Lombok Post
Headline Praya

Sampah Loteng Peringkat 17 Nasional

TERKESAN JOROK: Inilah tumpukan sampah di wilayah Tampar-Ampar, Praya Lombok Tengah yang terkesan dibiarkan dan merusak pemandangan, beberapa waktu lalu.

PRAYAA�– Permasalah sampah di Lombok Tengah (Loteng) semakin mengkhawatirkan. Dari data Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Loteng menempati posisi ke 17 sebagai kabupaten/kota dengan tingkat pertumbuhan produksi sampah tertinggi di Indonesia.

a�?Hal itu kami ketahui, setelah Komisi III menggelar kunjungan ke Kementerian PU, beberapa hari lalu,a�? kata Anggota Komisi III DPRD Loteng HL Arif Rahman Hakim, kemarin (28/11).

Posisi itu, diakui Arif cukup mengagetkan. Untuk itulah, pihaknya mengeluarkan rekomendasi kepada Pemkab agar menyiapkan penanganan yang lebih serius. Khususnya, dinas terkait yang akan dibentuk tahun 2017 mendatang.

a�?Bayangkan, kita di urutan ke 17 dari seluruh kabupaten/kota di Indonesia. Ini parah sekali,a�? kata politisi Partai Bulan Bintang (PBB) tersebut.

Secara kasat mata, kata Arif memang dibeberapa titik di Praya dan wilayah lain di Gumi Tatas Tuhu Trasna, sampah menjadi persoalan yang sulit diatasi. Sampah terus menumpuk, tidak saja di lahan kosong atau saluran irigasi, tapi sampai berserakan di pinggiran jalan. Potret semacam itu pun, menimbulkan kesan jorok dan kotor.

Selain kesadaran masyarakat yang rendah minimnya fasilitas tempat pembuangan sampah (TPS) dianggap memperburuk keadaan. Pemkab hanya menyediakan tempat sampah di perkotaan Praya saja. Sedangkan, di desa/kelurahan di kecamatan lain, tidak ada. Sementara mobil pengangkut sampah tidak mampu menjangkau wilayah pedesaan, karena keterbatasan jumlah.

a�?Sehingga, wajar saja kalau laju pertumbuhan sampah kita tinggi. Saya tidak tahu kalau di Kota Mataram atau kabupaten/kota lain di NTB,a�? ujarnya.

Jika tak ditangani serius, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Desa Pengegat, Pujut dirasa tidak akan mampu menampung sampah yang kian bertambah. A�A�A� Di APBD murni tahun 2017 mendatang, kata Arif Pemkab hanya mengusulkan anggaran untuk mengatasi persoalan tersebut, hanya Rp 5,7 miliar.

a�?Kami minta, agar masalah sampah ini ditangani khusus, pendekatan khusus dan anggaran khusus,a�? ujarnya.

Senada dikatakan Ketua Komisi III DPRD Loteng M Humaidi. Dikatakannya, laju pertumbuhan sampah di Loteng sebanding dengan laju pertumbuhan penduduk dan pemukiman penduduk. Sehingga, penilaian yang dibeberkan Kementerian PU tidak bisa dibantah lagi.

a�?Intinya, kalau kita tidak menangani secara serius, maka bisa menjadi musibah,a�? cetus politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu, terpisah.

Yang perlu dipikirkan dan dilaksanakan saat ini, usul Humaidi Pemkab segara menyiapkan kebijakan reduce, reuse and recycle (3R). a�?Sebaliknya, kalau dibuang semua, maka tidak sampai 10 tahun TPA Pengengat penuh,a�? katanya.(dss/r2)

Berita Lainnya

Nahas, 11 Penumpang Pikap Terjatuh, Dua Tewas

Redaksi LombokPost

Kelelahan, Enam PPS Tumbang

Redaksi LombokPost

PSU Rentan Money Politic

Redaksi LombokPost

Kinerja Dewan Mengecewakan, Pembahasan Raperda Sangat Minim

Redaksi LombokPost

Pemerintah Sosialisasi Pembangunan Jalan LIA-KEK

Redaksi LombokPost

Job Fair Sediakan 5.255 Lowongan

Redaksi LombokPost

Sarankan Pelatihan Singkat untuk Pekerja KEK Mandalika 2020

Redaksi LombokPost

Loteng Termasuk Pengirim TKI Illegal Terbesar

Redaksi LombokPost

Telkomsel Optimalkan Jaringan di Lebih dari 1.400 Titik Penting

Redaksi Lombok Post