Lombok Post
Oase

Sampah-sampah Virtual

Zulhakim

MUSIM pemilu yang gaduh kerap menghasilkan sampah. Massa yang berkampanye di alun-alun menyisakan bekas baliho, spanduk hingga tumpukan sisa nasi bungkus. Ini belum termasuk stiker-stiker yang dipasang tanpa izin di pagar rumah kita, tiang telepon, hingga gardu listrik.

Lebih dari itu muka-muka politisi beserta janji-janjinya sering muncul di bando jalan hingga sudut-sudut taman kota yang semestinya tenang. Kehadirannya merampas hak warga menikmati keindahan. Boleh jadi ini sejenis polusi visual di ruang-ruang publik A�yang mengganggu pandangan warga.

Terlebih ketika Pilkada berbarengan dengan musim hujan seperti ini. Sampah kerap dijadikan senjata untuk menjatuhkan lawan politik. Sampah yang menyumbat got dan menenggelamkan permukiman adalah simbol ketidakbecusan tata kelola kuasa calon petahana. Salah siapa? sampah atau hujan?

Tapi selain sampah berbentuk fisik, musim pilkada maupun pemilu A�kerap menghadirkan sampah dalam bentuk lain yang tak kalah menjengkelkannya. Bahkan varian ini tak bisa ditanggulangi oleh gabungan dinas kebersihan dan Pol PP sekalipun. Sampah dunia maya.

Di musim pilkada begini, sampah virtual mengalir deras dalam bentuk teks berita palsu, kabar-kabarA� kedaluarsa, meme, gambar hingga video. Tak seperti sisa pamflet capres yang hanya sampai di pagar rumah, a�?kotoran digitala�? ini menerobos masuk ke ruang-ruang pribadi lewat smartphone yang kita bawa, laptop di ruang kerja bahkan TV, Radio hingga koran di ruang tamu.

Tapi, saluran terbesarnya apalagi kalau bukan media sosial semacam Facebook, Twitter dan sejenisnya. Medsos menjadi medan perang dalam merebut hati pemilih. Perang citra kerap melibatkan buzzer dengan pasukan akun fiktif dengan ragam berita palsu. Ada juga berita pelintiran, polesan hingga fintah yang disebarluaskan selama musim kampanye.

Masih hangat dalam ingatan bagaimana perseteruan dua kubu pendukung Capres di pemilihan presiden lalu. Caci maki, sumpah serapah, dukung mendukung membanjiri lini massa.A� Tapi setelah Pilpres berlalu, semua itu menjadi barang bekasA� yang sebagian masih bisa kita lihat di tong sampah virtual terbesar bernama Mbah Google.

Kelak para pemulung setia akan kembali A�menyortir sampah-sampah informasi ini sesuai kebutuhan. Semisal buat mengkritisi pemerintahan berkuasa atau jadi tabungan a�?fitnaha�?A� buat membuli Jokowi jika kelak dia nyapres lagi. Rasanya pola serupa juga kini terasa ketika Pilkada DKI. Kubu-kubu jelas terlihat terutama yang simpati dan anti pada Basuki.

Fenomena sebaranA� berita palsu maupun polesan melalui media sosial ini tak hanya terjadi di negara-negara dunia ketiga macam Indonesia. Pilpres Amerika beberapa pekan lalu buktinya. Marketwatch.com (8/11) kemarin melansir sepanjang A�Januari-Oktober tahun ini sekitar 110 juta warga Amerika terlibat debat secara online terkait pilpres. Sementara itu Foxnews (12/11) menyebut di hari pencoblosan terdapat sekitar 115.3 juta jamaah Facebook mengirim 716,3 juta posting, likes dan komentar berkaitan dengan Pilpres.

Kemunculan Donald Trump dengan gagasan nyeleneh bin rasial dalam pemilu tersebut turut mendongkrak sebaran kebencian, hasutan dan lainnya. Hasilnya dapat kita lihat setelah perhitungan pemilu diumumkan, warga Amerika terbelah. Bahkan bayak dari mereka akhirnya mengakhiri pertemanan a�?unfrienda�? di media sosial.

Boleh saja Mark Zuckerberg kemudianA� bela diri dengan menyebut berita-beritaA� bohong di FB tak berpengaruh banyak pada hasil Pilpres Amerika 2016 ini. Tapi A�kubu Presiden Obama sebagai pihak yang kalah merasakan betul pengaruh sebaran berita palsu ini.

Karena itu ia dan kanselir Jerman,A� Angela Merkel seperti dilansir New York Times (17/11) lalu sama-sama meminta FB mencari formulasi untuk meminimalisir sebaran fitnah-fitnah online ini. A�Seliberal-liberalnya Amerika akhirnya mereka bisa gerah juga dengan produk kebebasan lalulintas informasi yang mereka promosikan.

Bagaimana dengan di Indonesia? Sampah-sampah informasi ini juga sama mengkhawatirkannya. Boleh jadi kemarahan sebagian umat Islam dalam unjukrasa 4/11 lalu A�takkan terjadi andai A�komentar Basuki di Pulau Seribu tak diunggah ke media sosial.A� Lekas, komentar ini bergulir dibumbui, dikecapi dan disajikan dalam berbagai varian informasi di jejaring sosial.

Hasilnya dapat kita cicipi saat ini. Kegaduhan yang melelahkan, menyebar kemana-mana. Dari sekedar persaingan Pilkada, melebar jadi isu sara, ekonomi, hukum dan perebutan kuasa. Yang paling kasihan siapa lagi kalau bukan Mas Joko. Dia kebagian getah nangka yang belum ia kunyah. Terakhir, Ia merasa isu tersebut ditunggangi kelompok tertentu buat mengganggu kursinya di istana.A� Tapi, soal benar tidaknya kabar makar ini hanya Mas Joko lah yang tahu.

Kehadiran sampah virtual ini memang tak bisa dihindarkan. Informasi memang merupakan barang yang paling cepat basi. Tapi kebebasan informasi menemukan muaranya disini. Era media sosial telah meruntuhkan dominasi media massa konvensional dalam memonopoli arus informasi. Berita tidak lagi satu arah, tapi transaksional dan menyebar kemana-mana. Orang bebas memilih informasi yang sesuai seleranya, mengutip, memelintir dan menyebar luaskan tanpa harus percaya pada TV ini dan Koran itu.

Bayangkan dalam sekian jam Anda bisa membuat ribuan akun palsu, website musiman hingga ragam blog abal-abal dalam berbagai isi dan tampilan. Soal kebenaran materi yang disiarkan jadi nomor sekian. Alhasil lini massa jadi demikian berisik dan gaduh oleh sampah-sampah informasiA� yang sulitA� diverifikasi kebenaranya seperti saat ini. Ya seperti saat ini!

Jadi ketika sampah bikin kita jadi gaduh begini salah siapa?A� pembuat sampah, penyebar sampah, atau pemakan sampah? Entahlah. !!

* Penulis : Zulhakim, tinggal di Ampenan.

Berita Lainnya

Romantisme Rampok

Redaksi Lombok post

Mayoritas yang Minoritas

Redaksi Lombok post

Basuki, Trump, dan Mas Joko

Redaksi Lombok post

Sihir Tembakau

Redaksi Lombok post

Mengenang 1965

Redaksi Lombok Post

Dewi Anjani dan Google

Redaksi Lombok post

Tuah Tanah Haram

Redaksi Lombok Post

Merindu Tanah Suci

Redaksi Lombok Post

Menimbang Pahlawan

Redaksi Lombok Post