Lombok Post
Metropolis

Warga Ultimatum PLN

galian
SUMBER MASALAH: Inilah galian kabel bawah tanah PLN yang dipermasalahkan warga Jalan Arya Banjar Getas, kemarin(28/11).

MATARAM – Masyarakat di Jalan Arya Banjar Getas marah. Mereka kecewa dengan proyek galian bawah tanah milik PLN yang memberi banyak kerugian bagi masyarakat. a�?Kami mau PLN bertanggung jawab,a�? tegas Heri Santoso, kemarin(28/11).

Dia adalah salah satu warga yang mengaku rugi besar atak kebobrokan PLN. Berbulan-bulanA� jalan di depan tempatnya usaha tertutup galian PLN. Akses masuk tak ada, sehingga bengkel las miliknya sepi order.

Jika dulunya bisa mengantongi dua juta rupiah dalam sehari, kini paling banter hanya Rp 700 ribu saja. “Seenaknya saja PLN ini,a�? katanya.

Dia makin kesal lantaran semenjak proyek dimulai hampir setahun lalu, tak pernah ada pemberitahuan. Tiba-tiba dilakukan penggalian. Material sisanya lantas dibiarkan berserakan di halaman tempatnya berusaha. Mobil-mobil proyek juga diparkirkan di tanah miliknya. a�?Ini kontraktor abal-abal,a�? katanya marah.

Mewakili ratusan masyarakat Jalan Arya Banjar Getas yang dirugikan, ia menuntut keadilan. PLN menurutnya harus bertindak cepat terhadap kontraktor yang dianggap tak becus. Ketidakbecusan dalam bekerja itu tampak dari proyek yang sudah berjalan begitu lama.

“Kalau sekadar gali seperti ini, orang Lombok lebih pintar. Buat apa pakai kontraktor tak jelas itu,a�? kritiknya.

Tak terhitung sudah jumlah kerugian masyarakat. Selain usaha-usaha yang terganggu, jalan juga dibuat macet. Sejumlah kecelakaan juga terjadi. Itu belum termasuk kerusakan jalan yang tak kunjung diperbaiki. a�?Kami beri waktu PLN 2X24 jam untuk memperbaiki ini semua,a�? tegasnya.

Dalam kesempatan itu, ia dan seluruh masyarakat Jalan Arya Banjar Getas sudah berencana membawa kasus tersebut ke ranah hukum. Jika tak kunjung ada penjelasan dan perbaikan, mereka siap melawan. “Kami tidak anti pembangunan, tapi bukan begini caranya,a�? katanya.

Hingga kini, hampir setahun proyek berjalan, tak pernah ada satu orang utusanpun yang memberi permakluman pada masyarakat. Setiap kali bertanya pada pekerja di lapangan, semua kompak dengan jawaban tidak tahu. a�?Harusnya ada kompensasi, tapi ini, permakluman pun tak ada,a�? katanya.

Kepada Pemkot Mataram, ia juga meminta tak menutup mata. Masyarakat mensinyalir ada ketidakberesan Amdal dalam proyek tersebut. Satpol PP yang diam tak bertindak juga dikritisi. a�?Giliran usaha kami melanggar langsung ditertibkan, ini yang jelas salah malah dibiarkan,a�? ketus Ali, warga lainnya.

Sikap diam pemerintahan H Ahyar Abduh menurutnya pantas dipertanyakan. Ketika ada proyek besar yang jelas-jelas merusak sarana jalan, mengganggu ketertiban masyarakat, merugikan usaha rakyat, tak ada tindakan yang dilakukan. a�?Wajar kami bertanya-tanya, jangan-jangan ada sesuatu,a�? sindirnya.

Pemerintah menurutnya harus ada di samping rakyat. Berbuat untuk kepentingan rakyat. Bukan mendiamkan penderitaan yang mereka rasakan berbulan-bulan. a�?Kami sudah bosan, sekarang kami persiapkan langkah hukum untuk kontraktor itu, kalau perlu PLN dan Pemkot Mataram juga kami soal,a�? ujarnya.

Sebelumnya PLN NTB melalui Deputi Manager Hukum dan Humas Fitriah Ardiana hanya bisa memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan masyarakat. Selain permintaan maaf, tak ada kata lain yang ia ucapkan terkait proyek yang dikeluhkan masyarakat di Jalan Arya Banjar Getas, termasuk masyarakat di Jalan Energi dan Saleh Sungkar tersebut.

“Karena itu kami mohon maaf jika perjalanan terganggu,a�? ucapnya. (yuk/r5)

Berita Lainnya

Jabatan Muslim Dievaluasi

Redaksi LombokPost

Janji Manis Jadup Bernilai Rp 4,58 M

Redaksi LombokPost

2.368 Formasi CPNS Bakal Lowong

Redaksi Lombok Post

EMAS HITAM DARI NTB

Redaksi Lombok Post

Liburan ke Pantai Penghulu Agung Ampenan Juga Asyik Loo..!!

Redaksi LombokPost

Hasil Produksi Langsung Dibeli Pengusaha

Redaksi LombokPost

DBD Bisa Jadi Ancaman Serius Pengungsi

Redaksi Lombok Post

Ahyar Tidak Puas dengan Hasil CPNS

Redaksi Lombok Post

PLN Luncurkan Layanan Satu Pintu

Redaksi Lombok Post