Lombok Post
Metropolis

Listriknya dari Lilin, Miliki Banyak Fungsi

boks
CHARGER FIRE: Aep Saefuddin Arif, siswa SMK 3 Bondowoso Jawa Timur menunjukkan teknologi charger fire miliknya di stan TTG, kemarin (25/11).

Selama ini orang mengandalkan listrik dari PLN. Namun tidak semuanya. Seorang remaja asal Bondowoso punya solusi menghasilkan listrik murah meriah.

***

StanA� pameran Kabupaten Bondowoso di arena pameran Teknologi Tepat Guna (TTG) yang digelar di Jalan Udayana menarik banyak pengunjung. Di stan ini dipajang Charger Fire. Apakah itu?

Charger biasanya identik dengan sebuah benda yang mampu menurunkan arus listrik. Benda ini digunakan untuk mengecas sejumlah peralatan elektronik. Namun ada kata a�?firea�� dalam charger di stan ini.

Terciptanya charger ini berawal dari hobi Aep Saefuddin Arif, seorang siswa SMK 3 Bondowoso, yang senang menelusuri alam. Ia senang pergi ke hutan, pegunungan, dan tempat unik lainnya.

Setiap kali melakukan perjalanan, ia selalu terkendala keberadaan listrik. Sangat susah mendapatkan akses listrik. Khususnya di daerah terpencil dan pegunungan. Bahkan power bank pun tidak cukup sebagai cadangan listrik.

a�?Power bank hanya bertahan sehari atau dua hari, jika seminggu akan sangat susah,a�? aku siswa jurusan otomotif ini.

Setelah pulang dari suatu perjalanan, ia pun berkonsultasi dengan salah seorang guru di sekolahnya. Dari diskusi panjang itu terbersit ide menciptakan sebuah alat sederhana, charger fire.

Namun charger ini bukan sembarangan charger. Sumber tenaganya bukan dari listrik, melainkan api.

Menurut Aep, setiap pecinta alam pasti akan selalu membuat api untuk keperluan mereka. Dari sisilah, Aep lantas berfikir bagaimana menjadikan api sebagai sumber listrik. Inilah inti dari charger fire buatannya.

Ia menuturkan sistem kerja dari charger fire tersebut. Dalam ilmu elektronika terdapat komponen vertikal, yakni positif dan negatif. Komponen positif jika diberikan panas maka akan menghasilkan energi listrik.

Dalam komponen tersebut terdapat beberapa alat. Seperti konsistor, stabilizer, dan soket USB. Komponen tersebut menghasilkan input hingga 6 volt. Namun diturunkan menjadi 5 volt oleh stabilizer.

Jumlah tersebut aman dan tidak akan menimbulkan kerusakan alat. Di bawah alat yang berbentuk kotak ini, terdapat sebuah lilin cukup besar. Lilin inilah yang memberi panas yang berubah menjadi listrik.

a�?Ukuran lilinnya berapapun itu, tidak ada patokan,a�? sambungnya.

Tak perlu khawatir dengan alat ini. Meski menggunakan api, alat tidak akan meledak. Sebab telah distabilkan oleh stabilizer. Alat mengatur sendiri kadar listrik yang dihasilkan.

a�?Tidak akan terjadi kebakaran,a�? akunya.

Ia menambahkan, alat ini telah dibuat sejak tiga tahun yang lalu. Banyak orang di daerahnya menggunakan alat tersebut. Sebab alat ini sangat membantu ketika listrik padam. Per alat tersebut dijualnya seharga Rp 150 ribu.

a�?Dari awal TTG ini saja sudah dua puluh lebih orang yang memesan,a�? pungkasnya.

Hebatnya, alat ini juga berhasil menjadi juara dua dalam kompetsi teknologi di ITB pada tahun ini. a�?Selain buat ngecas handphone, alat juga bisa untuk penerangan,a�? tandasnya.

Dia akan berupaya lebih menyempurnakan alat ini. Sehingga bisa lebih praktis dan tentunya bisa memberi manfaat lebih besar. (FERIAL AYU, Mataram/r3)

Berita Lainnya

2.368 Formasi CPNS Bakal Lowong

Redaksi Lombok Post

EMAS HITAM DARI NTB

Redaksi Lombok Post

Liburan ke Pantai Penghulu Agung Ampenan Juga Asyik Loo..!!

Redaksi LombokPost

Hasil Produksi Langsung Dibeli Pengusaha

Redaksi LombokPost

DBD Bisa Jadi Ancaman Serius Pengungsi

Redaksi Lombok Post

Ahyar Tidak Puas dengan Hasil CPNS

Redaksi Lombok Post

PLN Luncurkan Layanan Satu Pintu

Redaksi Lombok Post

Hanya Ngebut di Depan Jokowi, Perbaikan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi Lombok Post

Nuril pun Menangis, Aksi Bela Nuril Terus Mengalir

Redaksi Lombok Post