Lombok Post
Metropolis

Semua Berawal dari Luka Siswanya Akibat Beling

boks
PEMECAH BELING: Siti Raudah (kiri) menunjukkan kerja alat pemecah beling miliknya pada pengunjung stan TTG, kemarin (24/11).

Beling dianggap benda tak berguna. Bahkan, mungkin berbahaya. Tapi jika sudah bersentuhan dengan alat ini, beling justru bisa bernilai tinggi. Berikut laporannya.

***

LetaknyaA� bukan di stan utama pameran Teknologi Tepat Guna (TTG) tingkat Nasional 2016 yang sedang digelar di komplek Islamic Center, NTB. Sangat tidak strategis. Namun, pesonanya tidak pudar.

Meski berada di pojok sebelah barat jalur masuk stan utama, stan milik wanita 56 tahun ini, tetap dicari. Di tengah stan berdiri sebuah alat besar dengan dua buah kotak plastik dan dua buah kotak besi.

Keempatnya ada di depan, tengah, kiri, dan kanan bagian bawah depan mesin. Di keempat kotak tersebut berisi serpihan kaca. Mulai dari serpihan kaca besar, sedang, kecil, hingga serpihan halus.

Di stan tersebut duduk seorang wanita paruh baya bersama dua remaja yang menggunakan seragam sekolah. Tak ada yang menyangka. Tampilannya sangat sederhana.

Wanita paruh baya ini merupakan pemilik sekaligus pencipta alat tersebut. Namanya Siti Raudah.

Ketika Lombok Post menghampirinya, ia terlihat bersemangat. Kemudian bercerita tentang karyanya berupa mesin pemecah beling.

Raudah, bukanlah seorang sarjana teknik. Dia sarjana pendidikan konseling. Namun ia berhasil menciptakan sebuah alat yang mengundang perhatian banyak orang. Termasuk Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi dan Menteri Desa Eko Putro Sandjojo.

“Semua berawal dari siswa saya yang terluka kena beling,a�? katanya memulai cerita pada Lombok Post.

Empat tahun yang lalu. Guru Konseling di SMP 1 Mataram ini termotivasi oleh rasa prihatin. Terlalu banyak beling yang dibuang sembarangan. Terutama di sungai-sungai. Dan beling2 itu sangat membahayakan manusia.

Ia pun berinisiatif mengumpulkan beling-beling itu. Ia rela menyusuri sungai untuk mengumpulkannya. Selain itu ia juga sengaja membeli dari orang lain. “Daripada dibuang dan membahayakan,a�? ujar wanita berjilbab ini.

Akhirnya ia berhasil mengumpulkan hingga lebih dari 10 karung beling. Namun saat itu ia belum menciptakan alat pemecah beling seperti sekarang. Ia masih menggunakan cobek.

Beling tersebut diulek perlahan hingga halus. Serbuk yang dihasilkan kemudian diteliti. Ia menemukan kegunaan lain dari serbuk tersebut.

“Salah satu kegunaannya, dapat diciptakan menjadi benda baru yang cantik,” ungkapnya.

Selang beberapa lama, ia mulai menggunakan alat sejenis dengan gelondongan emas. Namun hal ini tidak bertahan lama. Alat ini justru menimbulkan bising. Lama kelamaan alat itu juga mulai berlubang. “Saya kemudian merasa tertantang meneliti alatnya,a�? beber Raudah.

Ia pun mulai meneliti kekuatan pental beling pada besi tersebut. Ternyata hanya baja yang kuat menahan pentalan tersebut. Baja tidak akan berlubang dihantam tajamnya beling itu.

Tak menunggu lama, ia pun menemui tukang di Kelurahan Babakan Mataram. Desain miliknya pun diberikan pada tukang tersebut untuk dikerjakan.

“Terciptalah mesin pembelah beling. Semuanya dari baja,” sambung wanita lima anak ini.

Hasilnya lumayan. Namun belum sempurna. Penelitian pun belum berakhir. Raudah memeras otak lagi. Beberapa perbaikan dalam mesin ciptaannya akhirnya membuat hasilnya semakin sempurna.

Namun, ketika masalah alat bisa terselesaikan, masalah baru muncul lagi. Stok beling yang dimiliki tidak sesuai harapan.

Raudah kemudian berkeliling mencari beling. Tidak hanya dari rumah ke rumah, tapi toko kaca pun didatangi. Di toko kaca, ia bertanya tentang limbah beling yang dihasilkan.

