Lombok Post
Perspektif

Kopia�� Ah

BUKAN lantaran tenar kasus a�?Kopi Sianidaa�� Jesica Kumala Wongso dan Wayan Mirna yang menjadi sebab saya menulis tentang Kopi. Ini tentang tiga bulan terakhir, sebelum Papuk (kakek; bapak dari Ibu saya) meninggal dunia pada 12 November lalu dalam usia 102 tahun. Beliau kerap kali berteriak meminta makan, minum dan permintaan yang tak biasa yaitu; ngopi.

Saya menganggapnya tak biasa sebab sebelumnya papuk tak pernah memintanya. Saya tahu persis hal itu karena semasa saya SMA, pernah bertugas sebagai pengantar saji makan untuknya. Begitupun dari cerita beliau sebelumnya, dimasa mudanya papuk bukanlah seorang penikmat kopi.

Kepada papuk saya pernah bertanya, mengapa ia tidak meminum kopi? Papuk menjawab: ngopi baginya adalah pekerjaan gila. Ia menguatkan asumsinya dengan menceritakan bagaimana kopi diproses. Dari biji kopi, disangrai sampai gosong lalu ditumbuk halus. a�?Barang gosong sudah pasti berasa pahit, dan anehnya kita tahu itu pahit, saat hendak meminumnya, mereka tambahi pula dengan gula. Dalam gelas, pahit dan manis dipersatukan,a�? ujarnya sambil terkekeh.

Tapi bukan berarti ia tak menghormati para pengopi. Ia hanya merasa tak begitu akrab dengan minuman mengandung cafein itu. Sebab, jika ada tamu yang datang berkunjung, si Tamu menikmati kopi dan ia menemani dengan segelas air putih saja.

Tentang kopi adalah tentang rasa penasaran, dan pertanyaan demi pertanyaan yang tumbuh subur seperti kecambah dalam pikiran saya. a�?Sejak kapan kampung kita mengenal kopi serta tradisi menyugukan kopi untuk tamu?a�? saya menanyakan hal itu pada Inaq.

Mengingat daerah kami terletak di wilayah tengah antara pegunungan dan pantai, biji kopi bukanlah produksi daerah kami. Biji kopi termasuk komoditas yang mahal dan terbilang masih langka saat itu. Harganya mencapai dua sampai tiga kali lipat harga bahan pokok makanan seperti beras.

Jika beras seharga Rp 50 ribu perkilo, maka sekilo biji kopi mencapai harga Rp 150 ribu perkilogram. Sama seperti saat ini. Jika per kilo beras seharga Rp 10 ribu maka kopi mencapai harga Rp 30 ribu perkilo.

Saya mendapati, cerita Inaq belum terlalu tua untuk menjawab pertanyaan awal saya tentang tradisi menyugukan kopi. Sebab, peristiwa-peristiwa yang diceritakannya secara acak terjadi berkisar pada tahun 1950-sampai 1970an.

Inaq menceritakan tentang Papuk Nine (nenek saya) bersama saudarinya yang menjadi pedagang dari pasar ke pasar di wilayah utara sampai ke selatan (wilayah pesisir) tentang langganan pemasok gula merah dan biji kopi dari desa Kekait Lombok Barat, daerah yang saat itu hanya dapat ditempuh dengan kendaraan yang datang sekali dalam sehari melewati jalan raya di desa kami.

Cerita tentang dua bersaudara Papuk Nine, sebagai pedagang adalah cerita yang faktanya kami dapati sendiri sejak kecil, semasa mereka masih hidup. Dalam hal ini, saya belum menemukan referensi lain tentang siapa pedagang lintas wilayah dari kampung kami yang lebih senior dari mereka yang akan berkisah tentang perjalanan biji kopi.

Menarik benang merah simpulan biji kopi yang beredar di kampung kami kala itu berasal dari wilayah a�?Dayen Gununga�? begitu kami menyebut daerah-daerah di Utara yang lebih dekat dengan kawasan Rinjani. Dari sana cerita biji kopi bertukar dan dipertukarkan.

