Lombok Post
Headline Kriminal

Mendulang Rupiah dari Obat Ilegal

TANPA IZIN: Ratusan ribu obat dan kosmetik tanpa izin edar yang disita polisi dan BPPOM dari sejumlah lokasi di NTB, belum lama ini.

Pengungkapan jaringan penjualan obat keras jenis Tramadol tanpa izin seperti membuka kotak pandora gurita bisnis haram para penjual obat di NTB. Yang terbaru, praktek ini justru A�dilakukan orang-orang yang mempunyai apotek dengan izin resmi dari Dinas Kesehatan (Dikes).

***

Seperti yang dilakukan DS (inisial), pemilik Apotek SF di Monggonao, Kota Bima. Dalam penggerebekan yang dilakukan polisi bersama Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM), pertengahan November ini, petugas menemukan ratusan ribu obat tanpa izin edar.

Obat tersebut antara lain pereda rasa sakit, seperti Somadril dan Trihexyphenidil. Ada pula obat batuk dextromethorphan, serta obat-obatan yang mengandung misoprostol (cytotec). Nama obat terakhir, biasa digunakan untuk tindakan aborsi.

Sadar obat-obat yang ia miliki dilarang peredarannya, DS melakukan penjualan dengan cara diam-diam. Seluruh obat yang kerap disalahgunakan, pun tidak ia tempatkan di apotek. Melainkan ia simpan di rumahnya.

Karena itu, saat polisi menggeledah kediamannya, sebanyak 1880 tablet psikotropika, 125 ribu lebih obat keras, dan 36 ribu lebih obat tanpa izin edar, disita. Saat ditanya petugas, DS mengaku obat-obat tersebut dikonsumsi anak-anak dan remaja.

Kepala Dinas Kesehatan NTB Nurhandini Eka Dewi mengatakan, apa yang dilakukan DS sungguh merusak. Bagaimana tidak, obat-obatan tidak memiliki izin edar malah ia jual dengan bebas.

a�?Dia ini kan punya niat, sengaja menjual. Padahal tahu aturannya kalau itu dilarang,a�? kata Nurhandini.

Pelaku pun cukup cerdik dalam menghindari pengawasan petugas. Setiap pengecekan yang dilakukan Dikes bersama BBPOM, petugas tidak menemukan obat illegal. Tidak terdeteksinya penjualan obat tanpa izin edar yang dilakukan DS, diduga karena ia pintar membaca pola waktu pengecekan.

Mantan Kadikes Lombok Tengah ini menegaskan, perbuatan DS merupakan pelanggaran berat. Selain menyalahi aturan, apa ya ia lakukan turut merusak kesehatan masyarakat. Terutama generasi muda. Sebab, banyak obat yang ia jual justru disalahgunakan oleh remaja dan anak-anak.

Apalagi, lanjut dia, DS melakukan penjualan obat tanpa izin edar dengan menggunakan apoteknya sebagai kedok. Sehingga, masyarakat yang membeli langsung ke apotek, yakin bahwa obat tersebut adalah legal.

a�?Kita akan tutup. Kalau tidak bisa dibina, ya lebih baik dibinasakan,a�? tegas dia.

Terpisah, persoalan pengetahuan masyarakat terhadap obat yang tidak memiliki izin edar, dirasa masih minim. Kabid Pemeriksaan dan Penyidikan BBPOM Mataram Ni Gusti Ayu Nengah Suarningsih mengakui hal tersebut.

Karena itu, BBPOM Mataram terus melakukan sosialisasi. Termasuk mengimbau masyarakat untuk pro aktif menginformasikan kepada BBPOM, apabila menemukan peredaran obat yang mencurigakan.

a�?Bisa langsung melapor ke kami, agar ditindaklanjuti,a�? kata dia.

Lebih lanjut, Suarningsih mengatakan, masyarakat bisa juga mengecek langsung setiap obat yang dibeli. Caranya, melihat Nomor Izin Edar (NIE) yang terdiri dari 15 digit kombinasi huruf dan angka.

Untuk jenisnya dan tempat penjualannya, lanjut dia, obat keras hanya dijual di apotek, obat bebas terbatas dijual di apotek dan toko obat berizin.

Misalnya, NIE obat adalah DKL6246289215A1. Nah, digit pertama menunjukkan nama dagang (D) atau generik (G). Kemudian, digit kedua menunjukkan golongan obat yaitu bebas (B), bebas terbatas (T), keras (K), psikotropika (P), dan narkotika (N).

Kemudian, digit ke tiga menunjukkan lokasi yakni obat tersebut diproduksi. A�Lokal (L) atau diimpor (I). Nah, digit 4 sampai 5 menunjukkan tahun terbitnya izin edar. Sementara digit 6 sampai 15 menunjukkan identitas produk dan produsen.

a�?Jangan lupa juga untuk mengecek kedaluwarsanya,a�? tandasnya.

Terpisah Kasubdit III Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda NTB AKBP AA Gede Agung, obat-obatan yang disita A�tersebut terdiri dari 16 item berjumlah 36.523 pieces sediaan farmasi tanpa izin edar, 1880 tablet psikotropika, 125.775 tablet obat keras, dan 951 obat tradisional tanpa izin edar. Seluruh obat tersebut, disita dari tangan DS (inisial) di Bima.

a�?Sebagian besar obat kami sita di rumah dan di apoteknya,a�? kata dia.

Menurut Agung, banyaknya barang bukti yang diperoleh petugas, mengindikasikan permintaan akan obat illegal sangat tinggi. Lebih-lebih, mudahnya akses untuk memperoleh obat-obat illegal melalui telepon pintar.

a�?Ini nilai ekonomisnya sebesar Rp 262.997.000,a�? kata Agung.(Didit/r2)

 

Berita Lainnya

Tilang Menurun, Laka Lantas Meningkat

Redaksi LombokPost

Rekanan Kembalikan Kerugian Negara

Redaksi LombokPost

Saksi Beberkan Percakapan Muhir

Redaksi LombokPost

Kartu Nikah Sebatas Wacana

Redaksi LombokPost

Dewan Pertanyakan Penyedia Panel RISHA

Redaksi LombokPost

Sepakat, UMK Mataram Rp 2.013.000

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Bangun Pendeteksi Tsunami

Redaksi LombokPost

Korban Gempa Tagih Janji Jokowi

Redaksi LombokPost

Bantuan Air Bersih Dihentikan

Redaksi LombokPost