Para pemilik toko mengaku membuang beling di luar Kota Mataram. Mereka menyewa sebuahA� lahan tempat penimbunan limbah itu. a�?Mereka buat sumur dan limbah kaca dibuang ke situ,a�? tuturnya.

Informasi ini semakin memotivasi Raudah. Ia kemudian menjalin komitmen dengan pemilik toko. Semua limbah beling akan ia beli.

Niat Raudah ditanggapi dengan sangat baik. Bahkan, pemilik toko siap mendrop limbah kaca tanpa dibeli. Artinya, Raudah tisak perlu merogoh koceknya. Beling didapatkan secara gratis.

Toko-toko kaca itu malah merasa beruntung karena tak perlu mengeluarkan biaya untuk membuang limbah. Sementara Raudah, beruntungA� mendapat bahan baku gratis. Kerja sama yang memang saling menguntungkan.

Raudah menuturkan tata cara kerja mesin tersebut. Beling dimasukan ke dalam alat itu. Dalam prosesnya, alat akan memilah beling menjadi empat jenis. a�?Semua akan keluar di tempatnya masing-masing,a�? imbuhnya.

Hal ini terus dilakukan hingga memperoleh serbuk halus beling. Setelah jadi serbuk halus, ia menggunakan raisin dan campuran pewarna. Adonan beling tersebut dipindahkan ke dalam cetakan yang telah berbentuk.

Setelah itu, ia kembali campur dengan serbuk batu apung. Ini untuk membuat serat. Ia menggunakan sapu lidi. Ia juga memberi sedikit katalis dengan perbandingan 6:2. a�?Tidak boleh terlalu banyak katalis,a�? kata Raudah

Adonan diaduk hingga serbuk batu apung turun.A�10 menit kemudian, cetakan kering lalu dilepas. Hasilnya mengkilap tanpa dibersihkan.

Beling ini diubah menjadi meja makan, meja rias, batako, dan lainnya.A� Seperti yang ia pamerkan di stan TTG miliknya. Hal ini benar-benar menarik perhatian pengunjung.

Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi saat mampir di stannya berpesan agar Raudah tetap berkarya. Orang nomor satu di NTB ini bahkan tertarik dan ingin melakukan pertemuan lebih lanjut dengannya.

Tak hanya Gubernur, Menteri Desa Eko Putro Sandjojo pun ikut memuji alat buatan Raudah. Menurutnya, alat Raudah ini sangat bagusA� untuk menangani masalah limbah beling.

a�?Ini merupakan alat pertama di NTB, bahkan di Indonesia,a�? pungkas wanita yang juga merupakan Pembina Karya Ilmiah Siswa di SMPN 1 Mataram ini.

Tak hanya itu, beberapa provinsi tertarik dengan alatnya tersebut. Empat diantaranya langsung memesan. Yakni Papua, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu, salah satu pondok pesantren di Lombok Timur juga ikut tertarik memesan alat tersebut.

Ponpes tersebut ingin menggunakan alatnya untuk melatih santri. Sehingga saat lulus mereka memiliki keahlian dan bisa membuka lapangan kerja sendiri.

Raudah setuju dan bahkan berniat mengutamakan ponpes tersebut. a�?Ini merupakan amal saya untuk mereka,a�? tandas wanita yang telah menerima piagam lingkungan dan konseling tingkat nasional ini. (FERIAL AYU, Mataram/r5)

Berita Lainnya

Liburan ke Pantai Penghulu Agung Ampenan Juga Asyik Loo..!!

Redaksi LombokPost

Hasil Produksi Langsung Dibeli Pengusaha

Redaksi LombokPost

DBD Bisa Jadi Ancaman Serius Pengungsi

Redaksi Lombok Post

Ahyar Tidak Puas dengan Hasil CPNS

Redaksi Lombok Post

PLN Luncurkan Layanan Satu Pintu

Redaksi Lombok Post

Hanya Ngebut di Depan Jokowi, Perbaikan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi Lombok Post

Nuril pun Menangis, Aksi Bela Nuril Terus Mengalir

Redaksi Lombok Post

Ahyar Bakal Evaluasi Muslim

Redaksi LombokPost

UMK Jadi Pertimbangan Kenaikan Upah Honorer

Redaksi LombokPost