Inaq Kake (saudari Ibu yang lebih tua) kepadanya saya mengorek kembali cerita tentang kopi di kampung kami. Berharap dari kenangannya tentang a�?tradisi ngopia�? yang ia ingat pada masa kecilnya. Bahwa Kopi adalah jenis suguhan yang a�?istimewaa�? untuk orang istimewa di kampung kami. Hanya bagi mereka yang pandai mengaji, sudah khatam membaca Alquran, dan sekaligus menjadi guru ngaji di kapung kami, kepada merekalah kopi disajikan.

Orang-orang yang disebut Inaq kebanyakan adalah laki-laki. Oleh karena mereka adalah guru ngaji mereka sering nampak berkopiah sepanjang hari. Mereka dipanggil Tuan Guru, Kiyai, Datok. Rata-rata adalah pendatang yang tadinya mukim di wilayah Lombok Timur, atau bahkan orang dari kampung kami belajar tentang ilmu agama ke sana.

Masa itu terdapat semacam kode etik di kampung kami tentang kopi juga dinikmati oleh tingkat usia tertentu. Anak-anak, remaja yang belum menikah tidak diperkenankan minum kopi. Begitupun perempuan, sangat jarang terlihat minum kopi. Bahkan dianggap tabu apalagi ketika sedang mengandung. Sebab, ada mitos ibu hamil yang minum kopi, kulit anaknya akan gelap.

Kisah masuknya biji kopi, peramu dan penikmat kopi di kampung kami memang tak ada dalam catatan siapapun. Penyebarannya serupa endemik yang tak diketahui pasti siapa penyebar awal. Sebab, selain kisah tentang biji kopi, dan penikmat kopi yang membuat saya penasaran. Ketika masa kecil di kampung, saya mengigat pernah ada dua orang perempuan yang menjadi spesialis pengolah kopi. Kepadanya orang di kampung membayar jasa tumbuk menggunakan lesung dan alu. Jauh masa sebelum mesin penggiling kopi ada.

Lambat laun, di era tahun 80 sampai 90-an biji kopi yang telah diolah menjadi bubuk hitam cukup mudah ditemui di acara gawe kampung. Menyugukan kopi bagian dari penyambutan, menerima tamu, pencair suasana menjadi pembuka percakapan, simbol keintiman relasi sosial antar masyarakat. Sebagaimana tradisi di daerah lain misalnya di Sumba suguhan makan sirih pinang menjadi tradisi menyambut tamu.

Ada istilah yang sering saya dengar a�?ketoak pengupia��ma�? (cara mengopimu cukup tua) semacam kalimat a�?intrupsia�? bahwa ada kelasifikasi usia. Dari rangkaian masa ke masa, cerita tentang kopi di kampung kami seolah menyiratkan banyak makna dan peristiwa. Sebagai simbol religiusitas, kelas sosial, mitos, sumber daya, sekaligus cara lain masyarakat kampung kami menghormati ilmu pengetahuan.

Zaman begitu cepat berubah seiring dengan itu ruas jalan beraspal, alat transportasi yang semakin padat, toko dan warung dimana-mana. Televisi setiap detik menyajikan iklan. Manusia semakin memuja barang instan sebagai penyanding makna a�?efektif dan efisiena�?.

Begitu pula dengan banjir merek kopi instan, dijual kiloan juga sachet sudah ditakar untuk satu gelas saji. Semua itu kini semakin akrab dengan semua penikmat kopi dari kalangan siapa saja; tua-muda, laki-perempuan, guru-murid, dan lain sebagainya.

Dan tulisan ini, sesungguhnya bagian pendek dari sesuatu yang lebih panjang untuk menuliskan tentang tradisi minum kopi adalah cara lain untuk menceritakan tradisi kampung kita yang pastinya akan berbeda. Tulisan ini sekaligus dipersembahkan kepada almarhum Papuk yang mengisyaratkan kopi sebagai proses hidup dan ngopi menjelang ajal sebagai sesuatu yang elegan. (r8)

Berita Lainnya

Hari Kartini dan Wajah Pribumi

Redaksi Lombok Post

Ragam Seragam

Redaksi Lombok post

Job, Non Job and Jobs

Redaksi Lombok post

2017

Redaksi Lombok post

Musibah

Redaksi Lombok post

Mengulang Tahun

Redaksi Lombok post

Seratus Tahun Nyala Tungku

Redaksi Lombok post

Mengerjakan Rencana

Redaksi Lombok post

Between

Redaksi Lombok post