jalan Industri bahkan sudah mencapai kepadatan 90 persen dari total luasan yang hanya 7.024 meter persegi. Makin menambah beban karena makam tersebut masuk kategori tak bisa dikembangkan. Artinya sedikit lagi sudah akan penuh.

Masih di kecamatan yang sama, dua makam Budha/Konghucu yang berada di Jalan Saleh Sungkar bahkan sudah dinyatakan penuh total. Hal sama juga terjadi terhadap satu makam Muslim di Lingkungan Pejeruk Kebon Bawak. a�?Sudah penuh dan tak bisa dikembangkan lagi,a�? ujarnya.

Dari total 94 makam di enam kecamatan, hanya 18 makam saja yang masih memungkinkan dikembangkan. Itupun jika anggarannya ada. Juga bisa tercapai jika pemilik lahan yang berbatasan dengan makam bersedia menjual tanahnya untuk dijadikan area pemakaman.

Sementara 76 makam masuk kategori tak mungkin dikembangkan. Tak akan bisa diperlebar setelah penuh. Satu dari dua makam Budha/ Konghucu di Sekarbela mengalami nasib tersebut.

Makam Tionghoa di bagian timur Jalan Arya Banjar Getas juga sudah mendekati kepadatan 90 persen dari luas lahan yang hanya 7.213 meter persegi. Setelah penuh, tak akan bisa lagi dilebarkan. Pilihanpun kemudian berpindah ke bagian barat Jalan Arya Banjar Getas yang kepadatannya sebenarnya juga sudah hampir penuh. a�?Di sana sudah hampir 75 persen,a�? sambungnya.

Di Sekarbela tercatat empat makam dengan kepadatang mendekati 50 persen. Selebihnya ada diangka 75 persen. Bahkan ada yang sudah mendekati 90 persen alias hampir penuh seperti tiga makam di Ampenan.

Di Kecamatan Mataram, sebuah makam Hindu juga dalam keadaan terjepit. Terletak di Jalan Sultan Kaharudin Pagesangan, makam dengan luas 14.909 meter persegi sudah berada dalam kepadatan 50 persen dan tak bisa dilebarkan sama sekali. Lagi-lagi artinya tinggal menunggu waktu untuk penuh sesak dan tak lagi bisa difungsikan. Makam Pahlawan yang merupakan makam campuran di Jalan Transmigrasi juga sudah mendekati 75 persen.

Di Kecamatan Selaparang, dari 18 makam, hanya empat makam yang kepadatannya masih dibawah 25 persen. Makam-makam tersebut adalah Makam Gegutu Timur di Rembiga dan tiga makam keluarga di Karang Kemong. Selebihnya, 14 makam sangat padat, mendekati 75 persen dan mendekati 90 persen.

Di Cakranegara, dari 12 makam yang ada, hanya satu yang kepadatannya masih di bawah 25 persen dan bisa dikembangkan. Selebihnya, dua makam Hindu dan sembilan makam Muslim tinggal menunggu waktu untuk penuh. Sedangkan di Kecamatan Sandubaya, satu makam di Babakan Dese sudah dinyatakan penuh.

Memutar Otak

Pemerintah tentu sadar bahwa pemakaman ini menjadi bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak bagi Kota Mataram. Karena itu, jaring pengaman disiapkan. Termasuk aturan ketat bagi para pengembang perumahan di Kota Mataram. Mereka diwajibkan menyiapkan lahan pemakaman. Terutama khusus untuk para penghuni kompleks perumahan yang mereka bangun.

Muncullan kemudian apa yang disebut skema fasilitas sosial (fasos) dan fasilitas umum (fasum) yang harus disiapkan para pengembang. a�?Kami sudah menekankan, agar para pengembang menyediakan fasos dan fasum sebesar 30 persen dari kawasan properti mereka. Termasuk 5 persen untuk pemakaman,a�? kata Kepala BPMP2T Kota Mataram, Cokorda Sudira.

Dengan aturan ini, selama dirinya menjabat sejak tahun 2004, tidak ada satupun pengembang yang menolak menyiapkan fasos-fasum. Sebab, jika dalam ferivikasi lapangan, ternyata ada pengembang yang terbukti tidak memenuhi syarat itu, ia menjamin perizinan yang lain tidak akan dikeluarkan.

a�?Iya (saya jamin), sejak saya jadi kepala BPMP2T ya. Semua harus sediakan fasos-fasum itu,a�? tegasnya.

Terkait konversi fasos-fasum dalam bentuk dana untuk mengganti keharusan menyiapkan lahan 5 persen dari luas kawasan properti, Sudira menegaskan, wacana itu memang sempat digulirkan. Namun, tidak jadi dilaksanakan.

Sebab, sampai pembicaraan terakhir, belum ada kesepakatan dari pengembang terkait nilai dana yang harus diberikan pada pemerintah untuk membeli lahan bersama di luar kawasan properti.

a�?Nggak ada (uang diberikan pada pemerintah). Belum ada kesepakatan. Saya jamin itu. saat ini, aturan yang masih berlaku adalah, pengembang harus menyiapkan 30 persen untuk fasos dan fasum. Tidak ada kesepakatan lain,a�? tegasnya. a�?Jadi kalau ada pengembang yang membayar, itu melanggar,a�? tambahnya.

Bagaimana kenyataan di lapangan? Banyak pengembang yang belum bisa memenuhi penyediaan makam tersebut.

Lihat saja. Sekretaris DPD REI NTB Anas Amrullah bahkan menyebut penyediaan lahan makam tidak bisa dibebankan semuanya kepada pengembang. Sebab, diketahui penyediaan lahan makam menjadi salah satu domain pemerintah daerah.

Hingga saat ini bahkan kata dia, belum ada Peraturan Daerah yang mengatur kewajiban pengembang untuk menyiapkan areal pemakaman ini. a�?Kami menunggu kepastian perda dari pemerintah mengenai lahan pemakaman ini,a�? katanya.

Ia menjelaskan pemakaman itu tidak mungkin dalam lahan perumahan. Sehingga kata dia, kontribusi dalam setiap unit rumah dengan mengeluarkan dana menjadi pilihan realistis.

a�?Dana yang terkumpul ini dialokasikan untuk menambah luas kuburan yang sudah ada,a�? terangnya.

Anggota REI menyadari lahan makam ini menjadi hal penting yang harus diperhatikan. Namun, ini semua tidak bisa hanya dilakukan oleh REI. a�?Teman-teman REI siap untuk berkontribusi dalam pengadaan lahan makam ini. Baik itu bentuknya retribusi,a�? ujarnya.

Kontribusi yang dikeluarkan setiap rumah ini bisa menjadiA� salah satu solusi masalah makam. Sehingga tidak akan mengakibatkan konflik sosial nantinya. a�?Sehingga memang perlu dibicarakan bersama-sama masalah ini termasuk REI dilibatkan dalam membuat aturan tersebut,a�? tuturnya.

Menurutnya kalau pun pemerintah mau membuat kuburan baru itu bisa saja. Karena itu merupakan wewenang dari pemerintah bukan dari REI. a�?Kami hanya mengikuti bagaimana solusi yang akan diberikan pemerintah daerah,a�? tambahnya.

Tapi dengan adanya makam baru perlu dipikirkan ulang karena tidak mungkin ada makam di setiap perumahan. Sehingga memang solusi perluasan lahan makam yang sudah ada bisa menjadi solusi yang diperhatikan pemerintah.

Pernyataan yang sama juga disampaikan GM PT Hissto Perkasa Nusantara Heri Susanto pada Lombok Post. a�?Pengembang seperti kami ini siap mengikuti regulasi yang dikeluarkan Pemkot Mataram terkait tanah makam,a�? kata dia.

Selama ini regulasi yang ada memang soal penyiapan fasos dan fasum 30 persen dari total lahan yang dibangun. Seperti contohnya minimal jalan yang disiapkan pengembang enam meter. a�?Tapi tidak ada secara khusus dalam fasos dan fasum itu soal pemakaman,a�? katanya.

Dikatakan walaupun siap tapi semua harus sesuai dengan aturan. Selain itu juga tentu tidak memberatkan segala sisi pengembang dalam hal ini. Ini diharapkan pasti bisa menjadi win win solution. a�?Yang penting kami dilibatkan dalam penentuannya dan harus segera disosialisasikan ke pengembang yang ada,a�? ujarnya.

Pengembang akan menyambut baik usulan tanah makam karena ini kepentingan bersama. Asalkan sudah ada perda yang mengatur hal tersebut. Ini diperlukan agar tidak terjadi konflik-konflik sosial di masyarakat. Pengembang juga tidak inginkan setiap ada perumahan baru akan bermasalah di tanah makam.

Jadi? Selama belum ada solusi permanen, maka soal liang lahat ini, masih akan tetap menjadi momok. Terutama bagi para pendatang bermukim di Mataram, lalu meninggal dunia. (zad/yuk/nur/r8)

Berita Lainnya

22.425 E-KTP Rusak Dimusnahkan

Redaksi LombokPost

Bocah-Bocah Pemberani di Jembatan Kuning DADS

Redaksi LombokPost

Pokja Parkir Janji Bakal Tegas!

Redaksi LombokPost

Bergaya Fashionable Bersama Bellagio

Redaksi LombokPost

Pol PP Kecele!

Redaksi LombokPost

Zul-Rohmi Perlu Banyak Sosialisasi

Redaksi Lombok Post

Mengejar Mimpi Jadi Daerah Industri

Redaksi Lombok Post

Gerbang Kota Ikut Terseok-Seok!

Redaksi Lombok Post

Spa Abal-Abal Kembali Tersenyum

Redaksi Lombok Post